Karhutla Kepung Pontianak, Titik Api Nyaris Masuk Pemukiman

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 611

Karhutla Kepung Pontianak, Titik Api Nyaris Masuk Pemukiman
PEMADAMAN API – Suasana petugas berjibaku memadamkan titik api yang mengendap di lahan gambut, kawasan Pontianak Selatan, Minggu (12/8). Titik api kini nyaris masuk ke pemukiman warga. (SP/Anugrah)
Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Wawan Kristyanto
"Itu mulai berapa hari yang lalu sampai kemarin sore, saya di TKP juga masih berasap, itu dekat perumahan"

PONTIANAK, SP – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terus terjadi di beberapa daerah di Kalimantan Barat. Parahnya, asap pekat akibat Karhutla ini menutupi sebagian besar wilayah Kota Pontianak.

Untuk di Kota Pontianak, kebakaran terparah terjadi di kawasan Jalan Sepakat II, Purnama dan Parit Haji Husein II.

Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Wawan Kristyanto mengatakan selain di wilayah-wilayah itu, Karhutla juga terjadi di Kabupaten Kubu Raya, yang notabene masuk dalam wilayah hukum Polresta Pontianak.

Mengatasi permasalahan ini, pihaknya menerjunkan seluruh Bhabinkamtibmas untuk mengecek kebakaran di lapangan. Selain itu memantau titik api berdasarkan pantauan satelit.

Dalam beberapa hari ini, personel Polresta Pontianak juga masih konsen berjibaku memadamkan api di Jalan Sepakat II ujung.

“Itu mulai berapa hari yang lalu sampai kemarin sore, saya di TKP juga masih berasap, itu dekat perumahan,” jelasnya, Minggu (12/8).

Pihak kepolisian masih terus menyelidiki sumber api dalam kebakaran ini. Kebakaran lahan saat kini sudah mulai meluas. Pasalnya yang terbakar merupakan lahan gambut yang cukup dalam. Setelah dipadamkan, kemudian api menyala kembali saat ditiup angin.

“Anggota kita, ditempatkan sampai malam di situ. Alhamdulillah juga sampai tadi malam (Sabtu (11/8), Kabag Ops di sana juga tidak terjadi,” imbuhnya.

Untuk di wilayah Kota Pontianak, yang masih terbakar saat ini hanya di wilayah Pontianak Selatan yang berbatasan dengan Pontianak Tenggara.

Berdasarkan pantauan pihaknya di lapangan, lahan tersebut kemungkinan tidak dengan sengaja dibakar. Karena merupakan semak belukar yang berdekatan dengan perumahan, selain itu tidak ada indikasi akan dibuat lahan perkebunan.

Lahan yang terbakar tersebut merupakan milik warga yang hingga saat ini diperkirakan sudah mencapai 20 hektare, dihitung secara total. Namun kebakaran tersebut terjadi pada titik-titik terpisah.

Pihaknya terus memantau wilayah yang mudah terbakar. Karena ada pula titik-titik yang rawan. Termasuk di wilayah perbatasan dengan wilayah hukum Polres lain, seperti Tayan atau Mempawah.

Personel yang disebar untuk pemantauan, seluruh Bhabinkamtibmas. Sementara personel di wilayah kota, jika ada wilayah terbakar maka akan diambil dari personel masing-masing Polsek untuk memadamkan.

Sementara untuk pelaku pembakaran, hingga saat ini ada dua orang yang diamankan di Polresta Pontianak. Di antaranya pelaku pembakaran lahan di Kecamatan Pontianak Timur dan Kabupaten Kubu Raya. Mereka masih menjalani proses hukum.

Kepala BPBD kota Pontianak, Saptiko dijumpai saat pemadaman kebakaran di Jalan Sepakat II ujung, Minggu (12/8) siang, mengatakan bahwa pihaknya sudah selama tiga hari berjibaku bersama tim pemadam swasta, TNI, Polri untuk memadamkan api.

“Upaya penanggulangan kita lakukan pemadaman, pemblokiran ke rumah warga, ditangani oleh BPBD, dari TNI, Polri dan banyak dari damkar Kota Pontianak, maupun damkar swasta,” jelasnya.

Menurutnya, pada hari pertama terbakar, api sempat menjalar hingga komplek perumahan. Namun sudah bisa diblokir. Hingga saat ini pihaknya tinggal melakukan pemadaman sisa kebakaran yang berada di tengah.

Sementara penyebab kebakaran sendiri, BPBD juga belum dapat memastikan secara pasti. Sebab untuk penyelidikannya merupakan ranah dari kepolisian. BPBD selalu intens berkomunikasi dengan pihak kepolisian.

