Transparansi Seleksi Polri, Dari Tangkap Calo sampai Beritahu Alasan Gagal

Ponticity

Editor Andrie P Putra Dibaca : 871

Transparansi Seleksi Polri, Dari Tangkap Calo sampai Beritahu Alasan Gagal
Ekspresi salah satu peserta seleksi Akpol 2018. IST
Seleksi penerimaan anggota Polri makin hari makin baik. Praktik percaloan dibongkar dan dinihilkan. Mereka yang gagal pun diberitahu alasannya agar tak penasaran.  

Cerita pertama dimulai dari Jawa Tengah. Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda setempat berhasil menangkap dua orang pelaku yang diduga menjadi calo di penerimaan Bintara kepolisian. Keduanya masing-masing adalah Sodikun dan M Ali Nurudin yang telah menipu korbannya sebesar Rp320 juta.

"Modusnya menjanjikan calon siswa yang telah gugur akan dimasukkan kembali melalu jalur khusus," kata Asisten SDM Kapolri, Irjen Pol Arief Sulistyanto, Selasa (10/7).   

Kejadian bermula pada pertengahan bulan Mei 2018, salah satu orangtua calon siswa Bintara kepolisian yang telah gugur di tahapan pemeriksan kesehatan mendatangi Sodikun, meminta tolong memasukkan kembali anaknya di proses seleksi. Sodikun menyanggupi, dengan syarat disiapkan uang Rp350 juta untuk membayar M Ali Nurudin, yang menurut Sodikun adalah orang dari Mabes Polri.  

Dua minggu kemudian, korban kembali bertemu Sodikun lalu menyerahkan uang sebesar Rp320 juta. Sodikun yang menerima uang itu lantas mendatangi M Ali Nurudin dan hanya menyerahkan uang Rp100 juta.  

"Mereka cekcok, karena uang yang diberikan Sodikun tak sesuai komitmen. Ali pun mengancam dengan pistol air softgun," jelas Arief.  

Atas ancaman tersebut, Sodikun sempat melaporkan M Ali Nurudin ke polisi setempat. Namun kepolisian tak hilang akal. Berdasarkan pemeriksan, keduanya memang bekerja sama untuk menjadi calo penerimaan Bintara kepolisian.  

"Keduanya sudah dibawa ke Jakarta untuk diperiksa lebih lanjut dan mengungkap kemungkinan ada korban-korban lain," katanya.  

Mantan Kapolda Kalbar yang setahun lebih menukangi jabatan Asisten SDM Kapolri. Bisa dibilang, dia ruh perubahan dalam tubuh kepolisian. Mulai dari transparansi rekrutmen hingga pembenahan mental personel dilakukan. Malah, belum lama ini buku berisi usaha dan upayanya berjudul “Arief Effect, Setahun Revolusi Senyap di Dapur Polri” muncul.  

Cerita berikutnya bisa dibilang terobosan luar biasa dalam sebuah proses seleksi anggota Polri. Di mana panitia pusat penerimaan taruna dan taruni Akademi Kepolisian (Akpol) 2018, telah mengumumkan hasil seleksi tahap pertama, yakni pemeriksaan administrasi dan kesehatan. Dari 376 peserta yang terdiri dari 335 taruna dan 41 taruna ditetapkan tujuh peserta tidak memenuhi syarat.  

"Ketujuh peserta yang tidak memenuhi syarat itu lima orang putra dan dua putri," terang Irjen Pol Arief Sulistyanto.  

Menurut Arief, mereka yang tidak lulus akan diberikan konseling dan diberitahu kekurangannya supaya bisa memperbaiki.

"Ini salah satu bentuk transparansi kepolisian dalam perekrutan," ujarnya.  

Seperti diketahui, tahapan seleksi calon taruna dan taruni Akpol dimulai 4 Juli 2018. Dari 369 peserta yang tersisa, akan dipilih sebanyak 250 taruna dan taruni terbaik dari seluruh Indonesia. Arief memastikan, Polri melakukan seleksi penerimaan anggota baru dengan ketat dan bersih untuk memperoleh calon anggota yang berkualitas.   

Praktik kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) serta adanya titipan sangat dilarang karena dapat mengganggu objektivitas dan transparansi seleksi. Dia meyakini, seluruh proses seleksi sampai saat ini berjalan dengan lancar dan tertib serta tidak terjadi penyimpangan. Upayanya melakukan perubahan mungkin masih panjang, tapi kita semua pasti telah melihat banyak perbaikan. (hendra cipta/balasa)