Peredaran Narkotika Masih Gempur Kalimantan Barat, Kapolda: Kalbar Harus Zero Narkoba

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 445

Peredaran Narkotika Masih Gempur Kalimantan Barat, Kapolda: Kalbar Harus Zero Narkoba
KONPERS - Kepolisian Daerah (Polda) bersama BNNP Kalbar menggelar konferensi pers, terkait pengungkapan kasus narkotika di Kalimantan Barat di Balai Kemitraan Polda Kalbar, Selasa (10/7) pagi. (SP/Anugrah)
Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono
"Oleh karenanya, kita diberikan tanggungjawab oleh negara, kita harus berantas tuntas sampai benar-benar zero narkoba di Kalimantan Barat ini."

PONTIANAK, SP - Kepolisian Daerah Kalimantan Barat bersama BNNP Kalbar masih terus mengungkap kasus narkotika di wilayah Kalimantan Barat, dengan berbagai modus. Selama bulan April, Mei dan Juni 2018, telah diamankan setidaknya 20 kilogram sabu, 2000 butir ekstasi dan 4000 keping happy five, dari 10 TKP berbeda.

Hasil penangkapan ini disampaikan oleh Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono dalam pers rilis di Balai Kemitraan Polda Kalbar, Selasa (10/7) pagi.

Pengamanan pertama dilakukan pada tanggal 10 April 2018 di Jalan Ujung Pandang, Kelurahan Sungai Jawi, Kecamatan Pontianak Kota. Dalam kasus ini polisi mendapat laporan dari masyarakat terkait barang mencurigakan. 

Saat dilakukan pemeriksaan ke TKP, ditemukan benda diduga sabu seberat 2.066,61 gram dan pil diduga happy five sebanyak 3.000 keping, yang ditemukan tanpa pemilik.

Kasus kedua terjadi pada tanggal 29 Mei 2018 di Dusun Seluas, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, berhasil diamankan dua tersangka, yaitu MH dan RL. Sementara RL meninggal dunia tertembak, dikarenakan berupaya melawan dengan menabrakkan mobil ke arah petugas kepolisian. Dari penangkapan ini diamankan barang bukti 2,090 kilogram sabu, 37 butir pil ekstasi dan satu unit senjata api beserta tiga amunisi.

Kasus ketiga pada tanggal 2 Juni 2018, penangkapan dilakukan oleh Tim Subdit 1 Polda Kalbar, di Jalan Tritura, Gang Eka Sapta, Kelurahan Tanjung Hilir, Kecamatan Pontianak Timur. Diamankan empat orang tersangka, atas nama KA, WY, RM dan AM, beserta barang bukti sabu 1 kilogran. Kemudian dilakukan pengembangan hingga ke Jalan Tritura, Gang Angket dan berhasil menangkap dua orang wanita sebagai tersangka atas nama EH dan My dengan barang bukti 228 gram sabu.

Keempat pada tanggal 3 Juni 2018 dengan TKP di Bandara Supadio, diciduk seorang penumpang pesawat Lion Air tujuan Makassar atas nama HH. Dari tangan tersangka diamankan narkotika jenis sabu seberat 946,3889 gram.

Tanggal 8 Juni 2018 di Jalan Extra Joss, kantor ekspedisi JNE diamankan tiga orang tersangka yang dua di antaranya merupakan wanita, yaitu atas nama DR, NU dan MO, diamankan barang bukti sabu seberat 469,60 gram.

Tanggal 21 Juni 2018, dengan TKP di PLBN Entikong, Kabupaten Sanggau dan Terminal Batu Layang Pontianak, ditangkap dua orang tersangka atas nama YU dan SW dengan barang bukti sebanyak 3,05 kilogram sabu, 2000 butir pil ekstasi dan 1000 keping happy five.

Tanggal 27 Juni 2018 TKP Jalan Panglima Aim, Kecamatan Pontianak Timur pengembangan ke Jalan Parit H Husin I, Gang Ilham hinggal ke Jalan Dusun Senunuk, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, diamankan tiga orang tersangka atas nama EAPS, HS dan MA alias Gb. Saat dalam pengembangan MA alias GB mencoba melawan hingga dilakukan tindakan tegas dengan tembakan yang menyebabkan tersangka meninggal dunia. Dari penangkapan ini diamankan barang bukti sabu seberat 562,95 gram.

Dari keseluruhan kasus ini, diamankan sebanyak 17 orang tersangka yang terdiri dari 14 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Sementara tersangka meninggal dunia sebanyak 2 orang.

Jumlah barang bukti yang diamankan yaitu barang bukti narkotika jenis sabu sebanyak 10,41 kilogram, 2000 butir pil ekstasi dan 4000 keping happy five.

Selain itu, ditambah juga dengan penangkapan yang dilakukan oleh BNNP Kalbar pada tanggal 13 Juni 2018 di sebuah hotel, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, dengan barang bukti 3 kilogram sabu dan ditangkap dua orang tersangka.

