Rabu, 29 Januari 2020


Bersenggama di Malam Jumat, Sunah Rasul?

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 2484
Bersenggama di Malam Jumat, Sunah Rasul?

PONTIANAK, SP – Pada kalangan pria dewasa, terutama yang telah berumah tangga, bila memasuki Kamis malam atau malam Jumat, kerap terdengar candaan ‘Malam Jumatan, saatnya sunah Rasul’. Candaan atau guyonan itu mengarahkan pada aktivitas hubungan suami-istri atau bersenggama.

Tiap malam Jumat, candaan ini mendadak viral di media sosial. Tak sedikit pengguna media sosial atau netizen menyelipkan foto aduhai untuk melengkapi cuitan sunah Rasul itu.

Kadangkala, ada pula candaan yang bernuansa rasial seperti ‘Ayo membunuh Yahudi’. Candaan terakhir ini diklaim juga berasal dari hadis Rasulullah bahwa ganjaran atau pahala bersenggama pada malam jumat sama seperti membunuh 1000 orang Yahudi.

Untuk candaan terakhir, perlu segera dipertegas bahwa tidak ada satu pun hadis Nabi tentang pahala bersenggama pada malam Jumat sama seperti membunuh 1000 orang Yahudi.

Dikutip di konsultasikonsultasisyariah.com, Ustaz Abdullah Zaen mengatakan belum pernah menemukan ayat Alquran atau hadis sahih yang menunjukkan anjuran tersebut.

Hadits di atas tidak akan ditemukan dalam kitab manapun, baik kumpulan hadis dhaif (lemah) apalagi shahih (benar).

Artinya, hadits Sunnah Rasul pada malam Jumat tersebut sama dengan membunuh 1.000 orang Yahudi adalah bukan hadis alias hadis palsu yang dikarang oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Lantas, adakah hadis Rasulullah yang menyebut malam Jumat sebagai waktu afdhal/utama untuk bersenggama?

Canda atau guyon sebenarnya tidak masalah dalam agama. Hanya saja kalau mau tahu kedudukan hukum agama sebenarnya, perlu penjelasan ahli hukum Islam terkait hubungan sunah rasul, malam Jumat, dan hubungan intim suami-istri.

Bukan Hadis

Dikutip di nu.or.id, Ulama Ahlussunnah wal Jamaah asal Suriah, Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh mengatakan, di dalam sunah tidak ada anjuran berhubungan seksual suami-istri di malam-malam tertentu, antara lain malam Senin atau malam Jumat. Tetapi ada segelintir ulama menyatakan anjuran hubungan seksual di malam Jumat.

Keterangan Syekh Wahbah Az-Zuhayli ini dengan terang menyebutkan bahwa sunah Rasulullah tidak menganjurkan hubungan suami-istri secara khusus di malam Jumat.

Kalau pun ada anjuran, itu datang dari segelintir ulama yang didasarkan pada hadis Rasulullah SAW dengan redaksi Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat dan bergegas (menuju ke masjid), mendekat (kepada khatib) serta diam menyimak (khutbah), maka baginya dari setiap langkah kaki yang diayunkan ada ganjaran yang senilai pahala puasa shalat dan puasa selama setahun penuh.” (HR  At-Tirmidzi).

Ada juga hadis Rasulullah yang diriwayatkan Muslim berbunyi Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi Jumat, lalu ia salat semampunya dan diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian ia lanjutkan dengan shalat bersama Imam, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan hari jumat yang lain. Dan bahkan hingga lebih tiga hari.
<!--[endif]-->

Jangan Dipermainkan

Dari sini kemudian sebagian ulama itu menafsirkan kesunahan hubungan badan suami-istri malam Jumat. Tetapi sekali lagi kesunahan itu didasarkan pada tafsiran/interpretasi, bukan atas anjuran Rasulullah secara verbal.

Meski demikian, Syekh Wahbah sendiri tidak menyangkal bahwa hubungan intim suami-istri mengandung pahala. Hanya saja tidak ada kesunahan melakukannya secara prioritas di malam Jumat.

