Warga Bingung Status Vaksin MR

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 471

Warga Bingung Status Vaksin MR
Grafis ( Koko/Suara Pemred )
Ketua IDI Kalbar, Berli Hamdani
"Program vaksinisasi ini gratis. Campak yang komplikasi maupun rubella , itu bisa sampai ratusan juta untuk hanya seorang anak berobat, dan itu belum tentu sembuh."

Kadinkes Kalbar, Andy Jap
"Kampanye MR ini dilaksanakan dalam dua bulan. Bukan seminggu atau sehari, sehingga kita masih ada kesempatan waktu dari Agustus sampai September."

PONTIANAK, SP – Ketidakjelasan status vaksin campak Measles (M) dan Rubella (R). membuat warga bingung. Padahal, dampak penyakit rubella tak bisa dipandang sebelah mata, dan penting dalam menjaga generasi ke depan.  

Dampak rubella sangat dirasakan Cindy (25), orang tua dari anak pengidap rubella. Dia berkisah awal mula anaknya menderita penyakit itu. Saat mengandung Elicia, anak ketiganya, dia terpapar virus rubella. Ketika itu Cindy belum tahu tentang virus tersebut, dan bahayanya bagi janin.

“Waktu itu, saya mengalami ruam-ruam merah di sekujur tubuh saya. Saya belum mengetahui tentang virus rubella dan bahayanya. Makanya saya hanya memeriksakan diri ke Puskesmas,” ceritanya dalam workshop kesehatan yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak bersama UNICEF Indonesia di Hotel Santika, Pontianak, Rabu (8/8).

Ruam merah muncul sewaktu usia kehamilannya enam minggu. Di Puskesmas, dokter memberinya obat. Tak lama, kondisi badannya pulih kembali. Setelah itu, dia merasa tidak ada gejala lain pada janinnya.
 
Januari 2018, lahirlah Elicia Cristabel, putri ketiganya dengan berat badan 2 kg. Karena ukuran badan yang sangat kecil, Elicia dirawat dalam inkubator selama satu hari. Keesokan harinya, mereka diizinkan pulang lantaran tidak ada gangguan medis lain.
 
Pada usia dua bulan, Elicia baru aktif membuka mata. Tak lama, Cindy menyadari ada kejanggalan pada putrinya. Gejala pertama yang tampak adalah titik putih di bagian pupil mata kiri Elicia. Atas rekomendasi dari temannya, Cindy membawa anaknya ke salah satu dokter spesialis anak di Kota Pontianak.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui Elicia mengalami katarak dan kebocoran jantung. Cindy dan suaminya, Atmo (30) disarankan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Bermodalkan kartu BPJS, mereka membawa Elicia ke sebuah rumah sakit di Kota Pontianak. Dari pemeriksaan itu, diketahui kedua mata bayi Elicia mengalami katarak dan harus segera dioperasi. Namun, operasi harus dirujuk ke Jakarta.

Akhirnya, dari hasil penggalangan dana kerabat Atmo, ditambah bantuan pihak gereja, Elicia berhasil dirujuk ke Jakarta. Di Jakarta, bayinya ditangani dokter jantung, dan dari hasil pemeriksaan, jantungnya mengalami kebocoran sebesar 3 mm. Elicia disarankan mengikuti tes DNA dan hasil tes menunjukkan dia positif mengalami Congenital Rubella  Syndrome (CRS).

Pada 8 Mei 2018, Elicia menjalani operasi pertamanya, yaitu operasi pada mata kiri. Tak lama berselang, 22 Mei 2018, dia menjalani operasi mata kanan. Setelah itu, Cindy dan suaminya aktif memeriksakan kondisi bayi Elicia ke dokter. Kembali, dengan bantuan dana dari jemaat gereja, 8 Juli 2018, Elicia dibawa ke Jakarta. 

Dari hasil pemeriksaan ke sekian kali, diketahui kebocoran jantungnya bertambah 3,2 mm dan jahitan pada matanya kendor. Akhirnya, 17 Juli lalu, Elicia menjalani operasi jahitan mata. Selain mengalami katarak dan bocor jantung, Elicia juga mengalami gangguan pendengaran berat. 

