Pawai Obor Bawa Energi Kota Khatulistiwa

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 498

Pawai Obor Bawa Energi Kota Khatulistiwa
BAWA OBOR – Plt Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono didampingi Gubernur Kalbar Sutarmidji dan Ketua INAPGOC, Raja Sapta Oktohari membawa obor menuju panggung utama di Taman Alun Kapuas, dalam Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Pontianak, Rabu (19/9).
Ketua INAPGOC, Raja Sapta Oktohari
"Dari semua torch relay yang kami lewati, ini yang paling seru, ini yang paling yang ramai, dan ini yang paling rapi. Bangge kite jadi orang Pontianak."

Ketua DPD RI, Oesman Sapta Odang
"Saya bangga kepada negara. Selamat berjuang. Selamat menjaga harga diri bangsa."

PONTIANAK, SP – Kemeriahan kirab Obor Asian Para Games di Kota Pontianak seakan memancarkan energi Asia dari Kota Khatulistiwa, Rabu (19/9). Warga kota tumpah ruah ke jalan, meski turun hujan. Momen ini memang istimewa, lantaran kali pertama.

Di sepanjang obor dibawa, warga mengular ingin melihat langsung api abadi Mrapen, Desa Manggarmas, Jawa Tengah. Dari Istara Rakyat Kalbar, api dikirab Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang, Gubernur Kalbar Sutarmidji, Ketua Indonesia 2018 Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC) Raja Sapta Oktohari, dan peraih emas Asean Para Games 2005, dan 13 cabor renang Wahdina yang menunggang VW Safari berwarna jingga.

Setelah diestafet, akhirnya Plt Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menancapkannya di panggung kehormatan, di depan Taman Alun Kapuas. Sejurus kemudian, deklarasi “Gelorakan Semangat Peduli Disabilitas” dilangsungkan. Flash Mob Torch Relay Pawai Obor Asian Para Games menambah semangat mereka yang hadir.

"Ini sejarah baru bagi Pontianak," kata Ketua INAPGOC Asian Para Games 2018, Raja Sapta Oktohari.  
 
Tak hanya sejarah baru bagi Pontianak. Pagelaran Asian Para Games juga jadi catatan baru bagi Indonesia. Baru kali ini pekan olahraga penyandang disabilitas se Asia dilangsungkan di nusantara.

Okto menjelaskan, kirab obor yang turut digelar di Pontianak, adalah rangkaian acara penyambutan pembukaan Asian Para Games 2018 yang puncaknya digelar 6 hingga 13 Okteber mendatang.

"Setelah ini, tinggal dua lagi kota yang akan dilintasi. Yaitu, Medan dan Pangkal Pinang. Setelah itu tanggal 30 September, kita akan kembalikan ke Jakarta untuk persiapan di acara pembukaan," terangnya.

Kalbar dipilih jadi salah satu perlintasan obor Asian Para Games karena dianggap salah satu daerah penting. Sebab di Kalbar terdapat titik kulminasi. 

"Jadi kulminasi itukan simbol. Di sini kita juga digelorakan semangat peduli disabilitas, sekaligus mempromosikan kegiatan Asian Para Games 2018," katanya.

Dalam Asian Para Games 2018, setidaknya ada 5.000 orang terdiri dari atlet dan ofisial yang terlibat langsung. Okto pun mengatakan, penyambutan Obor Asian Para Games di Pontianak merupakan kegiatan paling seru dan paling ramai sepanjang perjalanan. 

“Dari semua torch relay yang kami lewati, ini yang paling seru, ini yang paling yang ramai, dan ini yang paling rapi. Bangge kite jadi orang Pontianak,” ujar pria yang disapa Okto itu.

Di tempat sama, Plt Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan, masyarakat Kota Pontianak sangat mendukung penyelenggaraan Asian Para Games di Indonesia. Edi mengharapkan, pawai obor atau torch relay ini dapat menginspirasi bangsa Indonesia, khususnya dan Asia pada umumnya. 

“Semoga torch relay juga dapat memberikan manfaat, untuk memperlihatkan perhatian bagi penyandang disabilitas dan potensi daerah, melalui keramahan hingga destinasi wisata khususnya Kota Pontianak. Mari gelorakan semangat peduli disabilitas,” papar Edi.

Ketua DPD RI, Oesman Sapta berharap, seluruh rangkaian pelaksanaan Asian Para Games berjalan sukses. Dia mengatakan, gelaran pertama Indonesia ini bisa jadi produk olahraga baru yang penuh semangat. Sebab, atlet-atlet yang akan berlaga memiliki keterbatasan fisik, tapi kemampuannya sangat luar biasa. Hal ini harus jadi contoh bagi orang yang sehat.

