Keluarga Kasus Pembunuhan di Jalan Imam Bonjol Minta Keadilan

Ponticity

Editor Indra W Dibaca : 907

Keluarga Kasus Pembunuhan di Jalan Imam Bonjol Minta Keadilan
Kamisah, istri Hanafi menunjukkan surat yang dikirim bagi presiden. (SP/Rah)
PONTIANAK, SP - Keluarga dari empat terdakwa kasus pembunuhan yang terjadi di Jalan Imam Bonjol, Gang Peniti Baru, Kelurahan Benua Melayu Laut, pada 20 Desember 2017 lalu, meminta keadilan dari kasus yang telah masuk ke meja peradilan.

Dalam kasus yang mengakibatkan korban atas nama Zainal Makmur (44) tersebut, empat orang ditetapkan menjadi tersangka, yaitu Rachmat Kurniawan, Nizar Maulana, Firman Syamsurizal dan Hanafiah.

Kamisah, istri terdakwa M Hanafiah mengatakan bahwa dalam kasus ini, keempat terdakwa hanya berupaya mengamankan korban yang saat itu ditemukan di dalam rumah hanya menggunakan celana dalam dan kondisi penuh lumpur di sebuah rumah warga di Gang Peniti baru.

Berdasarkan cerita dari suaminya, Kamisah menyampaikan kembali kronologi kejadian tersebut yang terjadi pada Rabu subuh.

Saat itu, suaminya berada di rumahnya yang berada di gang berbeda, yaitu Gang Garuda II dan berjarak ratusan meter dari TKP. Dia mendapat telepon dari penjaga malam Gang Peniti Baru atas nama Abdul Hadi yang menginformasikan jika di Gang Peniti Baru, rumah nomor H2 ada pencuri yang memasuki rumah.

Abdul Hadi pun menghubungi Hanafiah, sekretaris RT karena saat itu ketua RT sedang tidak berada di tempat.

Mendapat telpon tersebut, Hanafiah langsung meluncur ke pos ronda untuk mencari bantuan dan bertemu dengan Rahmat Kurniawan dan Ridwansyah. Setelah itu Hanafiah dan Ridwansyah langsung ke lokasi namun untuk berjaga-jaga, Rahmat pulang ke rumah untuk mengambil sebuah senjata tajam.

Sebelum sampai ke rumah nomor H2 yang berada di ujung gang, keduanya diberhentikan penjaga malam yang sudah berada di depan rumah yang hanya berada beberapa meter dari depan gang dan memberitahukan jika pencurinya berada di rumah tersebut.

Sehingga saat itu Hanafi, Rahmat Kurniawan, Ridwansyah dan tetangga kiri dan kanan rumah atas nama Nizar dan Firman masuk ke dalam rumah tersebut.

Saat masuk ke dalam rumah, suaminya atas nama Hanafiah yang bekerja sebagai satpam, melihat korban yang saat itu sudah berlumuran lumpur dan tidak jelas kondisinya. Pemilik rumah saat itu menyangka jika korban yang masuk tersebut merupakan orang gila karena keadaannya yang setengah telanjang.

“Jadi bertiga lah dia menarik si korban itu, bukan menyeret ya. Di situ polisi BAP bilang menyeret,” ucapnya.

Saat itulah para terdakwa mencoba mengeluarkan korban, dan Rahmat mengeluarkan parang yang masih tersarung.
Rahmat kemudian memukul tangan korban agar melepaskan genggamannya dari kandang kucing, setelah itu korban memberontak dan mencoba lari yang kemudian ditangkap lagi dan kembali diketok Rahmat menggunakan parang yang masih tersarung, dan tanpa diketahui ternyata sarung parang tersebut rusak, sehingga bagian tajam parang mengenai korban.

Korban kemudian akan dibawa hingga keluar hingga menabrak Hanafiah hingga terjatuh.

Setelah dikeluarkan, korban sempat duduk dan sempat beberapa kali bangun. Kemudian Rahmat menelpon polisi tekait kejadian tersebut. Sesampainya pihak kepolisian di TKP kemudian melarang untuk menyentuh korban dan langsung masuk ke dalam rumah. Bahkan suaminya sempat pulang terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat dan kembali ke lokasi.

“Jadi mereka menelpon, kembali ke lokasi, diajak ke kantor polisi, jadi mereka ndak ada melarikan diri, nurut semuanya,” imbuhnya.

Setelah dimintai keterangan, keempatnya langsung ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan.