Pada 23 Juni 2018, BNNP juga mengamankan dua orang tersangka atas nama AN dan MI di Jalan Tanjung Raya II dengan barang bukti sebanyak kurang lebih 6 kilogram sabu yang diperintah oleh tersangka di Kabupaten Sanggau atas nama JP dan satu tersangka pengendali dari balik lapas Kelas IIA Pontianak atas nama IP.

Secara keseluruhan penangkapan Polda Kalbar dan BNNP Kalbar diamankan 23 orang tersangka.

“Dari 23 tersangka ini, dapat ditangkap dan diungkap sekitar hampir 20 kilogram sabu, kemudian 2000 butir ekstasi dan 4000 keping happy five, ini dari 10 TKP, berkisar dari bulan April, Mei dan Juni,” jelas Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono, Selasa (10/7).

Didi mengatakan bahwa penangkapan ini merupakan kolaborasi dan sinergritas antara Polda Kalbar dan jajaran bersama BNNP maupun BNNK.

Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, dia juga mengatakan bahwa bahaya zat adiktif pada narkotika dapat menghancurkan satu generasi yang ada. Untuk itu, Kalbar harus zero narkoba.

Menurut dia, narkoba banyak menyasar generasi-generasi muda yang tentu akan sangat berbahaya bagi perkembangan berbangsa dan bernegara, sebagai generasi penerus kedepannya.

“Oleh karenanya, kita diberikan tanggungjawab oleh negara, kita harus berantas tuntas sampai benar-benar zero narkoba di Kalimantan Barat ini,” imbuhnya.

Di Kalbar ini, dikatakannya terdapat 2.130 desa, 174 kecamatan, maka semuanya harus zero dari narkoba. Untuk itu, dia mengharapkan adanya sinergritas dan kolaborasi seluruh komponen masyarakat dan seluruh pihak, baik itu jajaran Polda Kalbar agar bisa satu komitmen dalam pemberantasan narkotika.

Terkait narkotika jenis sabu yang semuanya masuk dari negara Malaysia, dia menuturkan hingga saat ini, pihaknya masih terus konsen terhadap kejahatan trans nasional crime, sebab di Kalbar terdapat 15 kecamatan yang berbatasan dengan Malaysia, 3 border resmi dan dua border dalam proses resmi.

Di balik itu semua, terdapat 55 jalan tikus yang harus disikapi bersama dalam mencegah, menangkap dan menangkal jaringan narkotika internasional.

Pihaknya telah menjalin sinergritas dengan TNI, Bea Cukai, Imigrasi dan lain-lainnya untuk terus berupaya mencegah masuknya narkotika.

Terkait masih adanya pengendalian narkotika dari balik lapas yang salah satunya diungkap oleh BNNP, pihaknya terus bersama melakukan pengungkapan bersama.

Berdasarkan putusan pengadilan, beberapa vonis dikenakan hukuman mati oleh pengadilan, menurutnya itu semata demi menciptakan efek jera kepada para pelaku peredaran narkotika.

“Saya rasa kita semua disini punya komitmen, zero narkoba di Kalimantan Barat. Silahkan diawasi, teman-teman media, siapapun warga masyarakat, awasi pelaksanaan tugas kami dalam pemberantasan narkoba ini,” tambahnya.

Hal itu merupakan bentuk komitmen bersama bahwa narkoba sangat berbahaya dan dapat merusak satu generasi penerus bangsa.

Sementara itu, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Lapas IIA Pontianak, Farhan Hidayat mengatakan, jumlah warga binaan pada Lapas Kelas IIA Pontianak sebanyak 948 yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dari jumlah tahanan tersebut,  75 persen adalah tahanan dengan kasus narkotika. Meraka dijaga hanya tujuh orang per harinya.

“Tapi dengan kondisi itu kita berusaha. Sekarang kita punya x-ray, jadi setiap barang itu selalu digeledah,” ujarnya.

Dia mengakui bahwa dari prosedur pemeriksaan yang ada, tidak semuanya bisa bersih. Namun, jika ada informasi dari Polda maupun BNN, terkait ada tahanan yang terlibat, maka pihaknya mempersilahkan untuk diperiksa guna pendalaman.

“Kita bekerjasama dengan Polda jika ada keterlibatan warga binaan,” imbuhnya.

Dia mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan penambahan petugas penjagaan termasuk dari tenaga CPNS baru, yakni sebanyak 48 orang. Saat ini sudah memasuki pra jabatan.

Diharapkannya dengan penambahan petugas penjagaan ini akan lebih memperketat fungsi pengawasan, terutama terkait barang-barang yang masuk ke dalam Lapas.

Mengenai alat komunikasi, pihaknya telah berusaha melakukan pemeriksaan dengan adanya alat x-ray, agar barang tersebut tidak masuk ke dalam.

“Tidak menutup kemungkinan oknum-oknum kita juga membantu,” imbuhnya.

Sejauh ini, pihaknya belum menemukan secara pasti adanya oknum yang terlibat. Jika sampai ada oknum yang terlibat, maka akan ditindak.