Sekarang, di usia enam bulan, berat badannya baru 4,1 kg. Berat badan itu belum cukup untuk menjalani operasi menutup kebocoran jantung. Dokter hanya bisa memberi obat sambil menunggu berat badannya mencapai 6kg. Obat itu pun harganya mahal.

Pada saat-saat sulit itu, Cindy pernah ingin menjual kedua ginjalnya untuk pengobatan si buah hati. Dia hampir putus asa. Namun berkat dukungan suami dan keluarga, Cindy berjanji tetap semangat. Sekarang, dia bersama beberapa ibu dari anak pengidap Rubella, menginisiasi berdiri Rumah Ramah Rubella Kalbar. 

“Saya yakin bahwa warga Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat sudah cerdas. Jangan percaya dengan berita-berita yang tidak jelas sumbernya. Jangan ada Elicia-Elicia yang terlahir dengan gangguan medis yang sangat berat karena virus rubella. Mari bawa anak Anda untuk imunisasi MR,” tutupnya.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalbar, Berli Hamdani menjelaskan, ruam atau bintik merah merupakan salah satu gejala campak dan rubella. Campak lebih banyak menyerang anak, sementara rubella menyerang ibu hamil sejak usia kandungan masih sangat muda. Biasanya pada tiga bulan pertama kehamilan. 

“Yang mana bisa menyebabkan bayi di kandungnya mengalami sindroma rubella  bawaan,” katanya.

Salah satu gejalanya, anak mengalami katarak. Padahal, katarak merupakan penyakit orangtua. Namun penderita rubella sejak lahir sudah terkena. Tak hanya katarak, telinga juga bisa mengalami ketulian. 

“Kalau dia kondisinya berat sejak lahir. Otaknya tidak berkembang bahkan kepalanya kecil. Dan juga bisa menyebabkan kematian,” sebutnya.

Sementara campak sebenarnya penyakit yang memiliki gejala ringan. Gejalanya sama seperti penyakit infeksi lain; demam tiga hari, dan timbul bintik merah yang biasa dimulai dari kening, batas antara rambut dan dahi. Kemudian menyebar turun sampai ke seluruh tubuh. 

“Jadi itu cirinya dari campak, untuk masalah demam dengan timbul bintik merah atau yang disebut dengan RAS. Kemudian juga disertai dengan batuk, pilek, diare atau matanya merah,” jelasnya.

Anak rentan terkena penyakit ini lantaran memiliki daya tahan tubuh rendah. Terlebih penyakit disebabkan virus yang memang keberhasilannya tergantung daya tahan tubuh anak. Walau gejalanya ringan, jika kondisinya sudah berat bisa berbahaya. Penderita bisa mengalami kejang karena demam, bahkan menjadi radang selaput otak.

“Kalau sudah tahap itu pertolongan itu sangat sulit untuk dilakukan,” imbuhnya. 

Untuk mengantisipasi campak MR, anak sejak lahir sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap, yakni vaksinasi sampai usia enam bulan atau di bawah satu tahun. Pemberian imunisasi campak diberikan pada usia sembilan bulan ke atas. 

“Jadi itulah apa cara yang paling mudah, murah dan paling efektif untuk mencegah seorang anak terkena infeksi penyakit campak,” sambungnya.

Sebenarnya imunisai campak sudah lama dipergunakan. Tapi sekarang imunisasi ingin dikombinasikan dengan maraknya penyakit sindroma rubella bawaan. Bagaimana caranya supaya masyarakat, terutama anak-anak sampai usia 15 tahun cukup satu kali suntikan, tapi bisa mendapatkan dua perlindungan. Satu campak dan satunya lagi rubella. 

“Program vaksinisasi ini sebenarnya cara paling ekonomis, apalagi untuk masyarakat gratis. Campak yang komplikasi maupun rubella , itu bisa sampai ratusan juta untuk hanya seorang anak berobat, dan itu belum tentu sembuh,” jelasnya. 

