Dinkes Kalbar Kejar Target Imunisasi MR

Ponticity

Editor Angga Haksoro Dibaca : 73

Dinkes Kalbar Kejar Target Imunisasi MR
Pontianak, SP - Program imunisasi Measles-Rubella (MR) yang direncanakan mencapai 95 persen dalam waktu 2 bulan, ternyata belum memenuhi target.  

Menindaklanjuti hal tersebut, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak bekerja sama dengan Unicef kembali menggandeng Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar dan Kota Pontianak untuk membahas perihal Imunisasi MR.  

Dalam kesempatan tersebut, diundang jurnalis Kota Pontianak yang sejak awal dicanangkan program imunisasi MR, sudah berkontribusi.  

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Andy Jap mengatakan kehadiran jurnalis sangat membantu suksesnya program imunisasi MR. Andy mengakui program imunisasi MR dalam perjalanannya mengalami sedikit masalah. “Mungkin jika tidak ada teman-teman jurnalis yang meluruskan, hasilnya akan lebih parah,” kata Andy, Kamis (8/11).  

Keberadaan jurnalis yang menyampaikan hal-hal positif, sangat membantu Dinas Kesehatan. Walaupun secara nasional, Kalbar belum mencapai target, kecuali Kabupaten Sambas.  

Oleh karena itu, Kalbar masih diberi kesempatan sampai akhir Desember untuk menuntaskan program imunisasi MR. “Kita masih punya waktu sampai akhir Desember. Oleh sebab itu, kita akan ajak semua sektor untuk menyukseskan program imunisasi MR ini," ujarnya.  

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, Fattah Maryunani membagikan beberapa tips sehingga daerahnya dapat mencapai target 95 persen imunisasi MR.  

Menurut Fattah, yang membuat Kabupaten Sambas mencapai target imunisasi MR sampai akhir September, tak lepas dari peran Bupati. Ketika muncul polemik halal-haram imunisai MR, Sambas tidak terpengaruh. Di beberapa tempat sempat terhenti, di Sambas tetap berjalan.   

Selain Bupati, semua jajaran di bawahnya ikut bergerak dari Sekda sampai camat. Untuk imunisasi MR ini, kata Fattah, ada dua hal yang perlu diketahui. Pertama, polemik halal-haram. Intinya, lintas sektoral bekerja sama, menjalin komunikasi dengan baik.   

Untuk beberapa kecamatan yang warganya sulit menerima imunisasi MR, Dinkes Sambas fokus ke situ. Dari bupati, camat, bahkan aparat keamanan turun langsung ke lapangan. “Bupati sempat komen dan ngasih pilihan, ‘mau babi atau mau mati?’,” tuturnya seraya berkelakar.  

Kedua, masalah etnis. Ada etnis tertentu yang takut dengan isu yang beredar di masyarakat luar bahwa ketika diimunisasi, anaknya bisa meninggal. Solusinya, Dinkes Sambas membawa dokter ahli turun langsung ke sekolah-sekolah. “Karena istri saya satu etnis dengan mereka, saya bawa istri saya turun juga. Dan itu kita lakukan beberapa kali,” pungkasnya. (lha/)