Artinya, hubungan intim itu boleh dilakukan di hari apa saja tanpa mengistimewakan hari atau waktu-waktu tertentu. Penjelasan kedudukan hukum ini menjadi penting agar tidak ada reduksi pada sunah rasul yang begitu luas itu.

Sebab, banyak anjuran lain yang baiknya dikerjakan di malam Jumat seperti memperbanyak salawat nabi, membaca surat Yasin, Al-Jumuah, Al-Kahfi, Al-Waqiah, istighfar, dan mendoakan orang-orang beriman yang telah wafat.

Sementara Kepala Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas Muhammadiyah Pontianak, Hermanto mengatakan, sunah Rasulullah tidak bisa dipermainkan.

Dikatakan bahwa tidak ada riwayat Nabi Muhammad yang menceritakan tentang sunnahnya berhubungan badan di malam Jumat.

"Justru ini merupakan kebohongan terhadap Rasulullah dan ini tidak bisa dipermainkan," ucapnya.

Rasululah bersabda, kata Hermanto, barang siapa berbohong atas namaku, maka hendaknya ia menyiapkan tempat duduknya di neraka. Hal ini untuk menunjukkan bahwa berdusta mengatasnamakan Nabi Muhammad adalah perbuatan berdosa.

Lebih dari itu, mengaitkan berhubungan intim dengan sunah Rasulullah adalah perbutaan yang tidak sopan terhadap Nabi Muhammad.

"Islam agama yang fitrah, membutuhkan hubungan biologis, makanya disyariatkan nikah, tetapi tidak boleh dimain-mainkan istilah ini," katanya.

Hermanto kembali menegaskan bahwa dalam Alquran dan hadis tidak ada anjuran berhubungan badan di malam Jumat sesuai yang terstigma di tengah masyarakat. Justru pada malam Jumat disunahkan membaca Surah Al-Kahfi.

Menurutnya, istilah sunnah rasul yang selalu dikonotasikan pada hubungan badan pada malam Jumat terjadi karena masyarakat sering mengikuti hal populer.

Jika sunah Rasul dikaitkan pada hubungan badan pada malam Jumat sebagai olok-olokan, maka akan mendatangkan mudarat karena berbohong atas nama Nabi Muhammad.

"Masyarakat kita hanya ikut-ikutan. Ini sangat dilarang oleh Rasulullah, penetapan hukum yang tidak ada dasarnya," pungkasnya. (nu/din/bah)

Etika Berhubungan Intim

Berhubungan intim atau bersenggama bagi suami istri adalah sebuah kebutuhan yang mendasar. Sebagai sebuah kebutuhan yang mendasar, maka terdapat beberapa amalan yang sebaiknya dilakukan baik sebelum melakukannya, sedang maupun sesudahnya

Dikutip dari nu.or.id, amalan yang sebaiknya dilakukan sebelum memulai jimak (berhubungan badan) adalah disunahkan membaca bismillah, membaca surat Al-Ikhlash, membaca takbir dan tahlil (Allahu akbar, Laailaha illallah), membaca doa: Bismillahil-‘aliyy al-azhim. Allahumma ij`alhâ dzurriyatan thayyibah, in kunta qaddarta an tukhrija dzâlika min shulbi. Allahumma jannibni asy-syaithân wa jannib asy-syaithân mâ razaqtanâ.

Kemudian, memakai penutup atau selimut, dan jangan melakukan jimak dengan telanjang bulat, memulai dengan cumbu-rayu dan ciuman.

Sementara amalan ketika sedang jimak yaitu hindari untuk mengadap ke arah kiblat, hindari terlalu banyak pembicaraan, ketika istri menjelang orgasme, maka suami mengatakan dalam hati: Alhamdulillahil-ladzi khalaqa minal-mâ` basyara faja’alahu nasaban wa shahra wa kana rabbuka qodîra.

Usahakan untuk orgasme bersama-sama, karenanya lelaki jangan terburu-buru untuk segera mentuntaskan ‘permainan’ sebelum perempuan mencapai orgasme.

Jika ingin mengulangi jimak yang kedua, maka sebaiknya membersihkan atau mencuci terlebih dahulu kemaluannya. (nu/bah)