Pro Kontra

Pro kontra lahir soal pemberian vaksin. Di masyarakat pun seakan terbentuk dua kubu, tim vaksin dan antivaksin. Salah seorang masyarakat Pontianak yang tidak memberi vaksin kepada anaknya, Lutfi mengatakan, dia lebih mempercayai kandungan Air Susu Ibu (ASI) memiliki antibodi yang lebih baik untuk anak.

“Jadi kalau kita menggunakan vaksin, kemungkinan antibodi yang ada di tubuh kita akan bercampur,” ujarnya.

Karena pencampuran tersebut, otomatis antibodi yang tercipta dari ASI akan hilang. Warga Jalan Tanjung Raya I ini mengaku, mendapatkan pengetahuan tersebut dari buku yang dibacanya berdasarkan penelitian ilmuan Jepang. Dia mengatakan bahwa, keluarga besarnya juga tidak menggunakan vaksin dengan kepercayaan yang sama.

Selain itu dari segi agama, menurutnya dari zaman dahulu tidak ada vaksin. Terkait haram atau halalnya vaksin, segala sesuatu saat ini mengarah pada Majelis Ulama Indonesia (MUI), sehingga harus dipercayakan sepenuhnya pada MUI.

“Dari zaman nabi itu dulu ndak ada namanya vaksin, nabi itu cuma memberi ASI dan madu, itulah yang jadi vaksin,” pungkasnya.

Masyarakat lain yang memvaksin anaknya, Myrna Yulyandary mengatakan dirinya hingga saat ini masih setuju penggunaan vaksin pada anak. Apalagi belum ada keputusan resmi dari MUI tentang halal haramnya vaksin MR.

“Kalaupun tiba-tiba ada keputusan dari MUI menyatakan haram, saya sebagai muslim yang baik, ndak lah mau vaksin anak saya,” ucapnya.

Namun berdasarkan pantauannya, saat ini berita yang beredar masih simpang siur terkait vaksin MR. Dia bahkan mencari tahu informasi yang benar. Seperti hasil laboratorium tim medis, pendapat dokter anak, dan teman-temannya yang turun langsung memberi vaksin.

Hingga saat ini, menurutnya para praktisi kesehatan yang dikenalnya masih meyakini bahwa, vaksin MR bebas dari kandungan bahan yang haram.

“Kadang kebanyakan ibu-ibu sekarang yang saya lihat di sosial media, suka makan berita mentah-mentah, ndak ditelusuri itu hoaks atau bukan,” imbuhnya.

Berdasarkan pengalamannya, anak yang mengalami sakit setelah divaksin bisa saja lantaran sudah tidak dalam keadaan fit saat diberi vaksin. Anaknya yang divaksin pun hingga kini tak pernah mengalami gejala aneh. Hanya sekadar demam ringan dan sembuh saat diberi obat penurun panas.

“Sedangkan kondisi anak saat vaksin kan wajib harus fit, itu lah jadi bahan bikin-bikin berita hoaks. Coba kalau ada anak yang rubella gara-gara ndak kena vaksin, diam-diam jak mereka,” tuturnya.

Tetap Jalan

Di Kota Singkawang, vaksinasi tetap dilanjutkan. Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Singkawang, A Kismed mengatakan, jika pemberian imunisasi campak dan rubella hingga kini masih tetap berlanjut. Tidak ada instruksi pusat untuk menunda, walau ada beberapa tempat yang ingin ditunda. 

"Ada juga pesantren yang menunda, tapi kita lihat perkembanganlah nanti sampai bulan September 2018," ungkapnya. 

Sementara Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Singkawang, Djoko Suratmiarjo mengatakan, berdasarkan laporan per tanggal 6 Agustus 2018, capaian imunisasi MR di Kota Singkawang masuk di peringkat ke-4 se-Kalbar yaitu sebanyak 12,82 persen. 

Adapun rinciannya, Kecamatan Singkawang Selatan mencapai 12,81 persen, Kecamatan Singkawang Timur 13,30 persen, Kecamatan Singkawang Utara 19,97 persen, Kecamatan Singkawang Barat 13,60 persen dan Kecamatan Singkawang Tengah 9,25 persen. 

