Donasi Gempa Sulteng, Alumni UGM Nobar Tengkorak

Ponticity

Editor Angga Haksoro Dibaca : 203

Donasi Gempa Sulteng, Alumni UGM Nobar Tengkorak
Pontianak, SP - Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Kalimantan Barat, Minggu (21/10) malam, nonton bareng film Tengkorak di XXI Transmart Kubu Raya.  

Nonton bareng ini dihadiri alumni UGM, pemerhati film, dan pengiat seni di Kota Pontianak. Tengkorak adalah film fiksi ilmiah yang diproduksi Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.  

Film yang naskah dan penyutradaraannya digarap Yusron Fuadi ini bercerita tentang penemuan tengkorak setinggi 2 kilometer pasca gempa Yogyakarta tahun 2006.  

Selain Yusron Fuadi, film ini juga diperankan oleh Eka Nusa Pertiwi. Film yang mengambil lokasi syuting Yogyakarta ini memakan waktu 4 tahun proses produksi.  

Film ini sebenarnya tidak tayang di XXI Pontianak. Tapi karena Kagama Kalbar berniat melangsungkan nonton bareng dan mengumpulkan donasi untuk korban gempa di Palu, film ini ditayangkan malam tadi.   

Panitia acara, Yeni Mada mengungkapkan nonton bareng ini merupakan sarana  silaturahmi alumni UGM di Pontianak. Selain sebagai bentuk dukungan terhadap karya teman-teman UGM karena film Tengkorak digarap oleh dosen dan mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.   

”Nobar ini sebagai bentuk dukungan kita terhadap karya  teman-teman UGM dan sebagai ruang silaturahmi dengan sesama alumni sekaligus kita berdonasi untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di Palu,” kata Yeni.   

Saat nonton bareng, hadir pula pemeran film Tengkorak, Eka Nusa Pertiwi. Eka memberikan kata pengantar sebelum film ditayangkan.  

Film Tengkorak sudah ditayangkan di beberapa festival film seperti Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Balinale International Film Festival di Bali, dan Cinequest International Film Festival di California, Amerika Serikat.  

Film ini bahkan masuk nominasi Best Film untuk kategori Science Fiction, Fantasy, dan Thriller pada ajang Cinefest 2018 di California, AS.  

“Film ini tentang penemuan tengkorak setinggi 2 kilometer di Yogyakarta pada tahun 2006. Penemuan ini kemudian memunculkan banyak respons dan film ini mencoba menunjukkan bagaimana respons umat manusia terhadap penemuan tengkorak. Respon agama, sosial, politik, dan budaya. Semuanya memiliki respons berbeda,” kata Eka.  

Eka Nusa Pertiwi menuturkan bahwa ‘Tengkorak’ membawa pesan agar manusia tidak membuat kerusakan. Dunia yang semakin bergerak canggih harusnya diimbangi dengan adaptasi, pola pikir yang semakin cerdas dan berkembang.

“Bagaimana pikiran dan tindakan seimbang. Manusia menguasai teknologi, bukan teknologi yang menguasai kita.”    

Sebagai pemeran film, Eka mengaku kesulitan mengatur intensitas dan semangat karena syuting hampir memakan waktu 139 hari dengan proses produksi yang panjang.  

“Film Tengkorak benar-benar dimulai dari nol. Tidak ada budget, modal nekad dan keberanian. Kru-krunya bukan dari orang film, sutradaranya bekerja sama dengan mahasiswa dan mengajarkan mahasiswanya untuk membuat film. Ini proses yang panjang banget,” ungkapnya.   

Eka berharap variasi jenis film di Indonesia semakin beragam. Sineas Indonesia jarang mengangkat fiksi ilmiah menjadi genre utama sebuah film. Karena itulah, kehadiran ‘Tengkorak’ ibarat angin segar yang membawa inspirasi dan semangat baru bagi penonton.   

Salah seorang penonton, Alfius Dedi mengungkapkan film Tengkorak memang unik. Ide cerita yang tidak biasa hingga eksekusi adegan-adegan demonstrasi yang dari potongan aksi yang pernah terjadi di negeri ini. 

“Pesan film ini sebenarnya sangat dalam. Tengkorak bicara tentang kemanusiaan. Tentang orang-orang yang memiliki perspektif berbeda terhadap kemunculan tengkorak, lalu perspektif yang berbeda ini membuat perpecahan. Alih-alih ingin menyelamatkan bumi mereka justru membuat keadaan tambah kacau, tambah rusak parah,” ujarnya.  

Film Tengkorak juga mengangkat budaya lokal dan membumi. Banyak percakapan bahasa Jawa muncul. Wajar karena lokasi syuting di Yogyakarta. Ada juga rekaman yang menampilkan peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lalu.  

Penulis menggunakan banyak rekaman untuk menggambarkan perbedaan pendapat masyarakat awam maupun ilmuwan. Tengkorak raksasa yang muncul membuat orang-orang merenungkan kembali tentang akar kemanusiaan dan kepercayaan yang selama ini mereka pegang.   

Setelah film selesai, para penonton tidak langsung pulang. Silaturahmi dilanjutkan di sebuah kedai kopi. Di sana diskusi ringan seputar film Tengkorak diadakan.   

Ditulis: Shella Angellia Rimang