Korban Dugaan Penganiyaan Istri Perwira Minta Polda Profesional

Ponticity

Editor K Balasa Dibaca : 4274

Korban Dugaan Penganiyaan Istri Perwira Minta Polda Profesional
PERIKSA – Nia Kurnia (kiri), korban dugaan penganiayaan usai diperiksa penyidik Ditreskrimum Polda Kalbar, Kamis (8/11).
PONTIANAK, SP – Perkara jual-beli cincin berlian berujung penganiayaan, diduga dilakukan istri perwira menengah Polresta Pontianak, MH, kepada bawahannya Nia Kurnia, ditingkatkan statusnya menjadi penyidikan.

Sebagai korban, Nia kembali mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kalbar, untuk dimintai keterangan, Kamis (8/11) pagi.

“Saya barusan diperiksa, terkait kronologis kejadian (penganiayaan),” kata Nia, di Polda Kalbar.   

Menurut dia, pemanggilan kali ini hanya melengkapi keterangan yang pernah dia sampaikan saat membuat pengaduan, pekan lalu. “Saya hanya berharap, penyidik, dalam hal ini adalah Polda Kalbar, bisa bersikap profesional dalam kasus ini,” ucapnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Nanang Purnomo, memastikan telah menerima laporan atas dugaan penganiayaan tersebut.
Penyidik Direskrimum Polda Kalbar juga telah memeriksa sebanyak tujuh orang saksi, termasuk akan meminta keterangan MH, sebagai saksi terlapor.

“Prosesnya saat ini sudah ditingkatkan ke penyidikan. Dan penyidik akan membuat, serta mengirimkan SP2HP (Surat Perintah Perkembangan Hasil Penyidikan) kepada saksi pelapor," jelasnya.

Nanang menegaskan, Polda Kalbar yang menangani perkara tersebut akan  bertindak secara  profesional. Tidak memandang siapa pelakunya. Yang jelas, jika terbukti atau ditemukan unsur tindak pidana penganiayaan, maka akan diproses secara hukum. “Penyidik juga tengah menunggu hasil visum rumah sakit,” ucapnya.

Selain itu, Polda Kalbar juga telah mengumpulkan barang bukti yang digunakan dalam penanganan kasus dugaan penganiayaan tersebut.

"Terdiri dari hasil visum, pakaian korban, uang yang ditemukan di sana kita jadikan alat bukti, termasuk saksi-saksi," ucapnya.

Nanang menegaskan, apabila ditemukan alat bukti yang cukup, maka terlapor bisa dijerat dengan pasal 351 dan 352 KItab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Penganiayaan. (ang)