Warga Sungai Kakap Butuh Derma, Asnawir Huni Gubuk Reyot, Menahan Sakit Menahun

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 353

Warga Sungai Kakap Butuh Derma, Asnawir Huni Gubuk Reyot, Menahan Sakit Menahun
SAKIT MENAHUN – Asnawir (63) saat ditemui di rumahnya, Jalan Hidayat, Dusun Merpati, Desa Kakap, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (18/7). Kondisi Asnawir yang menderita sakit menahun sangat memprihatinkan dan butuh uluran bantuan. (SP/Abd
Asnawir (63) hanya bisa meratapi penyakitnya. Tubuhnya ringkih. Otot kakinya pun telah mengering. Berdiri juga sudah tak bisa. Di gubuk yang hanya beratap daun berdinding bolong-bolong, pria renta ini hanya bisa merintih menahan sakit yang dideranya selama dua tahun terakhir. 

SP - Rabu (18/7) sekitar pukul 13.00 WIB, Suara Pemred berkunjung ke kediaman Asnawir di Jalan Hidayat, Dusun Merpati, Desa Kakap, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. 

Mencari alamat rumah Asnawir cukup rumit. Bahkan harus bertanya dua kali ke warga, baru alamatnya bisa dituju. Sebab kediaman Asnawir berada pinggir sungai di belakang rumah warga. 

Saat tiba di gubuk Asnawir yang berukuran 2x6 meter, terlihat beberapa anak kecil sedang bermain. Suara walet dari gedung yang mengapit gubuk Asnawir membuat suasana bising di siang hari.

Asnawir, tampak terbaring lemas di dalam rumah yang dindingnya tembus cahaya matahari. Tak lama kemudian, seorang perempuan berkerudung  dari dapur yang hanya bersekat kain keluar menghampiri. 

Perempuan itu ternyata istri Asnawir, Saedah (38). "Masuklah mas," ajaknya masuk ke dalam rumah. 

Saedah lantas duduk bersimpuh. Di samping sang suami yang sedang terkungkung batuk. Sembari memijat suami, Saedah mulai bercerita tentang kondisi penyakit suaminya.

"Suami saya ini sebenarnya sudah delapan tahun sakit. Awalnya sakit paru-paru. Sempat menjalani pengobatan rutin dari Puskesmas selama enam bulan. Sempat sembuh. Tetapi dua tahun terakhir ini, penyakitnya kambuh lagi. Malah makin parah. Sekarang sudah tak bisa berdiri. Makan pun sudah harus disuap," katanya. 

Hidup dalam kondisi ekonomi terbatas, Saedah pun tak bisa berbuat banyak untuk mengobati sang suami ke dokter secara rutin. Jangankan BPJS, fasilitas Askes dari pemerintah saja dia tak punya. 

"Pernah bawa suami berobat ke RS Bhayangkara Pontianak, karena disuruh sama Puskesmas. Itu pun pakai jalur pelyanan umum. Karena ekonomi susah, sekarang saya hanya mengobati suami dengan memanggil mantri ke rumah. Karena suami saya sudah tak bisa dibonceng ke Puskesmas," katanya.  

Dengan kondisi suami yang sakit, Saedah harus banting tulang untuk mencari uang, menafkahi sepuluh anaknya yang juga masih kecil-kecil. Siang hari Saedah mangkal di pasar Kakap membuka jasa sol sepatu. 

Sementata sore hari, dia bekerja menjadi pembantu rumah tangga di daerah Kota Baru Pontianak. Dengan upah Rp600 ribu per bulan.  

"Gaji jadi pembantu ini hanya cukup buat makan dan jajan anak sekolah. Itu pun malah kurang. Buat tambah-tambah,  itulah saya sol sepatu di pasar," ungkapnya.  

Kondisi kehidupan keluarga Asnawir dan Saedah memang sangat memprihatinkan. Keluarga ini hidup di bawah garis kemiskinan. Lebih menyedihkan, rumah yang ditempati saat ini pun nyaris roboh.  

Bangunan lebih mirip gubuk yang ditempati sudah sangat reyot. Atap daun yang menaungi hunian itu juga bertambal sulam dengan kantong plastik agar tak diguyur air saat musim penghujan. Sementara dindingnya juga sudah tembus pandang karena bolong. 

Asnawir yang kini sakit keras harus tidur di lantai tanpa kasur. Begitu pula dengan 10 anak-anaknya. 

"Kami hidup di gubuk ini sudah puluhan tahun. Kalau hujan, kain lap dibentang supaya air hujan menyerap dan tidak menyebar ke seluruh lantai," kata Saedah. 

Saedah mengaku beberapa kali ada pendataan untuk program bedah rumah memperbaiki gubuk deritanya itu. Bahkan suatu ketika, ada petugas yang meminta uang Rp300 ribu kepadanya agar program bedah rumah tersebut bisa dia dapatkan.  

"Uangnya saya berikan. Tetapi sampai sekarang bedah rumahnya tidak ada.  Saya ditipu rupanya," ungkapnya, kesal. 

Saedah berharap besar ada bantuan pemerintah untuk memperbaiki huniannya tersebut. Sebab kondisinya itu memang sudah tidak layak huni. 

Syarif,  tetangga Asnawir mengaku prihatin dengan kondisi perekonomian yang dialami keluarga Asnawir. 

Menurutnya, pemerintah harus hadir di tengah kondisi masyarakat yang sedang kesusahan.  Apalagi,  keluarga Asnawir yang benar-benar hidup dalam kondisi penuh dengan keterbatasan.  

"Suami sakit keras. Rumah yang ditempati tak layak huni. Sementara ekonomi mereka serba kekurangan. Mestinya, pemerintah hadir dalam kondisi masyarakat yang seperti ini," kata Syarif, yang kebetulan juga berkunjung menjenguk kondisi Asnawir.

Dia pun ikut mendoakan agar keluarga Asnawir tetap tegar. Pihak pemerintah diharapkannya segera menyalurkan bantuan utuk mengurangi beban kehidupan keluarga ini (abdul halikurrahman/and)