Kuliah Umum Industri Peternakan Indonesia, Kampaye Masif Konsumsi Daging dan Telur ke Masyarakat

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 480

Kuliah Umum Industri Peternakan Indonesia, Kampaye Masif Konsumsi Daging dan Telur ke Masyarakat
KULIAH UMUM - Universitas Tangjungpura Pontianak berkerjasama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Tbk menggelar kuliah umum. kemarin. (SP/Nana)
Telah dilakukannya ekspor perdana produk daging ayam olahan dan pakan ternak ke wilayah negara tetangga yakni Jepang, Timor Leste dan Papua Nugini membuat Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada protein.

SP - Namun, perlu diketahui bahwa meskipun Indonesia telah bisa melakukan ekspor daging ayam, nyatanya konsumsi masyarakat dalam negeri terhadap daging dan telur ayam masih harus menjadi perhatian serius. Ini merupakan tantangan, sebab tingkat konsumsi masyarakat Indonesia masih rendah dan harus terus dioptimalkan oleh semua pihak.

Vice Presidenty Feed Tech PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Tbk, Dokter Hewan (drh) Desianto B Utomo MSc PhD mengatakan, tingkat konsumsi daging ayam dan telur ayam masyarakat Indonesia masih rendah bila dibandingkan negara tetangga Malaysia.

“Kita untuk tingkat konsumsi daging ayam broiler hanya sekitar 12,5 Kilogram  per kapita per tahun. Malaysia sudah 40 Kg per kapita per tahun. Konsumsi telur kita baru 125 butir per kapita per tahun. Malaysia sudah 340 butir per kapita per tahun,” terang Desianto saat memberikan Kuliah Umum di Gedung Rektorat Universitas Tanjungpura Pontianak, kemarin. 

Lebih lanjut, Mantan Peneliti di Institute of Animal Physiology and Genetics Research Edinburgh itu menegaskan, pekerjaan rumah saat ini adalah bagaimana upaya untuk meningkatkan konsumsi daging ayam dan telur ayam, di tengah masyarakat secara masif, terstruktur dan terpadu. 

“Kampanye gizi dan edukasi kepada masyarakat harus kita digencarkan. Daging ayam dan telur ayam sumber protein hewani. Jika dilihat perbandingan harga per gram protein antara daging ayam dan telur ayam terhadap daging sapi, susu, domba, kambing, ikan dan lainnya. Maka daging ayam dan telur ayam itu lebih murah harganya per kilogram protein. Kemudian mudah didapat dan diolah,” imbuhnya. 

Desianto menilai, bahwa jumlah penduduk yang banyak disertai kemampuan daya beli tinggi, tapi tingkat konsumsi rendah tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata. Menurutnya, konsumsi daging ayam dan telur ayam seyogyanya menjadi satu di antara pemenuhan kebutuhan protein bagi kesehatan yang otomatis, muaranya adalah peningkatan kualitas manusia sebagai imbas dari tercukupnya konsumsi gizi itu sendiri. 

“Jadi ke depan itu, perlu advertising (iklan). Saya tidak setuju anggapan tingkat konsumsi daging ayam dan telur ayam rendah, karena daya beli rendah. Menurut saya, edukasinya saja yang masih rendah,” sebutnya.

Mantan Dosen Universitas Airlangga ini mengatakan, tidak menutup kemungkinan, masih banyak rumah tangga yang belum punya kesadaran gizi terhadap keluarga mereka. Karena itu, edukasi gizi harus dilakukan secara kolektif ke masyarakat. 

“Bila perlu di media sosial harus ada konten yang menunjukkan kelebihan makan daging ayam dan telur ayam. Karena saya akui persepsi selama ini negatif. Misalnya ayam suntik hormon dan sebagainya. Itu sebenarnya tidak benar dan tidak ada rekayasa genetik. Itu adalah black campaign atau kampanye hitam yang perlu dicounter melalui kampanye gizi,” terangnya. 

Saat ini, kata Desianto, secara nasional swasembada daging ayam dan telur ayam  mempunyai idle capacity atau kapasitas menganggur sebesar 65 persen. Swasembada memberi artian bahwa Indonesia memiliki kapasitas produksi, guna pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan membuka keran aktivitas ekspor. 

“Bahkan, ada idle capacity seperti kebutuhan produksi anak ayam itu sekitar 15 juta per minggu. Stok ada 65 juta per minggu, sementara kebutuhan hanya 50 juta saja. Begitu juga idle capacity pakan ternak dari 92 pabrik se-Indonesia mencapai 24,5 juta ton. Naik bila dibandingkan tahun kemarin yang berada pada angka 18,5 juta ton,” jelasnya.

Ia menilai, saat ini untuk sektor perunggasan di Indonesia punya prospek yang sangat bagus jika dikembangkan secara serius pada masa-masa mendatang. Dirinya pun menaruh harapan besar, agar semakin banyak generasi Indonesia, khususnya anak-anak muda yang tertarik untuk terjun dalam industri peternakan. 

"Roadshow dan kuliah umum ini sebagai upaya kami menyampaikan realita industri peternakan. Selama ini kan dipandang sebelah mata, jelek, kumuh bau dan sebagainya. Sekarang, industri peternakan sudah pakai teknologi tinggi, tidak ada lalat dan bau kandang. Persepsi itu harus kita ubah dengan paradigma bahwa peternakan bukan dunia yang harus dijauhi, tapi dunia yang harus digeluti. Itu yang kita edukasikan bagi para peternak maupun generasi berikutnya seperti anak-anak peternak dan lainnya,” tandasnya.

Sementara itu, General Manager PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Tbk, Ray Tumundo menerangkan, kuliah umum ini merupakan tindak lanjut dari Momerandum of Understanding (MoU) antara PT CPI Tbk dengan Untan pada September 2007 lalu. 

“Satu di antara butir MoU bukan hanya pemberian beasiswa atau penelitian, pengembangan mahasiswa, tapi juga memberikan kuliah umum sebagai transfer ilmu kepada mahasiswa,” ujarnya.

Dikatakannya bahwa tak hanya Untan saja, pihaknya juga menjalin kerjasama dengan 10 universitas lain di seluruh Indonesia. Melalui kuliah umum seperti ini, pihaknya berupaya menanamkan mindset kepada mahasiswa dan mahasiswi untuk tidak malu dan ragu terjun ke dunia peternakan yang menjanjikan masa depan.

“Memang dunia peternakan kadang tidak lirik orang. Ketika mengajukan kredit pinjaman juga dinilai tidak bankable. Ada juga imej bahwa industri peternakan itu hanya di belakang rumah. Padahal, peternakan itu adalah industri besar. Kami memberikan penjelasan utuh terkait peternakan, agar mahasiswa dan mahasiswi tertarik menjadi pelaku atau praktisi peternakan ke depan," tuturnya. (nana arianto/bob)