Jaksa AJ Bantah Lakukan Tindakan Asusila pada Anaknya Sendiri

Ponticity

Editor Indra W Dibaca : 235

Jaksa AJ Bantah Lakukan Tindakan Asusila pada Anaknya Sendiri
Ilustrasi. (Net)
PONTIANAK, SP - AJ, seorang Jaksa di Pengadilan Tinggi Kalbar membantah telah melakukan perbuatan asusila terhadap AP (4), putri kandungnya sendiri. AJ menyampaikan bahwa tuduhan serta pemberitaan terkait hal itu tidak benar dan merupakan fitnah.

AJ sebelumnya diberitakan telah dilaporkan oleh MA (35), mantan istrinya kepada pihak kepolisian pada 1 Agustus 2018 atas dugaan tindakan asusila terhadap anak kandungnya sendiri. Dugaan itu juga telah dilaporkan pada Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar.

"Secara logika saya sangat tidak mungkin melakukan tindakan seperti apa yang telah dilaporkan mantan istri saya dan seperti yang dimuat di media massa. Sebab sebagai seorang jaksa tentu saya mengetahui segala hukum dan aturan yang ada," katanya dalam pertemuan dengan awak media di ruang Asisten Bidang Intelijen, Kantor Kejaksaan Tinggi Kalbar, Senin (6/8) siang.

Untuk itu, dirinya secara pribadi akan mengambil langkah hukum untuk melaporkan balik kasus ini.

Menurut AJ, dirinya dengan MA telah bercerai selama kurang lebih satu tahun dengan gugatan cerai disampaikan oleh pihaknya.

Dalam proses sidang di Pengadilan Agama, majelis hakim memberikan hak asuh anak yang saat itu baru berusia tiga tahun enam bulan kepada dirinya.

"Hakim tentu memiliki alasan mengapa seorang anak yang baru berusia tiga tahun enam bulan hak asuh menjadi milik ayah bukan pada ibu," katanya.

Selain itu, MA menurutnya juga mengetahui bahwa dirinya akan melangsungkan pernikahan pada bulan September mendatang.

“Sehingga dengan adanya pemberitaan ini, tentunya sangat berdampak negatif bagi diri saya, dan tentunya bagi keluarga besar calon isteri saya. Inilah yang saya tidak terima dengan ini, saya merasa telah dizalimi,” ucapnya.

AJ mengaku, sebelumnya dia juga sempat melaporkan MA ke Polsek Pontianak Kota karena diduga membawa lari anaknya.

Terkait hal itu, dijelaskannya bahwa walaupun hak asuh ada pada dirinya, namun dirinya tidak pernah melarang mantan isterinya untuk berjumpa anaknya.

“Memang saya batasi, paling lama biasa satu minggu atau 10 hari,” tuturnya.

Setelah diberikan selama satu minggu, MA meminta penambahan waktu hingga 10 hari. Namun setelah 10 hari, dirinya mencoba menghubungi MA dengan menelepon dan mengirim pesan singkat, namun tidak digubris.

"Hingga esok harinya juga tidak dibalas, hingga saya berupaya untuk menemui langsung anak saya ke sekolah. Tapi gurunya mengatakan anak saya tidak masuk sekolah. Saya juga mendatangi rumah MA, namun di rumahnya hanya ada kendaraan saja," katanya.

“Dari situ saya panik, saya coba hubungi kemana-mana ndak ada kabar, saya tanya tetangga sekitar, ada yang lihat dia pergi pakai mobil, tapi tidak tahu sama siapa,” ucapnya lagi.

Karena hal itulah, dirinya menyampaikan kepada MA melalui pesan singkat untuk melaporkan MA, namun juga tidak direspon, yang akhirnya dirinya melapor ke Polsek. Namun pihak Polsek hanya menampung laporannya.

“Saya sudah melapor ke Polsek karena saya pengen tahu dimana posisi anak ini, karena saya sudah kehilangan kontak sama sekali,” paparnya.

Hingga saat ini dirinya tidak mengetahui dimana posisi anaknya, sebab MA telah dihubunginya juga tidak mendapat balasan.

Diberitakan Suara Pemred, Sabtu (4/8), Komisioner KPPAD Kalbar, Alik Rosyad membenarkan bahwa adanya laporan kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak bawah umur oleh ibu korban kepada pihaknya. 

"Kejadiannya tentu akan dibuktikan dalam penyelidikan lebih lanjut. Tapi secara kronologis, memang pekan lalu ibu korban dan korban datang ke KPPAD, kemudian menceritakan anak disangkakan menjadi korban kekerasan seksual yang terduga pelaku adalah ayahnya," jelas Alik.

Atas laporan tersebut pihak KPPAD langsung mengambil langkah-langkah dan tindakan lanjutan sebagaimana prosedur yang ada.

Pihaknya juga mengupayakan agar sang anak berada dalam pengawasan penuh KPPAD demi memberikan perlindungan pada sang anak. 

"Dalam hal ini korban kita amankan pada satu tempat yang aman, yang juga membuat dia nyaman. Karena aman saja belum tentu cukup, sehingga kita carikan tempat yg aman dan nyaman," pungkasnya. (rah/nak)