Minggu, 17 November 2019


Kalbar Butuh Sekolah KhususUntuk Mengolah Sumber Alam

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 741
Kalbar Butuh Sekolah KhususUntuk Mengolah Sumber Alam

PONTIANAK, SP -  Ada yang sangat menarik saat Suara Pemred bertemu dan berbicang dengan Ari Chandra, Bos Ayani Mega Mall Pontianak belum lama ini.  Dan harus diakui nama Ari Chandra sangat melekat dengan kawasan pusat perbelanjaan paling ternama di Kota Pontianak yang dibangun tahun 2003 dan bisa menyerap hampir 4 ribu tenaga kerja itu.

“Tanah Kalimantan Barat ini kaya akan alam. Ada pertanian, perkebunan, kelautan,  hutan dan tambang.  Alangkah baiknya ke depan untuk bisa mengolah sumber-sumber alam tersebut, kita juga harus siapkan sumber daya putra putri  Kalbar dari sekarang. Tidak ada yang terlambat, caranya  kita dirikan sekolah atau perguruan tinggi yang mempelajari khusus atau fokus terhadap sumber alam yang ada di Kalimantan Barat ini, sehingga hasilnya bisa maksimal dan ilmu yang adik-adik kita didapat bisa tepat sasaran, begitu juga masa depannya, dan lapangan pekerjaannya,” kata pria yang lahir di Ketapang 7 September 1956 lalu ini.

Menurut Ari, fokus kurikulum mempelajari serta memanfaatkan alam sekitar itu lebih penting agar tergali sumber alam secara maksimal. Misalnya di bidang pertanian, panen padi yang bisanya satu tahun hanya satu atau dua kali panen, dengan keahlian SDM yang handal nanti dalam setahun bisa berlipat ganda panen dan jumlahnya. Begitu juga di perikanan, perkebuanan dan lainnya.  

“Oh ya, kebetulan saya kenalkan dengan anak perempuan saya, namanya Lidya Chandra. Dia saya minta pulang untuk bantu saya bangun Kalbar setelah selesai kuliah desainer di Amerika. Disana kuliahnya fokus, dan menariknya kampus buka terus sampai malam. Dan pelajaran pratiknya lebih besar.  Nah, di Kalbar dengan sekolah atau perguruan tinggi mungkin bisa seperti itu, termasuk pengajarnya pun harus diambil dari perusahaan yang ahli di bidangnya agar tepat guna,” jelas Ari yang didampingi putrinya Lidya Chandra.  

Kepada Suara Pemred pun, Lidya Chandra membenarkan penjelaskan ayahnya. “Di sana kuliahnya fokus dan kampus buka terus sampai malam. Dan lingkungan dan dunia usaha disana sangat mendukung pendidikan kampus. Praktiknya lebih banyak. Dosen atau pengajarnya memang orang-orang yang ahli dibidangnya dan masih aktif bekerja di luar sesuai dengan ilmunya,” timpal Lidya ramah.

Ari juga menceritakan bahwa dirinya bisa dikatakan salah satu orang yang mengagumi dan sangat menghormati tokoh nasional asal Kalbar dr H Oesman Sapta. 

“ Beliau sangat peduli dengan tanah  Kalbar ini. Lihat saja apa yang diperjuangkan dan dibangun untuk rakyat Kalbar selama ini. Itu sangat Luar biasa dan itu harus dicontoh anak-anak muda ke depan. Selain Mega Ayani Mall dan Rumah Sakit Mitra Medika Pontianak, saya juga membangun Hotel Aston di Ketapang, bukan karena nilai ekonominya, tapi saya ingin Ketapang maju dan berkembang. Sama dengan Hotel Mahkota Kayong di Sukadana,  itu rugi tapi beliau ingin daerah itu maju nantinya, ” tambah pria yang saat kecil pernah bekerja sebagai teli hasil hutan dan penjaga karcis bioskop di Ketapang milik orang tuanya ini.

Agar Kalbar bisa maju dan berkembang lebih cepat, selain perbaikan SDM dengan sekolah atau perguruan tinggi yang fokus mempelajari sumber alam, Ari juga berharap pemerintah dan semua pihak mengevaluasi dan memberbaiki sistem perizinan dan ketenaggaan kerjaan serta peburuhan agar tidak memberatkan semua pihak.  

Beberapa negara kaya, lebih menginvestasikan ke negara Vietnam dan lainnya, karena mereka menilai perizinan dan sistem ketenagakerjaan di Indonesia memberatkan mereka. 

“Harus diakui faktor perizinan yang masih jadi kendala bagi dunia usaha. Bayangkan dulu izin Mega Ayani Mall itu sampai 31 izin. Rumah Sakit Mitra Medika itu izinnya sampai 34 surat. Untuk bisa mengadakan genset saja sampai 6 izin. Dan pasti itu semua ada biaya dan waktu, lalu bagaimana jika mereka yang modalnya pas-pasan kan jadi repot, dan sulit berkembang, mudah mudahan ini dapat diperbaiki, ” tambah Ari owner RS Mitra Medika Pontianak ini.

Adik kandung Ketua Kadin Kalbar Santioso ini juga mengungkapkan, untuk bisa sukses dan berhasil tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. 

“Dari kecil kita sudah biasa hidup susah, bekerja jadi teli dan jual karscis bioskop di Ketapang makanya sekolah SMU pun tak tamat. Umur belasan tahun saya sudah merantau ke Jawa dan Jakarta, beli kayu, jadi agen mie, dan buka warung sate. Saya dengan Bang Santioso pernah cari kardus di tempat sampah untuk mebel ketika itu. Tapi semua pengalaman itulah yang membuat mental kuat dan  tidak mudah putus asa,” katanya lagi sambil tersenyum. (hrd)