Warga Evakuasi Orang Telantar, Linsun Tiga Hari Tidur di Taman Alun Kapuas

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 387

Warga Evakuasi Orang Telantar, Linsun Tiga Hari Tidur di Taman Alun Kapuas
TELANTAR – Direktur YNDN, Devi Tiomana (kanan) saat bertemu dengan Linsun (kiri) seorang ibu yang telantar di Taman Alun Kapuas, Minggu (15/7). YNDN akan berkoordinasi dengan pihak Dinsos untuk memulangkan Linsun bersama anak ke daerah asal. (SP/Anugrah)
Eci, Warga 
"Dua malam dia ndak ada makan nasi sama sekali. Waktu saya berikan makan itu sudah sampai gemetaran. Anaknya berumur enam tahun"

PONTIANAK, SP – Eci, warga Jalan Padat Karya, Gang Kurnia 1, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, mengevakuasi seorang perempuan atas nama Linsun, warga Dusun Bungok, Desa Majel, Kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau, yang sudah menggelandang dan tidur bersama satu orang anak laki-lakinya masih di bawah umur di
Taman Alun-alun Kapuas, Jalan Rahadi Usman Pontianak.

Eci ditemui di rumahya menceritakan, berjumpa dengan Linsun saat membawa anak-anaknya ke Taman Alun Kapuas. Saat itu, perempuan tersebut sudah berada di sana selama dua hari. 

Linsun awalnya mengaku berasal dari Kabupaten Sekadau. Ketika ditemui keesokan harinya, perempuan tersebut masih berada di Taman Alun Kapuas dan mengaku dari Kembayan, Kabupaten Sanggau.

Eci awalnya mengira perempuan tersebut merupakan pengunjung. Tapi Linsun mengaku tidur di kursi tersebut. Bahkan anaknya laki-lakinya yang masih berumur enam tahun tersebut menangis dan mengaku lapar.

Perempuan 39 tahun tersebut menurut Eci, sedikit mengalami kekurangan. Sebab selalu memberikan keterangan yang berbeda-beda.

“Pertama belum sampai sepuluh menit beda lagi, beda lagi dan udah tiga malam dia tidur di kursi Korem,” katanya, kemarin.

Saat sebelum dievakuasi, Eci mengatakan bahwa Linsun sebelumnya sempat melapor kepada Satpol PP untuk meminta izin tidur di kursi. “Tapi Satpol PP ndak ada tindak lanjut,” ucapnya.

Melihat kondisi perempuan tersebut dan anaknya, Eci kemudian membelikan keduanya makanan. 

Eci sempat mengunggah keberadaan Linsun di grup Facebook Pontianak Informasi. Unggahan itu mendapat reaksi. Salah satu teman Eci dan beberapa orang lainnya sepakat untuk membawa Linsun beserta anaknya tersebut pulang ke rumahnya.

“Dua malam dia ndak ada makan nasi sama sekali. Waktu saya berikan makan itu sudah sampai gemetaran. Anaknya berumur enam tahun,” tambahnya.

Ketika sudah dibawa pulang ke rumahnya untuk ditampung sementara, banyak juga pihak yang memberikan bantuan kepada Linsun. Bantuan tersebut dibelikannya sandal, pakaian dan makanan bagi perempuan tersebut.

Selama berada di rumahnya, Eci juga mengatakan bahwa tidak dapat memperoleh keterangan banyak dikarenakan keterbatasan komunikasi, sebab Linsun tidak banyak mengerti bahasa Indonesia.

Beberapa cerita yang diperoleh, Linsun mengatakan bahwa salah satu anaknya dibawa oleh suaminya. Dia mengatakan sudah banyak yang ingin mengadopsi anaknya namun tidak diberikan.

Eci mengaku sempat berhubungan melalui pesan singkat Facebook dengan warga Kembayan yang mengaku bertetangga dengan Linsun, dan mengenal keluarganya. Namun hingga Suara Pemred menyambangi kediamannya belum ada konfirmasi lebih lanjut.