"Saya bangga kepada negara. Selamat berjuang. Selamat menjaga harga diri bangsa," katanya.

Perhatikan Atlet

Beberapa atlet Asian Para Games asal Pontianak, turut hadir dalam penyelenggaraan pawai obor. Atlet renang Asian Para Games dari Pontianak, Rusdiana mengatakan acara pawai obor yang baru pertama kali melewati Kota Pontianak, cukup istimewa. Perempuan yang menjadi atlet sejak 2011 itu juga menambahkan, perhatian pemerintah pada atlet penyandang disabilitas cukup bagus. 

“Sejauh ini, perhatian pemerintah terhadap para atlet disabilitas, cukup bagus,” tutur Rusdiana.

Satu di antara atlet disabilitas Kota Pontianak, Deni Hendra Lesmana pun mengapresiasi sarana dan prasarana olahraga, khusus disabilitas yang disediakan oleh Pemerintah Kota. Menurut dia, apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah selama ini sangat memudahkan dirinya. 

"Sangat-sangat mendukung untuk kami latihan dan juga alhamdulillah, kita di sana tidak bayar. Alhamdulillah gratis," ujar atlet angkat besi Kota Pontianak tersebut. 

Hanya saja, ke depan dirinya meminta pemerintah untuk meningkatkan fasilitas yang selama ini sudah cukup baik. Dia pun berharap atlet disabilitas diberi kesempatan bekerja di instansi pemerintah maupun swasta.

Sekalipun dirinya belum berkesempatan menjadi atlet Timnas Indonesia, dia mengaku akan terus berlatih, agar bisa mewakili Indonesia di berbagai kejuaraan angkat besi.

"Alhamdulillah saat ini, baik itu normal maupun disabilitas, tidak dibedakan-bedakan. Itu disamakan, baik itu bonus maupun fasilitas lainnya," tuturnya.

Deni saat ini sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ajang tingkat provinsi.

"Kita bulan Desember akan mobile, untuk mempersiapkan PON 2020. Saya menargetkan emas angkat berat," tutupnya.

Perekat Bangsa 

Direktur Wahid Institut, Yeni Wahid jadi salah satu tokoh yang menyambut secara estafet obor Asian Para Games yang diarak keliling Kota Pontianak. Dia mengatakan, pemerintah harus memiliki kontribusi nyata dalam upaya menyatukan masyarakat, salah satunya melalui bidang olahraga. 

"Komitmen olahraga ini harus mampu kita tumbuhkan sebagai perekat anak bangsa," ujar putri Presiden ke 4 Indonesia ini.

Menurut Yeni, dalam dunia olahraga semua masyarakat adalah sama dan menjadi satu, tanpa peduli latar belakang. Semua disatukan semangat olahraga. Dia pun sangat mendukung Asian Para Games di mana Indonesia jadi tuan rumah. 

Agenda ini harus jadi momentum pemerintah semakin memperhatian para penyandang disabiltas memperoleh hak yang sama. Sebab semua orang berhak untuk memperoleh kesempatan yang sama, untuk berprestasi tanpa harus dibatasi oleh keadaan fisik mereka. 

"Saya sendiri, kedua orang tua saya adalah penyandang disabiltas. Dan Asian Para Games ini harus mampu menjadi semangat dan energi bagi kita, untuk kompak dan bersatu," ujarnya.

Lebih lanjut, Yeni berpesan kepada segenap lapisan masyarakat, agar selalu belajar dari pengalaman di masa lalu. Tidak gampang terprovokasi serta terhasut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang bisa mengancam keutuhan NKRI. 

Dia juga berharap, orang-orang yang berkepentingan terhadap kekuasaan, tidak menggunakan segala cara dalam mencapai ambisi sampai harus mengorbankan masyarakat. 

"Jangan gunakan cara-cara yang tidak benar untuk mencapai tujuan," pintanya.

Beri Bonus

Gubernur Kalbar, Sutarmidji mengucapkan terima kasih, karena ibu kota Kalbar dipilih sebagai salah satu kota yang disinggahi Obor Asian Para Games. 

Menurutnya, ada yang istimewa saat Obor Asian Para Games berada di Pontianak. Sebab, Pontianak merupakan kota yang memiliki pertemuan titik nol derajat lintang utara dan selatan. 

"Sehingga ini perjalanan Obor Asian Para Games terjauh," ucapnya. 

Bagi Sutarmidji, kegiatan ini membawa berkah tersendiri. Karena lewat momen tersebut, sejumlah potensi wisata di Pontianak bisa ikut dipromosikan. 

