Harga Terus Naik, Penjualan Telur Ayam Menurun

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 202

Harga Terus Naik, Penjualan Telur Ayam Menurun
BELI TELUR – Tampak pedagang telur di pasar Flamboyan saat sedang melayani pembeli, Minggu (22/7). Akibat kenaikan harga telur, pedagang mengeluhkan jumlah pembeli jadi menurun. (SP/Anugrah)
Kadiskumdag Kota Pontianak, Haryadi S Triwibowo
"Hal ini dikarenakan naiknya nilai tukar dolar terhadap rupiah yang mencapai Rp14 ribu-an per dolar. Otomatis ini berpengaruh kepada pakan ternak, pakan ayam khususnya"

PONTIANAK, SP - Kenaikan harga telur ayam saat ini masih menjadi problem di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Kota Pontianak. Bahkan di Jakarta, hingga menimbulkan aksi demonstrasi dari para ibu rumah tangga yang resah dengan kenaikan ini.

Salah seorang penjual telur di pasar Jeruju Pontianak, Erli mengatakan bahwa kenaikan telur ini sudah terjadi lebih dari sepekan belakangan ini.

Kenaikan tersebut, dari yang biasanya telur dijual seharga Rp1.300 per butir, naik menjadi menjadi Rp1.550 hingga Rp1.600 per butir. “Dengan harga segitu saja tipis untungnya,” katanya, Minggu (22/7).

Para pembeli menurutnya banyak yang berpikir seolah-olah kenaikan harga tersebut dilakukan oleh para penjual. Sementara kenaikan ini memang telah terjadi dari agen, untuk itulah para penjual terpaksa menaikkan harga walaupun dengan keuntungan yang tipis.

“Tapi pembeli suka bilang, kok naik bu harga telur? kita kan gak tahu, memang dari agen,” katanya.

Sejauh ini dia mengatakan, cukup banyak para pembeli yang mengeluhkan harga ini. Terutama para ibu rumah tangga dan pengusaha-pengusaha yang menggunakan bahan telur.

Warga juga menurutnya mempertanyakan harga telur yang tidak turun pasca bulan suci Ramadan hingga saat ini. “Saya pun ndak tahu,” imbuhnya.

Untuk ketersediaan telur dari agen menurutnya, selalu ada berapa pun jumlah permintaan dari para pengecer. Hanya saja, harga saat ini yang dipermasalahkan oleh para pembeli.

Kenaikan harga telur ini, juga belum dapat diprediksi oleh para pedagang bakal terjadi berapa lama. 

Menurutnya pihak agen menyampaikan bahwa kenaikan harga telur dipengaruhi oleh harga pakan indukan ayam petelur yang mahal.

Akibat kenaikan ini, penjualan telur menurutnya cenderung menurun dari penjualan dengan harga biasanya.

Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang pedagang telur di pasar Flamboyan, Ng Ek Kui. Menurutnya kenaikan harga ini juga mempengaruhi jumlah penjualan telur per harinya.

Sudah lebih dari satu pekan ini, harga telur di pasar Flamboyan berkisar pada angka Rp1.400 hingga Rp1.600 per butirnya. Ini disesuaikan dengan besaran telur, sementara harga per kilonya Rp20 ribu.

Kenaikan ini memang menurutnya terjadi mulai dari pihak distributor atau agen, sehingga para penjual eceran telur di pasar juga terpaksa menaikkan harga untuk mendapat laba.

“Kita mana bisa naikkan sembarangan, kalau kita naikkan tidak seragam dengan tetangga tak laku lah dia,” tuturnya.

Menurutnya harga telur sempat turun setelah Lebaran, namun setelah itu harga kembali naik dan bertahan hingga saat ini.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak, Hariyadi S Triwibowo menjelaskan, kenaikan harga telur saat ini menjadi masalah nasional. Bahkan Kementerian Perdagangan akan melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga.

Stabilitas harga tersebut, diharapkan jangan sampai dengan kenaikan harga, para konsumen khususnya ibu rumah tangga dan masyarakat kesusahan mendapatkan telur. Sebenarnya, ada sesuatu yang menyebabkan harga telur ini naik secara signifikan.

“Hal ini dikarenakan naiknya nilai tukar dolar terhadap rupiah yang mencapai Rp14 ribu-an per dolar. Otomatis ini berpengaruh kepada pakan ternak, pakan ayam khususnya,” jelasnya.

Kebanyakan pakan ayam yang ada saat ini kandungan bahan lokalnya tidak mencapai 100 persen, sebab masih ada subtitusinya yang menggunakan bahan Import.

“Sehingga dengan naiknya dolar ini, tentu meningkatkan juga harga bahan baku pakan, itu yang pertama,” imbuhnya.

Selain itu, penyebab lainnya yaitu sebelum Lebaran, ada informasi bahwa banyak bibit ayam petelur yang dijadikan sebagai ayam pedaging atau ayam potong.

“Kenapa ini kan hanya pemikiran sesaat, hanya untuk mengambil untung sesaat saja pada bulan puasa dan bulan Lebaran. Mereka tidak berpikir jauh, sekarang baru terasa dengan langkanya bibit ayam petelur, kemudian mahalnya pakan ayam,” jelasnya.

Daging ayam pedaging juga menurutnya secara otomatis naik, sebab pakan yang digunakan juga mengandung substitusi bahan pakan impor.

“Maka di pasar secara nasional, bukan cuma di Pontianak saja harga telur dan harga daging itu meningkat secara signifikan,” tambahnya.

Naiknya harga ini dikatakannya juga berpotensi bisa masuknya telur-telur ilegal dari Malaysia. (rah/and)