Penyebaran Informasi Palsu Tentang Penculikan, Polisi Tangkap Pelaku Hoaks

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 100

Penyebaran Informasi Palsu Tentang Penculikan, Polisi Tangkap Pelaku Hoaks
DITANGKAP - Seorang wanita berinisial NOV (30), Pelaku penyebar informasi palsu atau hoaks tentang kasus penculikan anak di Tanjung Hulu, ditangkap Satuan Reserse Kriminal Polresta Pontianak, di Jalan Sepakat, Ahmad Yani II, Komplek Taman Sepakat, (Ist)
Kasat Reskrim Polresta Pontianak Kompol, Muhammad Husni
"Tujuan tersangka memberikan informasi palsu tersebut hanya untuk iseng dalam menanggapi berita hilangnya seorang anak laki-laki, seolah-olah itu benar telah terjadi penculikan."

PONTIANAK, SP - Satuan Reserse Kriminal Polresta Pontianak, meringkus seorang tersangka perempuan berinisial Nov (30), karena diduga telah menyebarkan informasi palsu atau hoaks, sehingga meresahkan masyarakat.

"Tersangka diamankan, Senin (5/11) sekitar pukul 19.00 WIB di Jalan Sepakat, Ahmad Yani II, Komplek Taman Sepakat," kata Kasat Reskrim Polresta Pontianak Kompol, Muhammad Husni, Selasa (6/11).

Ia menjelaskan, tersangka penyebar hoaks tersebut melanggar UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) terkait penyebaran berita bohong atau hoaks dengan persangkaan Pasal 28 (1) UU ITE.

Tersangka tinggal di Jalan Raya Parit Banjar RT 004/ RW 003, Desa Parit Banjar, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat.

Adapun kronologis kejadian Minggu (4/11) sekitar pukul 12.00 WIB tersangka telah mengomentari postingan facebook, terkait peristiwa hilangnya seorang anak laki-laki di daerah Tanjung Hulu, Kecamatan Pontianak Timur, yang mana informasi yang disampaikan oleh tersangka pada kolom komentar facebook adalah informasi bohong terkait adanya penculikan anak.

"Tersangka mengarang cerita dengan kondisi palsu dan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Bahwa tersangka telah melihat seorang laki-laki dengan mengendarai mobil warna hitam membawa seorang anak laki-laki di depan Indomaret di daerah Jungkat dan kemudian kabur ke arah Kota Singkawang," ujarnya.

Namun kenyataannya, saat itu tersangka sedang berada di kos-kosannya di daerah Sepakat.

"Tujuan tersangka memberikan informasi palsu tersebut hanya untuk iseng dalam menanggapi berita hilangnya seorang anak laki-laki, seolah-olah itu benar telah terjadi penculikan," katanya.

Husni menambahkan, dari hasil pemeriksaan, tersangka mengakui bahwa perbuatan tersebut hanya untuk iseng, sehingga saat ini tersangka terus dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Ia menambahkan, barang bukti yang diamankan saat ini satu unit handphone.

"Kami juga melakukan koordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan para ahli dalam menangani kasus penyebaran berita bohong tersebut," katanya.  

Ditemukan Meninggal

Sementara itu, rumor penculikan yang dialami Anjong pun, sudah terbantahkan. Pasalnya, balita berusia 1,3 tahun tersebut, ditemukan meninggal dunia di dalam got, tak jauh dari rumah korban, Selasa (6/11) sekitar pukul 07.20 WIB.

“Korban ditemukan dalam posisi tertelungkup  dalam air dengan kondisi sudah meninggal dunia, oleh Wendi (abang sepupu korban), di dalam got tepatnya di depan rumah neneknya yang berjarak kurang lebih 5 meter dari rumah korban," terang Kapolsek Pontianak Timur, Kompol Suhar dalam keterangan resminya.

Adapun got tempat korban terjatuh, memiliki kedalaman kurang lebih 20 cm dengan lebar kurang lebih 25 cm dan  kondisi air bening, sehingga memungkin saksi melihat korban saat melakukan pencarian. 

Saksi pertama kali melihat kaki korban, dan melaporkan hal itu kepada pamannya untuk kemudian jasad korban dievakuasi oleh keluarga untuk dibersihkan

“Selanjutnya terhadap jasad korban sudah dibawa ke RSUD Soedarso Pontianak untuk dilakukan visum,” kata Kapolsek. 

Sebelumnya bayi bernama lengkap Alfen Tio Asmeraldo (1,3) itu, semulanya dilaporkan hilang oleh orangtuanya ke Polsek Timur, Minggu (4/11). Anak tersebut hilang dari rumahnya di Jalan Ya' M Sabran, Kompleks Villa Ria Indah Blok R Nomor 1, Kelurahan Tanjung Hulu, Kecamatan Pontianak Timur sekitar pukul 07.30 pagi. 

Menurut keterangan ibu kandung korban, Meliana, peristiwa terjadi saat dirinya sedang mencuci piring di belakang rumah. Dia yang sebelumnya bersama sang anak, meninggalkannya Anjong yang ketika itu masih bermain ditemani Sensen, sepupunya di ruang tamu.

"Aku lagi cuci piring di belakang. Sebelum itu aku tengok Anjong masih main dengan Sensen di sini (ruang tamu)," terang Meliana yang tampak tak kuat menahan tumpahan air matanya.

Sebelum hilang, balita tersebut menggunakan baju tanpa lengan warna putih dan celana pendek berwarna oranye. "Iya. Masih pakai baju itu yang sama dengan foto (baju tanpa lengan warna putih). Celana pendek warna oranye," imbuhnya.

Dari  beberapa warga sekitar, kemungkinan besar Anjong diculik tanpa paksaan. Sebab, saat Anjong hilang, tidak ada satu pun warga dengar suara teriakan. (din/nak/bob)

Butuh Peran Media untuk Edukasi Masyarakat

Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji menilai awak media harus bisa mengedukasi masyarakat dengan menyajikan berita-berita yang terpercaya, dan tidak ikut dalam penyebaran hoaks atau informasi bohong.

Hal ini Ia sampaikan, kala menanggapi hebohnya informasi soal anak, yang oleh sebagian besar warga netizen disebutkan diculik. 

“Sebenarnya yang harus mengedukasi masyarakat, agar jangan percaya pada berita-berita tak benar itu, ada pada peran media,” ujar Midji saat ditemui seusai menghadiri Rapat Paripurna di Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (6/11).

Awak media, sebut Midji harusnya bisa menelaah sebuah informasi apakah benar atau tidak. Jika terjebak didalamnya, maka wartawan bisa ikut-ikutan menyebarkan berita hoaks juga. 

“Kalau tahu itu berita bohong,  tak betul, jangan ikut menjadikan itu berita. Ini kan kadang, sudahlah tahu berita  itu tak betul, wartawan lagi nambahnya jadi berita, ya makin tak betul lah,” imbuhnya.

Saat ini, Kalbar kata Midji baru saja mendapatkan predikat sebagai provinsi dengan keterbukaan informasi terbaik nasional bersama DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. 

“Kemarin kita diurutan tiga nasional, tapi kalau luar Jawa kita terbaik,” tandasnya. (din/nak/bob)