DPRD Minta PLN Akui Kalbar Kekurangan Daya Listrik

Ponticity

Editor Angga Haksoro Dibaca : 197

DPRD Minta PLN Akui Kalbar Kekurangan Daya Listrik
Pontianak, SP - Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Suriansyah mengaku prihatin dengan kondisi masyarakat Kalbar yang masih banyak belum dapat menikmati listrik.  

“Kami sangat prihatin baru 82 persen masyarakat kita yang menikmati listrik. Artinya masih 18 persen yang belum menikmati listrik. Tidak menikmati listrik sebenarnya bisa dianggap secara kasar orang yang belum merdeka di tengah kemerdekan yang ke 74 tahun ini,” kata Suriansyah saat ditemui, Rabu (7/11).  

Suriansyah juga menyampaikan kekecewaannya kepada PLN, sebab dalam pertemuan bersama Komisi VII DPR RI beberapa hari lalu tidak transparan dalam menyampaikan laporan.  

“Dalam pertemuan dengan Komisi VII bidang energi, PLN tidak transparan menunjukan beberapa masalah yang dihadapi Kalimantan Barat. Seolah-olah Kalimantan Barat ini tidak ada masalah di bidang kelistrikan. Padahal masyarakat Kalbar masih sangat memerlukan. Banyaknya pemadaman-pemadaman baik regular maupun mendadak terjadi di berbagai wilayah. Seharus PLN lebih terbuka dan transparan,” kata Suriansyah.  

Suriansyah juga meminta PLN Kalbar mengakui bahwa saat ini Kalimantan Barat masih kekurangan daya, terutama pada waktu beban-beban puncak. Untuk itu kata Surianysah harus ada penambahan daya  listrik.  

“Apalagi dalam rangka menunjang industri hilirisasi, industri sawit, karet, dan sebagainya. Apabila tidak ada tambahan daya listrik yang signifikan, itu akan menghambat kemajuan hilirisasi industri di Kalbar,” imbuhnya.  

Suriansyah juga mengatakan dari sisi dorongan poltik dalam Musrembang Nasional DPRD juga selalu menekankan peningkatan kapasitas daya listrik dan peningkatan rasio lektrifikasi.  

“Karena rasio elektrifikasi itu baru 82 persen masyarakat Kalbar menikmati listrik, tentu harus ada perlusan jangkauan listrik mengunakan listrik sentral bukan tenaga surya atau PLTMH (listrik mikro hidro). Karen itu sifatnya mahal dan tidak kontinyu,” katanya. (nak/)