“Jadi saya tunggu konfirmasinya dulu,” ujarnya lagi.

Pada tas yang dibawa oleh Linsun, berisi hanya beberapa baju kotor dan sebuah panci berisi nasi.

Untuk mencari solusi terhadap perempuan dan anak tersebut, Eci berupaya menghubungi Devi Tiomana, aktivis anak. Karena ditakutkan ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari keadaan Linsun tersebut.

Suara Pemred mencoba berkomunikasi dengan Linsun. Tidak banyak informasi yang didapatkan, sebab cenderung susah berkomunikasi dan keterangannya masih kurang jelas.

Saat ditanya perihalnya datang ke Pontianak, dia mengaku ingin mencari uang serta mencari kekasih. Saat pergi dia mengaku tidak berpamitan dengan pihak keluarganya di kampung.

Sebab saat akan pergi, awalnya dirinya diminta memberi makan ayam, namun setelah memberi makan ayam tersebut Linsun bertolak ke Pontianak.

Sebelumnya dia juga mengaku sempat bekerja di Malaysia selama enam bulan, namun kembali ke kampung halamannya.

Saat ke Pontianak, dia mengaku menumpang truk dari kampungnya hingga ke simpang Tanjung, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan mobil hingga ke Ambawang.

“Pakai truk dari Simpang Tanjung. Habis itu pakai mobil perusahaan, numpang,” ujar Linsun.

Selama dalam perjalanan tersebut, Linsun juga mengatakan tidak tidur hingga sampai ke Taman Alun Kapuas.

Koordinasi dengan Dinsos 

Direktur Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN), Devi Tiomana mengapresiasi warga yang turut berperan dalam memberikan perlindungan terhadap orang yang membutuhkan.

Dalam hal ini, kehadiran pihaknya yang utama adalah memastikan keamanan terhadap anak Linsun dikarenakan anak tersebutlah yang paling rentan.

“Salah satunya kan karena dia punya anak yang masih di bawah umur. Ini yang sangat rentan untuk mengalami berbagai tindak kejahatan,” jelas Devi, Minggu (15/7).

Untuk itu, pihaknya akan berupaya berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Pontianak dan Dinas Sosial Kabupaten Sanggau untuk berupaya memulangkan Linsun bersama anaknya.

“Tetapi dengan yang pasti. Tanpa ada macam-macamnya,” imbuhnya.

Sebab hal yang menjadi ketakutan Devi, akan ada pihak tertentu yang mengambil kesempatan. Sehingga bisa membahayakan anak di bawah umur yang sangat rentan dieksploitasi.

“Maka dari itu, dalam konteks perlindungan anak, kita wajib memberikan perlindungan. Maka hari ini mungkin akan dipindahkan ke shelter pemerintah kota,” tambahnya.

Koordinasi juga akan terus dilanjutkan hingga proses pemulangan berhasil dilakukan dengan aman.

Untuk itu, jika ada pihak keluarga agar menghubungi Dinas Sosial dengan membawa bukti yang ada. Sebab tanpa bukti yang jelas maka pihaknya tidak akan melepaskan. Dia mengatakan bahwa Dinas Sosial telah siap melakukan evakuasi setelah dilakukannya koordinasi.

“Kita mengapresiasi setiap masyarakat yang turut memberikan perlindungan terhadap anak dan orang yang membutuhkan perlindungan,” tuturnya.

Namun dalam upaya perlindungan, masyarakat juga lebih baik jika melaporkan kepada pihak terkait agar tidak terjadi masalah yang malah membahayakan masyrakat.

Dari komunikasi sementara dengan Linsun, menurutnya masih banyak yang belum jelas. Dalam perkiraannya, perempuan tersebut mengalami gangguan psikologis.

“Sangat kelihatan sekali, karena saat kita komunikasi itu matanya kemana-mana. Itu bentuk dari gangguan psikologis,” imbuhnya. (rah/and)