"Dari angka ini capaian imunisasi MR di Kecamatan Singkawang Tengah sementara ini masih terbilang rendah," ujarnya. 

Dia pun tak menampik, jika rendahnya capaian imunisasi MR di Kecamatan Singkawang Tengah ini disebabkan maraknya informasi yang beredar di media sosial yang menyebutkan jika imunisasi MR belum mendapatkan sertifikasi halal dari MUI. 

"Sehingga beberapa sekolah khususnya yang muslim meminta penundaan sambil menunggu keputusan bersama antara Kementerian Kesehatan dengan MUI tentang masalah halal dan haram," ungkapnya. 

Disamping ada penundaan dari beberapa sekolah, diakuinya juga ada permintaan dari orang tua murid. 

"Karena ada beberapa orang tua murid yang menagih kita, meskipun dari sekolah anaknya sudah menunda," jelasnya. 

Sehingga dia pun menilai, jika keputusan antara halal dan haram ini menjadi salah satu penentu imunisasi MR yang sedang berjalan khususnya di Kota Singkawang. Kedua, ada kemungkinan sosialisasi dari pihaknya masih kurang gencar khususnya di Kecamatan Singkawang Tengah.

"Sebaiknya ditunda kalau ada yang demam batuk, jika kesehatannya dipastikan sudah membaik, baru boleh diberikan imunisasi, mengingat waktu imunisasi juga masih panjang dan berakhir pada bulan September 2018," katanya.

Minta Tunda 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sekadau, Kyai Mudlar mengatakan dirinya telah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana setempat terkait program imunisasi vaksin MR. MUI Sekadau meminta program ditunda sementara.

“Tadi kita sudah koordinasi ke Dinas Kesehatan, kita minta program imunisasi ini ditunda sementara waktu, khususnya bagi anak-anak yang beragama Islam,” ujarnya.

Dia menjelaskan permintaan tersebut merupakan ungkapan dari keresahan umat muslim yang mempertanyakan kandungan vaksin MR. Di mana sampai saat ini belum mendapatkan sertifikasi halal dari MUI pusat.

“Penundaan kegiatan, sampai ada kepastian atau fatwa MUI pusat melalui hasil koordinasi Kementerian Kesehatan dengan MUI Indonesia,” tambah Mudlar.

Menurut Mudlar, MUI pusat berharap bahan-bahan baku pembuatan vaksin MR dapat dikirim oleh produsen vaksin rubella dari India untuk diteliti di Indonesia. Sehingga segera dapat diambil keputusan melalui fatwa MUI.

Pada dasarnya MUI mendukung kegiatan atau program pemerintah terkait kesehatan anak. Meski demikian, secara agama perlu ada kepastian bahan kandungan vaksin atau obat yang dimasukkan ke dalam tubuh maupun dikonsumsi umat Islam.

Kepala Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Sekadau, ST.Imanuel, membenarkan adanya koordinasi Ketua MUI Kabupaten Sekadau. Dengan adanya permintaan MUI, maka khusus bagi anak-anak beragama Islam, untuk sementara tidak divaksin oleh petugas Puskesmas.

“Akan kita data ulang nanti, yang non muslim bisa dilanjutkan programnya, yang muslim sampai ada fatwa MUI,” sebut dia.

Bukan Masalah

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Andy Jap mengatakan tidak ada persoalan dengan pemberian vaksin MR sekalipun hingga saat ini MUI belum mengeluarkan fatwa halal haramnya vaksin. 

Kampanye pemberian vaksin berlangsung selama dua bulan hingga akhir September mendatang. Artinya, cukup banyak waktu merealisasikan target vaksin sembari menunggu hasil pemeriksaan LPPOM MUI. 

"Sejak awal sudah jelas, kampanye MR ini dilaksanakan dalam dua bulan. Bukan dilaksanakan dalam seminggu atau sehari, sehingga kita masih ada kesempatan waktu dari Agustus sampai September, " kata Andy Jap.

