Jumat, 06 Desember 2019


Ninik Digaji Rp6,7 Juta Per Bulan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 7975
Ninik Digaji Rp6,7 Juta Per Bulan

PENGAJAR - Ninik Dwi Wahyuni (37), salah satu pengajar Community Learning Center (CLC) Rajawali Sarawak.

Ninik Dwi Wahyuni (37), salah satu pengajar Community Learning Center (CLC) Rajawali Sarawak menikmati kesejahteraan yang diberikan perusahaan. Tak seperti pengajar di Indonesia, nasib Ninik terbilang mujur. 

Pasalnya, insentif yang diterima Nanik dari pihak perusahaan bisa berkali-kali lipat dari gaji guru honorer di Indonesia.

CLC adalah institusi pendidikan yang menyediakan akses pelayanan pendidikan dasar (SD) bagi anak-anak pekerja ladang berkewarganegaraan Indonesia yang berada di Negeri Sarawak, Malaysia.

Ninik sangat mengapresiasi pihak perusahaan yang memberikan kesejahteraan finansial terhadap pengajar CLC. Sebagai guru CLC dirinya mendapatkan fasilitas gaji yang memuaskan, serta rumah dinas.

"Gaji yang didapatkan sebagian dari perusahaan, sebagian dari kementerian," ucapnya saat diwawancarai pada Senin (18/11).

Sebagai pengajar di CLC Rajawali, dirinya mendapatkan gaji dari pihak perusahaan dan Kemendikbud. Dari perusahaan, dia mendapatkan gaji pokok sebesar 2000 ringgit atau sekitar Rp6,7 juta per bulan.

Jika bekerja lembur, maka akan ada uang tambahan yang bisa diperoleh. Selain mendapatkan gaji dari perusahaan, dirinya juga diberikan insentif dari Kemendikbud sebesar Rp22 juta untuk satu tahun. 

"Gaji dari perusahaan naik turun, kadang 1900 ringgit, kadang 2000 ringgit," kata Nanik.

Ia yang berasal dari Sragen Jawa Tengah juga menceritakan awal mulanya ke Malaysia karena mengikuti sang suami bekerja. Sebelum menjadi pengajar Community Learning Center (CLC) Rajawali Sarawak dirinya bekerja sebagai staf perusahaan. 

Kemudian ada tawaran dari perusahaan untuk menjadi pengajar, namun harus mengikuti pelatihan di KJRI Kuching. Pelatihan di KJRI Kuching dibuka pertama kali pada 2011. 

Dikatakan, proses belajar mengajar anak PMI di tempatnya saat ini sudah dimulai sejak 2005, namun masih di rumah-rumah, tidak di gedung sekolah. Baru pada 2014 gedung CLC dibangun secara permanen oleh pihak perusahaan.

"Saya sudah mengajar di sini (CLC Rajawali) sejak 2005, karena siapa lagi kalau bukan kita yang akan memperdulikan anak-anak tersebut," ucapnya.

Ninik mengakui memang tidak berlatarbelakang dunia pendidikan. Namun sebelum mengajar anak PMI di Malaysia dirinya juga pernah menjadi sukarelawan pengajar di salah satu sekolah di wilayah Kabupaten Kubu Raya.

Mengajar anak PMI di Malaysia menurutnya merupakan panggilan hati. Dirinya berkeinginan jika anak PMI kembali ke tanah air bisa melanjutkan pendidikannya.

"Dulu anak-anak sekolah di Tadika (Taman Pendidikan Kanak-Kanak). Jadi, pelajaran yang diberikan pelajaran Malaysia," tuturnya.

Dirinya menyebutkan beberapa siswa CLC Rajawali sudah melanjutkan pendidikan di Indonesia. Saat ini menurutnya CLC Rajawali memiliki siswa sebanyak 144 dengan enam kelas.

