Meriah, Kali Pertama Robo Robo Digelar di Pontianak

Ponticity

Editor Angga Haksoro Dibaca : 365

Meriah, Kali Pertama Robo Robo Digelar di Pontianak
Pontianak, SP - Ketua Forum Komunikasi Orang Bugis (FKOB), Ardiansyah, mengajak pihak yang mengatakan kegiatan Robo Robo berbau syirik untuk ikut dalam tradisi adat ini.  

Menurut Ardiansyah, tradisi Robo Robo terkait dengan syiar Islam di Kalimantan Barat. Jadi menurut dia, tidak mungkin kegiatan ini mengandung syirik. “Silakan ikuti kegiatan ini bagi yang mengatakan ini syirik,” kata Ardiansyah, Rabu (7/11).  

Hal itu disampaikan Ardiansyah dalam kegiatan Festival Kebudayaan Bugis ‘Robo Robo’ Kota Pontianak. Acara ini dilaksanakan di Tepian Sungai Kapuas, di Pendopo Kolam Renang Yuka, Jalan Komodor Yos  Sudarso Pontianak Barat, Kota Pontianak.  

Robo Robo adalah tradisi masyarakat Bugis yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Safar dalam penanggalan hijriyah. Kegiatan ini dahulunya untuk memperingati bulan Safar yang menurut kepercayaan orang dulu sebagai bulan nahas.  
Menjawab pertanyaan yang mengatakan tradisi Robo Roo mendekati syirik. Ketua FKOB, mengatakan tradisi ini berisi kegiatan silaturahim makan dan duduk bersama.  

Dalam tradisi Robo Robo terdapat istilah yang familiar di komunitas orang Bugis. Yakni “tundang sipulung” (duduk bersama) dan “manre sipulung” (makan bersama). Dahulu tradisi ini digunakan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di tengah masyarakat.  

“Dengan duduk dan makan bersama semua masalah akan selesai dengan damai,” ucap Ardiansyah.  

Seiring berjalannya waktu, kebudayaan ini mengalami akulturasi dengan kebudayaan setempat. Sekarang tidak hanya sekedar kebudayaan Bugis yang di tampilkan. Namun pada kegiatan ini juga di hadirkan tari jepin Pontianak yang merupakan budaya Melayu.  

Menurut Adriansyah, selama ini dengan kemajuan zaman yang semakin cepat dan kesibukan luar biasa. Masyarakat sulit untuk bertemu dan bersilaturahmi. Bahkan untuk makan bersama di ruang keluarga pun sulit. Dirinya sangat prihatin dengan kondisi seperti ini.  

“Kita akan gencarkan lagi tradisi ‘manre sipulung’ (makan bersama), agar keharmonisan tetap terjaga,” kata Ardiansyah.  

Dia juga mengatakan kegiatan ini diisi dengan doa selamat. Serta sajian kebudayaan Bugis lainnya. Menurut Ardiansyah, leluhur terdahulu juga melakukan tradisi yang sama. “Tradisi yang baik tentu akan kita pertahankan.”  

Kegiatan Robo Roo ini kali pertama digelar di Kota Pontianak. Mengingat selama ini warga Pontianak selalu menyambut baik adat ini dan biasa berbondong-bondong keluar daerah untuk mengikuti Robo Robo.  

Ketua FKOB menyampaikan tahun depan Komunitas Bugis di Pontianak akan memiliki rumah budaya Bugis. Pembangunan direncanakan selesai tahun depan. Dan diharapkan nantinya akan menjadi pusat perkembangan budaya Bugis di Pontianak.

Sementara itu, Sultan Kesultanan Pontianak, Syarief Machmud Melvin Alkadrie, menyambut baik festival budaya ini. Kegiatan ini sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa. Sebagai penerus bangsa, Syarief Machmud juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bisa menjaga kearifan adat daerah.  

“Semoga seluruh masyarakat dapat menjaga kelestarian budaya, terutama kaum muda,” ucap Syarief.  

Sultan Syarief Machmud mengaku memiliki darah Bugis dari leluhurnya. Dia menjelaskan Sultan Abdurrahman, kakek moyangnya dahulu menikah dengan anak Opu Daeng Manambon. “Ikatan Bugis dengan Kesultanan Pontianak sangat erat,” ucap Sultan.  

Sultan Syarief Mahmud Melvin juga menganggap baik komunitas Bugis yang ada di Kota Pontianak. Dia berharap komunitas Bugis di Pontianak dapat berkontribusi demi kemajuan bersama.  

Festival ini diisi berbagai acara diantaranya Robo Robo manre sipulung, ketupat raksasa, tarian jepin, hadrah, tundang. Dan diakhiri dengan makan bersama seluruh peserta kegiatan. (din)