Melihat Persoalan dan Nasib Petani Peladang di Kalbar (Selesai)

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 274

Melihat Persoalan dan Nasib Petani Peladang di Kalbar (Selesai)
KARHUTLA - Personel Koramil 1205 - 07/Sintang bersama Polsek Sintang Kota dan Manggala Agni memadamkan api yang membakar salah satu lahan di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu, Sintang, beberapa waktu lalu. (Dok Koramil Sintang)

Patroli Karhutla oleh Aparat Ganggu Psikologis Warga


Aktivis Lingkungan, Henrikus Adam menyayangkan aparat-aparat yang diturunkan ke lapangan dalam rangka mengendalikan dan mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) membekali diri mereka dengan senjata api. 

SP - Hal ini menurut Adam sangat berdampak bagi psikologis masyarakat. Terlebih selama ini memang pandangan masyarakat terhadap keberadaan aparat memang acap dipenuhi rasa takut. Mereka takut ditangkap dan diamankan karena aktivitas berladangnya.

Memang sejak pemerintah gentol melakukan upaya pencegahan Karhutla ini, masyarakat petani peladang menjadi dilematis. Pada satu sisi pemerintah berusaha mencegah dan berharap aktivitas tersebut bisa sesegera mungkin dikendalikan. 

Salah satu upayanya adalah dengan menerjunkan aparat-aparat seperti TNI dan Polri maupun melakukan pengeboman di atas lahan ladang warga dengan menggunakan air via helikopter. Di sisi lainnya masyarakat merasa aktivitas berladang merupakan aktivitas turun temurun yang erat kaitannya dengan adat budaya keseharian mereka dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan.

“Pada sisi lain, patroli yang dilakukan aparat guna mengantisipasi Karhutla, sangat diharapkan agar lebih humanis dengan mengedepankan sisi kemanusiaan," katanya. 

Dirinya akan sangat mengapresiasi bila aparat di lapangan tidak membekali diri dengan senjata (senapan api), agar secara psikologis hal ini tidak justru mengganggu bagi kerja-kerja antisipasi Karhutla yang dilakukan.

Adam menilai tentunya langkah antisipasi dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada memperhatikan efektifitas dan efisiensi, serta turut merangkul masyarakat di akar rumput mencegah terjadinya kebakaran meluas menjadi penting dilakukan.

Aktivis yang juga Kadiv Kajian, Dokumentasi dan Kampanye Walhi Kalbar ini menambahkan, secara khusus, catatan penting lainnya terkait kasus Karhutla adalah pentingnya keterbukaan dan sikap tegas aparat penegak hukum terhadap kasus Karhutla yang melibatkan korporasi untuk juga ditindak tegas. 

“Selama ini terutama pasca tahun 2015 ketika terjadi kebakaran yang terindikasi melibatkan korporasi yang ditangani pihak kepolisian, belum ada penyelesaian sehingga mengesankan bahwa penegakan hukum memang cenderung tajam ke bawah, namun tumpul ke atas,” kata Adam.

Ia melanjutkan bahwa bila situasi ini  tetap jalan di tempat, maka ada harapan besar ini turut menjadi atensi Kapolri, sehingga harus menjadi bahan evaluasi dan refleksi dari sisi penegakan hukum kasus Karhutla yang melibatkan korporasi di Kalimantan Barat selama ini.

Adam juga mengimbau masyarakat petani penggarap lahan pertanian, khususnya para peladang agar memastikan praktik pembersihan lahan dilakukan dengan terkendali sesuai kearifan lokal selama ini, sebagaimana pula diamanahkan Undang-undang. 

Sehingga diharapakan antara aparat dengan masyarakat terbangun rasa kebersamaan dan saling bergandengan tangan serta memiliki semangat untuk mengorganisir diri dengan saling meneguhkan tanpa harus merasa takut.

“Masyarakat di komunitas ditantang untuk menunjukkan cara-cara bijak dan terlibat dalam mengantisipasi Karhutla. Ini yang terpenting,” tutupnya. (nana arianto/bob)