Belajar Menulis, Pers Mahasiswa WARTA IAIN Pontianak

Ponticity

Editor Angga Haksoro Dibaca : 335

Belajar Menulis, Pers Mahasiswa WARTA IAIN Pontianak
Pontianak, SP – Lembaga Pers Mahasiswa WARTA Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Kalimantan Barat mengadakan pelatihan jurnalistik tingkat dasar, Sabtu (20/10).  

Acara yang dilaksanakan di Gedung  Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (FUAD), diikuti 30 calon wartawan.  

Pemberi materi, Pimimpin Redaksi Suara Pemred, Muhlis Suhaeri, mengajukan pertanyaan soal motivasi terjun ke dunia pers. Pria kelahiran Jepara itu menjelaskan bagaimana memahami bahasa, teknik menulis yang baik, dan melakukan riset liputan.  

Hal pertama yang harus dilakukan oleh jurnalis sebelum menulis berita adalah mendengar dari orang sekitar apa yang sedang terjadi. “Pentingnya menulis untuk mengabadikan sebuah pristiwa yang  akan dipelajari oleh genarasi yang akan datang. Belajarlah menulis apa yang terjadi di sekitar kita,” kata penulis buku “Di Balik Novel Tanpa Huruf ‘R’”.    

Muhlis menjelaskan awal belajar menulis adalah menulis buku harian. Menulis sama dengan memberikan informasi agar orang mengetahuinya suatu kejadian yang dialami.  

“Prinsip dasar kebebasan pers, yaitu pers yang idependen, cerdas dan mencerdaskan. Pers hadir dari mahasiswa untuk mahasiswa, dan menulis permasalahan dari mahasiswa, atau mengenai isu-isu kampus,” ucapnya.  

Pembicara  berbagi ilmu mengenai mengorganisir rapat redaksi. Rapat redaksi memutuskan topik yang akan diangkat. Memutuskan penugasan tema liputan, mengumpulkan data melalui wawancara sesuai topik, mengevaluasi data, melakukan penulisan, dan terakhir editing.  

“Menulis bukan sekadar mengetik ada  tahapannya. Menulis harus mengeluarkan pikiran yang jernih menggunakan panca indra. Jika hal ini tidak diterapkan, tidak akan mendapatkan tulisan yang baik.”  

Fokus saat menulis. Fokus merekam adegan-adegan. Memutuskan sudut pandang yang akan menjadi fokus tulisan dan membuat pembaca merasakan apa yang kita tulis.  

Diakhir materi dilakukan diskusi bersama perserta mengenai pembuatan berita. “Dengan adanya penerbitan idependen, orang memenuhi kebutuhan hidupnya melalui pekerjaan menulis,” kata Muhlis.  

Herman Pelani Sandu panitia kegiatan belajar berharap, apa yang disampaikan oleh pemateri dapat dipraktikan. “Ini menjadi tolak ukur kita. Bahwa kita di LPM proses belajar bersama itu penting. Ingat, mahasiswa adalah agen perubahan,” kata Herman Pelani Sandu.  

Penulis: Napipah Badriyah / LPM Warta