Warga Imbon Pastikan Terdakwa Tak Bersalah

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 367

Warga Imbon Pastikan Terdakwa Tak Bersalah
DUKUNGAN - Sejumlah warga di Gang Peniti Baru, Jalan Imam Bonjol, Pontianak memberikan dukungan kepada terdakwa di Pengadilan Negeri Pontianak, Selasa (14/8) sore. (SP/Anugrah)
PONTIANAK, SP - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pontianak yang dipimpin oleh Hakim Ketua, Rudi Kindarto, melanjutkan persidangan terhadap kasus diduga pembunuhan yang terjadi di Gang Peniti Baru, Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Pontianak Selatan, di Pengadilan Negeri Pontianak, Jalan Sultan Syahrir, Selasa (14/8) sore.

Dalam kasus ini, korban atas nama Zainal Makmur (44), ditemukan meninggal dunia dengan beberapa luka. Dalam kasus tersebut telah ditetapkan empat orang tersangka yang kini telah menjadi terdakwa, yaitu Rachmat Kurniawan, Nizar Maulana, Firman Syamsurizal dan Hanafiah.

Sidang ini dilanjutkan dengan agenda pembacaan pembelaan atau pledoi terhadap keempat terdakwa yang dilakukan oleh tim penasehat hukum.

Setelah dilakukan pembacaan pembelaan terhadap keempat terdakwa, Ketua Majelis Hakim mempersilahkan keempat terdakwa menyampaikan pembelaan pribadinya kepada majelis hakim yang disampaikan secara tertulis.

Dijumpai seusai sidang, Ketua Tim Kuasa Hukum keempat terdakwa, Edi Aswan mengatakan bahwa BAP dari kepolisian hanya merupakan data awal untuk menggali fakta-fakta persidangan. Setelah melihat fakta persidangan, dari keterangan saksi, menurutnya tidak ada yang dapat membuktikan bahwa tujuan dari keempat terdakwa memang berniat menyebabkan kematian korban.

“Justru malah sebaliknya, fakta yang terungkap dalam persidangan itu sebelum terdakwa ini bertemu dengan korban di rumah ibu Dayang, yang diduga tadi pencuri itu. Korban sudah mengalami luka dan pendarahan yang diakibatkan luka benda tajam,” jelasnya.

Pada fakta persidangan, menurutnya pada sekujur tubuh korban terdapat luka karena benda tajam. 

Ia membantah ada indikasi luka, dikarenakan salah satu terdakwa yang menggunakan parang. Sebab terdakwa saat itu hanya sekadar mengetok kepala korban saja dengan pelan, karena korban terus melawan dan memberontak saat akan dikeluarkan dari rumah, sebab tidak ada yang mau menolong dan membawa korban keluar dari rumah.

Saat kejadian tersebut, korban masih berposisi sebagai orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah milik Dayang, dalam keadaan setengah telanjang dan penuh lumpur.

“Katakanlah dia korban. Tapi dia bukan korban dari terdakwa ini. Namanya korban itu definisi kalau dia seakan-akan dihabisi,” jelasnya.

Dikatakannya bahwa korban ini merupakan korban dari orang yang tidak dikenal, karena sudah mengalami luka sebelumnya, akibat penganiayaan oleh orang lain di rumah No H2 yang merupakan awal tempat diduga sebagai lokasi diduga adanya orang asing masuk yang dikira merupakan pencuri, di mana jarak antara TKP ditemukannya korban dengan rumah tersebut cukup jauh.

Pada rumah H2 tersebut, dikatakannya ada ditemukan ceceran darah dan pakaian milik korban. Namun disayangkan juga saat persidangan, pakaian milik korban tidak dihadirkan dalam persidangan.

“Dan yang lebih lagi, terindikasi bahwa penyebab matinya korban ini karena luka akibat putusnya urat nadi paha, sehingga mengakibatkan banyaknya pendarahan,” ucapnya.

Hal itu menurutnya terungkap pada saat terdakwa Rachmat Kurniawan (Iwan) dibawa oleh salah satu personel Polresta atas nama Jatmiko ke RS Sudarso dan dipertemukan dengan dokter forensik. 

Saat itu dokter forensik menunjukkan gambar pada layar komputer kondisi korban, dan disampaikan bahwa korban meninggal, karena putusnya urat nadi pada pangkal paha.

