Urgensi Penyelamatan Bahasa dan Budaya Dayak

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 308

Urgensi Penyelamatan Bahasa dan Budaya Dayak
SEMILOKA – Semiloka Penelitian Etnolinguistik yang dilaksanakan Institut Dayakologi, di Jurung Dayakologi, Sabtu (14/7). (SP/Anugrah)
PONTIANAK, SP – Di akhir abad ini, 50-90 persen bahasa di dunia akan punah, demikian halnya 168 bahasa daerah dari 151 sub suku Dayak di Kalimantan Barat. 

Hal itu disampaikan John Bamba, mantan Direktur Eksekutif Institut Dayakologi, saat menjadi pemateri dalam Semiloka Penelitian Etnolinguistik yang dilaksanakan Institut Dayakologi, di Jurung Dayakologi, Jumat (13/7)-Sabtu (14/7).

"Bahasa penting diselamatkan karena mengandung pandangan hidup, kekayaan budaya, pengetahuan dan pengalaman mengenai cara-cara bagaimana suatu kelompok masyarakat mengatasi persoalan yang dihadapinya," ujar John yang kini ketua Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih. 

Kegiatan ini, diikuti oleh sebanyak 50 orang peserta. Mereka berasal dari kalangan mahasiswa, kaum muda dan komunitas dari berbagai daerah kabupaten di Kalbar. Peserta yang hadir juga sangat aktif dalam semiloka tersebut. Di antaranya datang langsung dari komunitas, di antaranya Jelimpo, Manyalitn, Tae dan Segumon.

Semiloka tersebut sebagai salah satu langkah menuju penyelamatan bahasa dan pertahanan kebudayaan Dayak. 

Peneliti dan penulis senior ID, Benyamin Efraim, dalam paparannya mengenai teknik bagaimana melakukan dokumentasi, mengajak peserta untuk tidak sekedar tahu dan sadar akan situasi terancam punahnya bahasa daerah.

Lebih dari itu, dia mengajak generasi muda untuk segera bertindak melakukan langkah penyelamatannya dengan cara mendokumentasikannya, termasuk semua aspek-aspek kebudayaannya.

 "Tak cukup hanya tahu, sadar, tapi juga mesti ada langkah untuk mendokumentasikannya," ujarnya.

Sementara itu, mantan peneliti etnolinguistik Institut Dayakologi, Chatarina Pancer dalam paparannya mengatakan keterampilan peneliti dalam membedakan bunyi kata sangat penting. 

“Bunyi sebuah kata itu penting diketahui karena ia memiliki makna," tuturnya saat memberikan materi pentingnya kemampuan membedakan bunyi sebagai kompetensi dasar sebagai peneliti etnolinguistik.
 
Lebih lanjut, Uli, salah seorang mahasiswi asal Kabupaten Kapuas Hulu, dari sub suku Dayak Kantuk mengaku sangat tertarik menjadi peneliti kebudayaan Dayak dengan harapan agar ke depannya kebudayaan Dayak, khususnya Kantuk bisa semakin dikenal masyarakat luas. 

Senada dengan Uli, Lanyo mahasiswa asal Pahauman mengatakan bahwa dirinya kini sadar bahwa secara kebahasaan, Dayak itu ternyata beragam. 

"Saya juga seorang aktivis seni tari, senang dan berterima kasih telah diundang sebagai peserta aktif semiloka ini sehingga saya jadi tahu bahwa Dayak itu beragam secara kebahasaan. Ke depannya saya akan mendokumentasikan bahasa dan kebudayaan Dayak Kanayatn," tuturnya.

Selaku lembaga pusat advokasi dan transformasi kebudayaan Dayak, ID sejak beberapa tahun ini siap menampung informasi, data-data baik kebahasaan maupun kebudayaan dari subsuku mana pun. 

Dari semiloka tersebut, peserta juga sepakat membentuk forum diskusi ilmiah yang akan dilaksanakan berkala di Dayakologi.

"Selain meningkatkan kesadaran kebudayaan generasi muda, semiloka juga menyepakati pendokumentasian bahasa dan aspek-aspek kebudayaan sub suku masing-masing serta sebagai upaya penting menuju penyelamatan bahasa daerah dan pertahanan kebudayaan. Teman-teman mahasiswa bisa mulainya dari kampung masing-masing," tegas Krissusandi Gunui', Direktur Institut Dayakologi saat menutup semiloka. (id/rah/and)