Mantan Dekan Fisip Untan, Mochtaria M Noh Wafat, Dikenang Sebagai Sosok yang Peduli dan Mengayomi

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 771

Mantan Dekan Fisip Untan, Mochtaria M Noh Wafat, Dikenang Sebagai Sosok yang Peduli dan Mengayomi
Mantan Dekan Fisip Untan, (Alm) Mochtaria M Noh
Kabar duka menyelimuti civitas akademika Universitas Tanjungpura, khususnya bagi keluarga besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (ISIP). Mantan Dekan ISIP, Mochtaria M. Noh telah berpulang pada Senin,(16/7) tengah malam sekitar pukul 23.30 WIB di Rumah Sakit Pro Medika Pontianak.

SP - Wakil Dekan Fisip Untan Bidang Kemahasiswaan, M. Sabran Achyar mengaku kepergian almarhum tentu meninggalkan duka bagi mereka, baik dikalangan sesama dosen maupun seluruh mahasiswa ISIP Untan. 

"Kami atas nama civitas akademika tentu sangat berduka, semoga almarhum diterima oleh Allah SWT dan diampuni segala dosanya, " kata Sabran ditemui di ruang kerjanya, Selasa (17/7) siang. 

Sabran lantas bertutur bahwa selama ini almarhum dikenal sebagai pribadi yang sangat peduli terhadap sesama teman, kolega kerja maupun karyawan yang ada di lingkungan Fisip Untan. 

"Kami juga mengenang bagaimana beliau  selama menjadi Dekan Fisip selalu ingin membagun kampus menjadi lebih baik," imbuhnya.

Komitmen, semangat serta pola asah, asih dan asuh almarhum terhadap para juniornya, kata Sabran juga menjadi kenangan tersendiri bagaimana ia beserta civitas akademika Fisip Untan mengenal sosok pemimpin yang pernah menjabat dekan pada periode 2010-2013 ini. 

"Cara almarhum memperlakukan sangat kita rasakan betul, karena beliau melakukannya dengan tulus dan ikhlas," kata Sabran.

Dijelaskannya, bahwa sebelum menjadi Dekan Fisip, almarhum memang telah memulai kariernya di dunia pendidikan Universitas Tanjungpura dari bawah. Mulai dari dosen biasa, Kepala Prodi, Kepala Jurusan, Tim Penjamin Mutu hingga kemudian menjadi Dekan dan terakhir almarhum masih juga menjabat sebagai Anggota Senat Fisip Untan.

Selama menjabat sebagai Dekan, kata Sabran, almarhum memiliki kiprah yang luar biasa terkait bagaimana ia ingin membagun dan membesarkan fakultas tersebut agar bisa sejajar dengan fakultas lain di luar  Kalimantan Barat, terutama Jawa dan Sumatera. 

"Ini keinginan yang harus kita lanjutkan, terutama saya pribadi kami di Fisip Untan ini. Jadi bagaimana Fisip ini bisa berbicara pada tingkat domestik, nasional maupun internasional," katanya.

Hasil dari apa yang telah diperjuangkan almarhum, bisa dirasakan pada saat ini. Dimana sudah ada kemajuan-kemajuan yang diperoleh, sehingga hanya bagaimana melanjutkannya lagi. 

"Di tataran mahasiswa sudah banyak mahasiswa Fisip Untan yang mampu berbicara banyak di tingkat nasional. Saya pikir ini bagian dari apa yang almarhum perjuangkan dulu," sebutnya. 

Sabran juga bertutur bahwa memang sejak dua tahun belakangan ini, kondisi almarhum sering sakit-sakitan meskipun tetap datang ke kampus untuk mengajar seperti biasa. 

"Beliau ini sakit sudah lama, kurang lebih dua tahun. Namun, penyebab pasti beliau meninggal, belum saya ketahui penuh. Memang ada penyempitan saraf yang kita tahu sebelumnya," tuturnya.

Namun, apapun itu kata Sabran, kematian adalah hal yang pasti terjadi pada semua umat manusia. Hanya saja caranya berbeda, ada yang harus mengalami sakit terlebih dahulu, dan ada pula yang meninggal secara tiba-tiba. 

"Tapi intinya Fisip sangat berduka kehilangan beliau, apalagi beliau ini pakar dalam bidang antropologi budaya. Kami merasa kehilangan, terlebih antropologi  ini prodi yang baru. Jadi ke depan bagaimana kaderisasi di antropologi atau di Fisip ini tetap berjalan itu yang kita harapkan," tutupnya. 

Sementara itu, Mahasiswa Prodi Antropologi Fisip Untan, Dita Widyaningsih mengaku sosok almarhum merupakan dosen yang sangat digemari mahasiswa antropologi. 

"Pak mochtaria (almarhum) adalah salah satu  pakar antropologi yang digemari oleh mahasiswa. Beliau orangnya sangat familiar, maka dari itu  mahasiswa  tidak segan untuk bertanya mengenai materi perkuliahan dan sebagainya," ungkap Dita.

Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Antropologi Fisip Untan yang baru saja mengakhiri masa jabatannya ini menilai, keterbukaan sosok almarhum menjadi salah satu daya tarik, mengapa almarhum menjadi salah satu dosen yang digemari mahasiswa. 

"Keterbukaan beliau mendengar keluhan-keluhan mahasiswa mengenai perkuliahan dan kemudahan dalam menerima materi pada saat perkuliahan juga sangat dirasakan sekali oleh mahasiswa antropologi," kata Dita.

"Sapaannya Pak Mochtar, teman-teman selalu bilang bahwa beliau adalah dosen terfavorit di Antropologi, " lanjutnya 

Dita pun mengenang dirinya terakhir bertemu almarhum juga dirasa belum terlalu lama. Tentu mendapat kabar duka ini menjadi pukulan tersendiri baik pribadi maupun seluruh mahasiswa antropologi Fisip Untan. 

"Terakhir ketemu, pada saat ingin bimbingan pratikum, dan pada saat itu bapak sedang tidak sehat. Tapi beliau masih mau datang ke kampus untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa yang memiliki keperluan dengan beliau," kenangnya. (nana arianto/bob)