Seluruh fasilitas di CLC Rajawali dipenuhi oleh pihak perusahaan. Anak PMI sama sekali tidak dipungut biaya dalam proses pembelajaran. Bantuan dana BOS dan BOP juga diterimanya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dana BOS dan BOP pertama kali ia terima sebanyak 28 ribu ringgit.

Perjalanan ke sekolah yang jauh mengharuskan dirinya sudah menaiki kendaraan sejak pukul lima pagi. CLC Rajawali memiliki guru sebanyak tiga orang. Beberapa anak CLC juga diakuinya memiliki prestasi yang cukup membanggakan.

"Bahkan anak CLC juga pernah dikirim ke Kuala Lumpur untuk mengikuti lomba sains dan seni," jelasnya.

Sementara itu, terpisah Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Mokhammad Farid Maruf mengatakan setiap tahunnya Kemendikbud yang mengirimkan guru-guru ke wilayah Sabah dan Sarawak sekitar 300 orang. 

Kemudian, untuk guru pamong yakni orang Indonesia yang berada di Malaysia yang sebelumnya tidak menjadi guru ada sekitar 400 orang. 

Dikatakan, KBRI Kuala Lumpur bertugas memfasilitasi akses pendidikan bagi anak Indonesia baik di wilayah Semenanjung atau Sabah, Sarawak. Namun saat ini wilayah yang baru mendapatkan izin dari Pemerintah Malaysia hanya di Sabah dan Sarawak.

"Terhadap guru pamong tersebut KBRI Kuala Lumpur terus memberikan pelatihan," ucapnya.

Dirinya menyampaikan KBRI Kuala Lumpur saat ini tengah mengusahakan perizinan sekolah untuk anak Indonesia di wilayah Semenanjung Malaysia. Pemerintah Malaysia belum memberikan izin untuk aktivitas seperti CLC di wilayah Semenanjung. Tetapi Kementerian Pendidikan Malaysia secara umum tetap memberikan dukungan.

Menurutnya, saat ini jumlah CLC yang berada di wilayah Sabah sekitar 340. Secara pengelolaan CLC juga masuk ke dalam dapodik. Sekolah Indonesia di Kinabalu merupakan induk sekolah Indonesia. Namun karena wilayah yang luas, akhirnya dipecah menjadi CLC. Namun di CLC tetap dikirim guru dari Jakarta. 

"Total CLC di wilayah Sabah dan Sarawak berjumlah 370 dengan siswa sekitar 12.000 jiwa," kata Farid.

Jumlah tersebut menurutnya tidak pernah mengalami penurunan setiap tahunnya. Ada juga yang mengikuti program Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) atau program kejar paket yang diikuti sekitar 12.000 hingga 14.000 orang. 

Pada Agustus lalu, KBRI Kuala Lumpur juga telah mengirimkan 620 siswa untuk masuk sekolah di Indonesia. 500 di antaranya bahkan mendapatkan beasiswa dari Kemendikbud. Kemudian sisanya akan dicarikan beasiswa di yayasan.

Kemudian, setelah lulus SMA di Indonesia, siswa anak pekerja migran tersebut ada beasiswa khusus afirmasi Dikti. Pada tahun ini ada 120 anak yang lolos di perguruan tinggi, ditambah dengan yang memperoleh beasiswa bidikmisi sekitar 148 siswa.

"Beberapa siswa alumni CLC ada juga yang  mendapatkan beasiswa ke China, sekolah pilot, pramugari," ucapnya.

Ia mengatakan anak-anak alumni CLC sudah diakui memiliki daya juang tinggi jika dibandingkan dengan siswa lokal. Kendala pembukaan CLC di wilayah semenanjung di antaranya karena karakteristik yang berbeda. 

Untuk diwilayah Sabah dan Sarawak, hampir semua anak-anak pekerja migran tinggal di perkebunan sehingga mudah dibantu. Sementara di wilayah Semenanjung hampir 90 persen anak-anak berada di kota-kota. (dino/bah)