Menurut Kamisah, keempatnya hanya menarik dan mengetok korban, namun aneh jika hal itu menurutnya menyebabkan korban meninggal dunia.

Terkait kasus ini, pihak keluarga terus memantau perkembangannya, namun saksi-saksi yang dihadirkan oleh JPU tidak kuat.

Di antara saksi yang dihadirkan yaitu beberapa teman korban yang sempat ngumpul sebelum terjadinya insiden ini. Dari keterangan teman korban atas nama Agus, korban mabuk di Ambalat dan diantarkan temannya di depan kampus Asmi.
Hal yang menjadi pertanyaan, menurutnya korban sudah masuk ke rumah TKP sudah dalam keadaan setengah telanjang.

“Itu pertanyaannya sebenarnya,” ucapnya.

Pihak keluarga menurutnya dalam beberapa waktu berupaya mencari titik terang dengan mendatangi setiap rumah tetangga, dan ditemukan pernyataan baru dari salah satu tetangga atas nama Jai, yang mengatakan bahwa pada malam itu ada petugas yang menanyakan apakah Jai melihat orang lewat dengan ciri-ciri seperti korban, yang diketahui dalam keadaan mabuk dan habis berkelahi.

Terkait informasi awal bahwa kejadian ada diduga pencuri yang masuk ke rumah nomor H2, saat pagi diperiksa oleh warga, di rumah H2 yang merupakan rumah kosong ditemukan pecahan kaca depan, ceceran darah.

Untuk itu pihak keluarga juga mempertanyakan lokasi tersebut yang tidak dipasang garis polisi namun malah dibersihkan dan ditutup rapat dengan menggunakan seng pada hari itu juga. Di rumah tersebut juga menurutnya sempat ditemukan baju dan sepatu milik korban.

Pada kasus pembunuhan ini, Suara Pemred pada awal kasus sempat ke lokasi dan menemukan beberapa bercak jejak korban di tembok-tembok belakang rumah TKP yang sedikit bercampur darah dan tetesan darah di beberapa lokasi, sebelum akhirnya memanjat dari tembok belakang rumah TKP.

Keempat terdakwa termasuk dua diantaranya merupakan tetangga yang dimintai bantuan oleh pemilik rumah saat itu.
Untuk itu pihak keluarga mencoba memberikan klarifikasi terhadap kasus ini bahwa keempat terdakwa saat ini tidak ada niatan untuk melukai bahkan menyebabkan korban meninggal dunia.

Selama ini pihak keluarga telah berupaya hingga mengirimkan surat ke presiden, Kapolri, Kejaksaan Agung, hingga ke Komisi Yudisial.

Selain itu, hal lain yang menjadi pertanyaan pihak keluarga yaitu penjaga malam atas nama Abdul Hadi yang saat ini tidak tahu keberadaannya. Sebelumnya setelah keempat tersangka ditahan, penjaga malam tersebut sempat menjalankan permintaan bantuan sumbangan kepada tetangga dengan alasan untuk membantu mengeluarkan para tersangka.

Hal itu terbongkar saat perayaan Imlek, para tetangga yang mayoritas etnis tionghoa menanyakan apakah sumbangan tersebut sudah sampai pada mereka.

Saat itu keluarga sempat bingung dan membawa para tetangga tersebut untuk menanyakan perihal sumbangan tersebut langsung ke suaminya yang ditahan.

Hal ini juga menurutnya sudah dilaporkan ke kepolisian beserta barang bukti namun tidak mendapat tanggapan dari polisi.
Bahkan dalam persidangan, penjaga malam yang seharusnya menjadi saksi kunci hingga saat ini tidak pernah datang, bahkan undangan yang diberikan sempat salah dengan pekerjaan pada undangan merupakan anggota Polri dengan alamat yang juga salah.

Pihaknya juga menemukan beberapa fakta bahwa beberapa hari sebelum terjadinya insiden meninggalnya korban, anak korban yang bekerja di Pontianak yang merupakan warga Padang Tikar sempat terlibat kasus pelecehan.

Menurutnya keempat terdakwa tersebut keseluruhannya merupakan tulang punggung keluarga, sehingga pihaknya meminta pihak terkait untuk meneliti lebih dalam kasus ini dan meminta mempertimbangkan keberadaan para terdakwa.
Sebab keluarga meyakini bahwa para terdakwa tidak sepenuhnya bersalah dalam kasus ini. (rah)