"Lewat pawai obor ini, orang akan semakin kenal yang namanya Pontianak dan Kalbar," katanya.

Dalam Asian Para Games 2018, ada tiga orang atlet Kalbar yang akan mewakili Indonesia. Tiga atlet tersebut, terdiri dari atlet cabang olahraga atletik, renang dan angkat berat. 

"Jika bisa sumbangakan medali, Pemprov Kalbar akan siapkan bonus. Kita sudah siapkan," kata Sutarmidji.

Tak hanya itu, Sutarmidji juga berjanji ke depan akan memberi ruang bagi penyandang disabilitas, untuk bekerja di instansi pemerintahan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). 

Persiapan Matang

Satu di antara Leader Torch Ranger Pontianak, Juliansyah bercerita, mereka mempersiapkan kegiatan itu kurang lebih tiga hari. Hanya saja, sebelumnya, mereka yang bertugas membawa bendera 41 negara ditambah 1 bendera INAPGOC dan bendera Asian Paralimpic Comite dan menjadi Laison Officer, sempat diberi pelatihan Agustus lalu.

“Kami Torch Ranger Pontianak berjumlah 70 orang sudah diberi pelatihan selama 3 hari pada bulan Agustus. Di mana kami telah diajarkan menangani para atlet disabilitas,” ceritanya.

Pihaknya senang mendapat salah satu tugas negara, dalam kegiatan Pawai Obor Asian Para Games 2018 yang melewati Kota Pontianak.

Sebenarnya, kerja mereka tak hanya sesingkat itu. Sejak sebulan terakhir, mereka gencar melakukan sosialisasi kegiatan Asian Para Games 2018. Melalui media sosial, flasmob di berbagai tempat keramaian pun dilakoni.

Dia bangga bisa jadi bagian dalam pawai obor yang menarik perhatian masyarakat. Warga kota memang tumpah ruah sepanjang jalan kirab.

“Harapan kami, para atlet Kalbar yang akan bertanding di Asian Para Games dapat mengharumkan nama Indonesia dan Kalimantan Barat,” tutupnya. (abd/iat/lha/nak/bls)

Persiapan Sudah 95 persen

Sekjen INAPGOC, Bayu Rahadian mengatakan persiapan penyelenggaraan Asian Para Games 2018 yaitu ajang olahraga tingkat Asia bagi penyandang disabilitas yang akan diselenggarakan di Jakarta pada 6-13 Oktober mendatang sudah mencapai 95 persen.

"Yang belum kesiapan lebih ke penataan-penataan software juga beberapa venue tinggal finishing," kata Bayu di sela-sela sosialisasi Asian Para Games di Kementerian Sosial di Jakarta, Rabu (19/9).

Bayu menjelaskan, sentuhan akhir ini untuk arena pertandingan seperti akses untuk atlet dan penonton. Terutama untuk atlet penyandang disabilitas, akses ke arena, ruang ganti dan penginapan.

"Kalau tidak bisa permanen, kita upayakan temporer," tambah Bayu.

Pelaksana Asian Para Games 2018 (INAPGOC) juga menyiapkan 8.000 relawan untuk mendampingi atlet dan tamu serta lainnya karena mereka butuh pendampingan khusus. Sebelumnya Kementerian Sosial telah memberikan pelatihan kepada 300 koordinator relawan.

Menurut Menteri Sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita, koordinasi dengan INAPGOC sudah dilakukan sejak awal karena Kemensos menjadi bagian dari kepanitiaan Asian Para Games.

Dalam Keputusan Presiden RI Nomor 2 Tahun 2016 tentang Panitia Nasional Penyelenggaraan Asian Para Games 2018, pada pasal 5 disebutkan bahwa Menteri Sosial merupakan anggota Panitia Pengarah dan merupakan Wakil Ketua I Panitia Penyelenggara Indonesia Asian Para Games 2018.

Kementerian Sosial bertugas memberikan pelatihan kepada koordinator volunter Asian Para Games, memfasilitasi penyediaan transportasi yang memenuhi persyaratan aksesibilitas untuk peserta Asian Para Games.

Kemudian melakukan sosialisasi kepada penyandang disabilitas panti sosial, Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS), monitoring dan evaluasi pada fasilitas yang digunakan selama penyelenggaraan Asian Para Games 2018.

Juga memfasilitasi penyandang disabilitas yang akan menyaksikan pertandingan, serta membantu mengkoordinasikan Games Legacy Asian Para Games 2018 untuk menjadikan Indonesia sebagai negara ramah disabilitas. (ant/bls)