Namun, pihaknya akan terus berusaha untuk membersihkan Lapas dari alat komunikasi. Lapas juga telah sering melakukan razia terhadap alat elektronik tersebut.

Mengenai keterlibatan warga binaan di lapas beberapa belum dapat dipastikan, seperti informasi adanya keterlibatan tersangka narkotika asal Malaysia yang sering disebut Uncle Ong.

“Itu apakah betul-betul keterlibatannya belum tahu. Sampai meninggal tidak ada pemeriksaan lagi,” jelasnya.

Saat ini terpidana mati kasus narkotika di Lapas Kelas IIA Pontianak, dikatakannya ada 3 orang. Mengenai masih adanya warga binaan yang terlibat, hal ini menurutnya merupakan tantangan tersendiri, agar dapat mengendalikan. (rah/bob)

Sosialisasi kepada Generasi Muda

Duta Anti Narkoba Kota Pontianak, Sintabella mengatakan, bahwa tidak bisa dipungkiri jika narkotika sudah merambat kepada anak-anak muda.

Saat sosialisai, dirinya sempat menemukan ada anak SMP yang sudah mengenal narkotika.

“Kebanyakan mereka berawal dari ngelem dan sebagainya,” katanya.

Hal tersebut akan sangat disayangkan, jika generasi muda yang masih sangat belia sudah mengenal narkotika. Sebab tanpa disadari mereka merupakan harapan bangsa kedepannya.

Dalam menjalankan program, pihaknya terus melakukan sosialisasi salah satunya di wilayah CFD yang dilaksanakan setiap hari Minggu. Sebab, di kesempatan itu, banyak pengunjung dari berbagai komunitas, anak-anak dan orang dewasa yang hadir. 

Bagi anak-anak yang terlibat dengan kasus seperti ngelem dan sebagainya, pihaknya terus memotivasi agar lebih bisa berprestasi untuk menghindari hal-hal negatif seperti narkotika.

“Kami memotivasi sebagai contoh prestasi yang pernah kami raih, untuk menyemangati mereka,” imbuhnya.

Para komunitas pelajar yang ada, turut mendukung untuk melakukan sosialisasi bahaya narkoba.

Seperti salah satu kegiatan orasi anti narkoba yang dilaksanakan bersama BNN Kota Pontianak di Bundaran Tugu Digulis beberapa waktu lalu.

Sejauh ini, respon yang mereka ada yang positif dan negatif. Tetapi, kebanyakan masyarakat dan generasi muda setuju untuk malakukan stop narkoba, mengingat dampak yang ditimbulkan kedepannya sangat berbahaya. (rah/bob)

Evaluasi Kinerja Lapas


Ketua DPRD Ketapang, Budi Mateus menyayangkan kejadian ini. Menurutnya, persoalan ini harus ditanggapi serius oleh pihak Lapas baik Lapas Ketapang maupun Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM Kalbar.

"Kita berharap Kalapas beserta jajarannya meningkatkan perhatian mengenai persoalan ini, sebab setahu saya sudah beberapa kali kejadian tahanan kabur," ungkapnya.

Ia melanjutkan, perlu adanya evaluasi dan pendalaman secara serius mengenai kejadian tahanan kabur. Agar bisa didapat apa saja yang menjadi faktor penyebab mudahnya tahanan kabur dari Lapas Kelas II B Ketapang, sehingga ke depan hal-hal seperti ini bisa diantisipasi sejak dini.

"Kita minta ada evaluasi kinerja di Lapas dan ada penyelidikan serius mengenai kasus tahanan kabur. Sebab sudah sering terjadi, kita tidak tahu apakah ini tidak disengaja atau mungkin sengaja dibiarkan. Makanya harus dievaluasi. Apalagi kalau bicara personel Lapas kan sudah ada penambahan. Walaupun kurang tentu tidak menjadi alasan melemahnya pengawasan," pungkasnya. 

Tokoh masyarakat Ketapang, Yudo Sudarto meminta Kalapas Kelas II B Ketapang untuk dapat melakukan evaluasi. Menurutnya dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan sudah beberapa kali terjadi tahanan kabur.

"Tahun ini sudah dua kali sama kasus terbaru ini, yang pertama tahanan kasus narkoba mengeroyok petugas kemudian kabur, sekarang tahanan kasus narkoba kabur menjebol plafon," katanya.

Ia menilai, tentu ada persoalan yang menyebabkan mudahnya tahanan kabur. Baik itu persoalan penjagaan yang mungkin tidak maksimal atau persoalan fasilitas yang mudah dijebol. 

Untuk itu, dia meminta kasus-kasus kaburnya tahanan menjadi perhatian serius. Untuk didalami oleh pihak terkait agar mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan.

"Apalagi di Lapas Ketapang kita tahu ada napi kasus teroris, kita cuma khawatir dengan kerap serta mudahnya tahanan kabur, membuat hal-hal tidak diinginkan ke depan terjadi," pungkasnya. (teo/and)