Untuk itu, pihaknya mempertanyakan luka pada pangkal paha tersebut disebabkan oleh siapa. Sebab terdakwa hanya sekadar mengetok saja.

Selain itu, dalam fakta persidangan juga ada keterangan saksi atas nama Anggi yang melihat pada bagian kepala korban sudah berdarah.

“Jadi luka di kepala itu bukan karena ketokkan dari salah satu terdakwa yang membawa parang. Karena parang itu, pada saat diketok masih dalam keadaan bersarung,” tambahnya lagi.

Menurutnya penetapan keempat terdakwa ini terkesan dipaksakan, karena kelemahan penyidik untuk menggali fakta-fakta sebelum korban berada di TKP rumah milik Dayang.

Selain itu, informasi adanya orang yang diduga pencuri tersebut diketahui Hanafiah yang merupakan Sekretaris RT, penjaga malam yang bernama Abdul Hadi melalui sambungan telepon, sebab saat itu Ketua RT sedang tidak berada di tempat.

Disampaikan Edi, pada BAP Abdul Hadi sebelumnya sempat melihat korban dikejar beberapa orang di tepian sungai, yang selanjutnya disampaikan kepada Hanafi diduga ada pencuri yang masuk ke rumah H2.

Pihaknya menyayangkan, Abdul Hadi selaku saksi kunci dalam kasus ini tidak pernah bisa dihadirkan hingga persidangan ketujuh, tanpa alasan yang jelas.

Jika dilihat secara fakta, maka menurutnya sebelum korban berada di rumah Dayang, korban sudah terindikasi mengalami penganiayaan, hal itu terlihat dari ceceran darah yang terlihat dari rumah H2 hingga ke belakang rumah Dayang, serta bercak darah bercampur lumpur saat korban memanjat tembok belakang.

Pada malam itu juga korban juga sempat minum minuman beralkohol di Ambalat bersama temannya hingga korban di antarkan oleh temannya di depan kampus Asmi sekira pukul 01.00 WIB, yang juga terungkap di pengadilan. Sementara kejadian di rumah Dayang sekitar pukul 03.00 WIB.

“Jadi antara jam 01.00 WIB hingga jam 03.00 WIB itu kita tidak tahu, apa yang terjadi dengan korban,” tambahnya.

Hal lainnya, terdakwa juga tidak memukul tangan, melainkan hanya mengetok jari korban yang saat itu berpegangan pada kandang kucing.

Terkait hasil penyebab kematian, pihak RS Bhayangkari memang telah mengeluarkan hasil visum penyebab kematian, yang disebabkan oleh luka-luka, baik pada rongga kepala maupun beberapa di sekujur tubuh korban. Namun penyebab kematian akibat luka pada bagian paha tidak terungkap dalam hasil visum tersebut.

Para keluarga, teman dan tetangga keempat terdakwa tampak hadir dalam persidangan ini, bahkan saat keempat terdakwa turun dari mobil tahanan yang menjemput, tangis haru para istri, keluarga dan juga anak para terdakwa tak dapat terbendung.

Kesempatan sekejap itu digunakan oleh para keluarga untuk berpeluk dan melepas rindu pada para terdakwa.

Ketua RT02/RW 11, Kelurahan Benua Melayu Laut, Nuriman yang juga turut hadir memberi dukungan moril mengatakan, bahwa kehadiran dirinya bersama masyarakat yang lain, karena merasa ada banyak kejanggalan yang perlu diungkap dalam kasus ini.

“Mereka ini (terdakwa) hanya sekadar menolong, secara spontanitas, karena penjaga malam yang minta tolong, itulah bentuk solidaritas masyarakat di gang kita,” ucapnya.

Dia mengatakan bahwa masyarakat meyakini bahwa keempatnya tidak bersalah dalam kasus ini.

Sebab masyarakat mengetahui secara pasti bagaimana keseharian dari keempat terdakwa, yang dikenal sangat baik.

Dikatakannya juga akibat kasus ini, masyarakat menjadi takut, sebab dari yang awalnya keempatnya berniat memberi bantuan malah menjadi tersangka.

“Ini membuat apatis nanti warga,” imbuhnya. (rah/bob)