Dengan jenjang itu, dia berharap dalam waktu dekat sudah ada hasil dari Kementerian Kesehatan dan MUI terkait fatwa yang belum keluar tersebut. Sembari menunggu, pemberian vaksin tetap bisa dilakukan. Khususnya terhadap kalangan non muslim yang tidak terkait dengan persoalan halal ini. Dinas Kesehatan akan menyusun ulang jadwal pemberian vaksin yang sudah dibuatkan sebelumnya. 

"Kawan-kawan humas yang sudah menjadwalkan ini nantinya tinggal jadwalkan ulang saja, sehingga mana yang bisa kita masuk di awal bulan itu yang kita lakukan duluan, " ucapnya. 

Andi menaruh harapan besar, sekali pun ada penundaan, target pemberian vaksin yang telah ditetapkan pemerintah pusat yakni 95 persen di akhir September tetap bisa tercapai. 

"Dari sisi medis kalau capaian target tidak tercapai, takutnya berdampak pada tujuan awal kita dalam memberikan vaksin ini," imbuhnya. 

Selain itu, menurut Andi Jap dengan adanya pengunduran jadwal, ada kesempatan bagi pihaknya memberikan edukasi kepada masyarakat perihal pentingnya vaksin MR. Dengan demikian, masyarakat benar-benar paham mengapa vaksin penting dan tak terkesan sekadar ikut-ikutan. (lha/rah/iat/akh/rud/nak/bls)

Kepala Daerah Dukung Vaksinasi MR

Sejumlah kepala daerah di Kalimantan barat mendukung imunisasi campak (measles) dan rubella (MR). Misalnya Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili yang juga seorang ustadz. Dia mengungkapkan, pelaksanaan eliminasi Rubella dan imunisasi campak secara rutin, belum cukup untuk mencapai target eliminasi campak.

"Perlu dilakukan kampanye imunisasi tambahan, sebelum introduksi Vaksin Measles Rubella (MR) ke dalam imunisasi rutin," katanya. 

Dia pun mengajak semua elemen masyarakat menyukseskan imunisasi MR dalam rangka melindungi  anak dan keluarga dari campak dan rubella.

“Virus ini bisa menular dan dapat menyebabkan kematian, saya ingin seluruh masyarakat Sambas hidup sehat, dan semuanya bisa terbebas dari penyakit campak dan rubella," pungkasnya.

Tak hanya di Kabupaten Sambas, di Kabupaten Melawi, Bupati Panji menjelaskan program imunisasi MR merupakan program nasional yang seharusnya tak diragukan masyarakat.

“Karena vaksin ini sudah melalui penelitian dan hasil dari kegiatan ilmiah secara kedokteran dan keilmuan. Tentu sudah diuji dan dipraktikkan,” katanya. 

Program pemerintah itu sudah matang. Bahkan pemberian vaksin ini wajib, tidak perlu dimintakan persetujuan dari orangtua. Panji berharap seluruh masyarakat bisa mendukung dan memberikan kepercayaan, agar anaknya mendapatkan imunisasi MR. 

Apalagi imunisasi ini juga jadi upaya Kementerian Kesehatan, agar generasi bangsa ke depannya sehat dan terbebas dari penyakit tersebut.

“Anak saya tadi juga diberikan imunisasi MR. Tentu masyarakat kita ajak bersama untuk tidak ragu lagi,” ucapnya.

Panji mengatakan imunisasi ini menjadi bagian mempersiapkan generasi bangsa. Maka Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, guru sampai orang tua, diharapkan sungguh-sungguh.
 
"Pencanangan ini menjadi bukti di Melawi serius ikut memperjuangkan generasi yang sehat dan berkualitas bagi masa depan daerah dan bangsa. Ini bentuk kasih sayang dari kita karena anak dan generasi bangsa yang menjadi tanggung jawab kita seutuhnya," katanya.

Sasaran anak yang mendapat imunisasi MR di Melawi sebanyak 55.989 anak di 11 kecamatan. Sedangkan target imunisasi yakni 95 persen dari total sasaran. Hingga 8 Agustus, capaian di Melawi sudah di angka 20,09 persen. (eko/noi/bls)