KOMDA KIPI Paparkan Investigasi Meninggalnya RWP

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 343

KOMDA KIPI Paparkan Investigasi Meninggalnya RWP
PAPARKAN – KOMDA KIPI memaparkan investigasi mereka terkait meninggalnya RWP, bocah asal Kubu Raya yang diisukan akibat vaksin MR di Kantor Dinas Kesehatan Kalbar, Senin (13/8). (SP/Shella)
PONTIANAK, SP – Komite Daerah Kejadian Pasca Imunisasi (KOMDA KIPI) memaparkan hasil investigasi mereka terkait isu meninggalnya RWP, warga Kubu Raya pasca imunisasi Measles Rubella (MR) beberapa waktu lalu. Hasil penelurusan medis menunjukkan RWP meninggal diduga akibat ensefalitis atau radang otak.

Ketua KOMDA KIPI, dr. Alvin Sinaga menjelaskan hasil itu didapatkan setelah mengumpulkan semua informasi dari pihak-pihak yang menangani almarhum. Mulai dari Puskesmas, tenaga kesehatan yang melakukan imunisasi, dokter yang memeriksa, dan Rumah Sakit Yarsi, Pontianak.

“Kesimpulan yang didapatkan bahwa penyebab kematian diduga ensefalitis (radang otak),” katanya saat pers rilis di Kantor Dinas Kesehatan Kalbar, Senin (13/8).
 
Pihaknya turut memaparkan kronologis kejadian, mulai dari tanggal imunisasi sampai pasca imunisasi. Tanggal 2 Agustus 2018, RWP diimunisasi MR dengan keadaan sehat. Ada form screening yang diisi oleh anak tersebut sebelum imunisasi yang ditandatangani oleh ayahnya. 6 Agustus 2018, anak ini dibawa berobat ke dokter praktik swasta di Siantan dengan keluhan sesak napas, dada sakit habis terbentur karena jatuh di sekolah. 

“Anak tersebut masih sekolah dari tanggal 4-9 Agustus yang lalu,” katanya. 

Kemudian, 10 Agustus 2018, pukul 10.30 WIB, si anak dibawa ke Puskesmas Telaga Biru dengan keluhan nyeri dada setelah terbentur dan sesak napas. Lantas dirujuk ke Rumah Sakit Yarsi. Pukul 11.00 WIB, RWP dibawa ke RS Yarsi karena masih sesak napas dan dalam perjalanan sempat pingsan. Dia merasa dada sesak, pusing kepala, dan muntah. 

“Pada hasil pemeriksaan gula darah, gula darahnya 414, mirip dengan orang yang mengalami kencing manis,” sebutnya.

Karena keadaannya sulit dan fasilitas di Yarsi tidak memadai, RWP dirujuk ke RSUD Soedarso kira-kira pukul 12.00 WIB siang. Di sana, kesadaran masih tetap menurun. Dari hasil pemeriksaan ditemukan gula darahnya 414 dan angka darah putihnya tinggi, yaitu 23.379. 

“Oleh karena kesadarannya yang terus menurun, dokter yang menangani pasien ini meminta pemeriksaan CT scan,” imbuhnya. 

Dari hasil pemeriksaan CT scan, kesimpulan radiologi menyatakan bahwa terjadi pembengkakan otak dan ini sesuai dengan gambaran ensefalistis. 

“Kesimpulan yang didapatkan bahwa penyebab kematian diduga ensefalitis (radang otak) berdasarkan hasil CT scan. Kenapa dikatakan diduga? Kita tidak sempat melakukan pemeriksaan khusus, yaitu pemeriksaan virologi. Di mana spesimen yang harus diambil adalah cairan sumsum tulang. Ini tidak dilakukan, maka istilah medisnya adalah diduga,” papar.

Alvin menambahkan, vaksin Campak dan Rubella tidak menyebabkan infeksi otak karena vaksin MR adalah virus yang sudah dilemahkan. Kejadian ini merupakan coinsiden kebetulan. RWP meninggal karena ensefalitis, kebetulan seminggu sebelumnya dia mendapatkan vaksinasi MR. Tidak ada hubungan kausal antara vaksinasi Campak dengan kematiannya. 

“Kalau memang sudah ada ensefalitis, pasti anak itu tidak divaksin. Kita pasti memastikan anak itu dalam kondisi yang cukup baik untuk diimunisasi dengan melakukan screening. Kalau semua dijawab tidak, berarti anak itu bisa diimunisasi,” ujar dr. Evelyn, dokter spesialis anak di RS Antonius. (lha/bls)

Komentar