“Jadi untuk membuktikan apakah ini dibakar atau terbakar, sengaja atau tidak itu kepolisian yang akan menangani,” katanya.

Saptiko menerangkan, BPBD setiap harinya menurunkan 10 hingga 20 orang, dengan peralatan tiga mesin pompa air. Dua mesin disiapkan di wilayah Pontianak Selatan, Tenggara, Kota, sementara satu mesin di Pontianak Utara.

“Jadi ada Satgas di Pontianak Utara satu yang siaga di sana,” tambahnya.

Pihaknya terus bersiaga untuk memadamkan dan memantau titik api di lapangan, bahkan sejak pagi hingga malam hari.

Sementara itu, terkait tupoksi atau keterlibatan pemadam swasta, Saptiko menjelaskan bahwa sebelumnya pernah diadakan rapat koordinasi terhadap hal ini. Damkar swasta menyatakan akan membantu jika lahan yang terbakar sudah mendekati rumah warga.

“Jaraknya 50 meter mereka punya andil di situ,” imbuhnya.

Namun di luar itu, mereka bisa saja terlibat, tergantung dari pihak damkar swasta itu sendiri.

Sementara itu untuk bantuan dari pemerintah kepada damkar swasta, hanya diberikan ketika berada di lapangan. Yakni untuk kebutuhan akomodasi dan konsumsi saja.

Pihaknya sendiri hingga saat ini masih menggunakan anggaran tanggap darurat dari BPBD, dan belum mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat.

“Kita hanya tergantung pada BPBD Kota Pontianak. Kita juga dibantu dari BPBD provinsi, ada timnya dari udara mereka membantu,” tuturnya.

Dia mengimbau agar masyarakat tidak membakar apa pun, termasuk sampah dan juga lahan. Karena lahan di Kota Pontianak kebanyakan gambut yang mudah terbakar jika musim kering.

Ketua Forum Pemadam Kebakaran Pontianak, Ateng Tanjaya menyebutkan, pemadam swasta di Kota Pontianak tidak memiliki peralatan yang memadai untuk mengatasi Karhutla. Pasalnya, pemadam swasta saat ini dipersiapkan untuk memadamkan api yang membakar gedung dan bangunan. 

Ateng menyadari, pemadaman lahan dan hutan memang harus menjadi tanggung jawab semua pihak, namun itu merupakan tugas utama Manggala Agni, BPBD dan BNPB. 

Selain itu, Ateng juga menmenyampaikan selorohnya agar pemadam swasta di Pontianak  bisa masuk Guinnes Book of Record.

Ini menurutnya bisa dinilai dari semangat para relawan, saat memadamkan kebakaran gedung dan lahan yang ada di Pontianak serta sekitarnya. 

Pantauan pada Minggu (12/8) siang, tampak helikopter water bombing berupaya memadamkan titik api di kawasan lingkar Kota Pontianak. Meliputi Kota Baru ujung, Jalan Perdana, Sepakat II dan sekitarnya. Setidaknya bom air ini dilakukan sebanyak dua kali.

Dinkes Klaim ISPA Masih Normal

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu menyampaikan bahwa hingga saat ini kabut asap yang terjadi masih bersifat fluktuatif.

Sebab, terkadang masih terjadi hujan. Sehingga seringkali ada dan tidak ada asap. Namun jika dua atau tiga hari tidak terjadi hujan, maka akan timbul kabut asap.

Berdasarakan laporan terakhir hingga pekan lalu, menurutnya angka kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang berkunjung di Puskesmas masih belum ada peningkatan yang signifikan.

“Jadi angka ISPA kita itu masih masuk dalam angka normal,” tuturnya.

Sebab ISPA ini menurut Handanu, ada atau tidaknya kabut asap, merupakan penyakit terbanyak yang berkunjung ke Puskesmas. Yang termasuk dalam kelompok ISPA, mulai dari batuk pilek, bersin-bersin, termasuk sakit tenggorokan, masih menjadi penyakit nomor satu.

“Tapi dengan adanya kabut asap ini belum ada menunjukkan peningkatan,” tambahnya.

Sementara dilihat dari angka Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), kadar kabut asap saat ini masih masuk dalam kategori sedang. Termasuk masih normal bagi orang sehat, hanya memang berbahaya bagi orang yang mempunyai faktor risiko penyakit pernafasan, atau bagi bayi dan anak.

“Misalnya ada penyakit asma, ada alergi terhadap udara dan segala macam. Itu kita harus hati-hati. Tapi kalau untuk masyarakat, atau manusia yang tidak ada masalah itu, ya kategori sedang ini masih belum membahayakan,” pungkasnya. (rah/and)