Minggu, 26 Januari 2020


Korban Saldo BRI Raib Bertambah

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 201
Korban Saldo BRI Raib Bertambah

TUNJUKKAN – Hidayati menunjukkan bukti laporan kehilangan uangnya di dalam rekening BRI cabang Pontianak, Kamis (5/12).

PONTIANAK, SP - Korban saldo rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang raib di Pontianak kembali bertambah. Setelah kemarin salah satu mahasiswa perguruan tinggi swasta, Dino kehilangan uang Rp2 juta, hal serupa juga menimpa Hidayati. Dia seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Kota Pontianak.

Hidayati (21) bercerita, awalnya dia ingin melakukan penarikan di ATM BRI di Jalan Pangeran Nata Kusuma Pontianak, Kamis (5/12) siang. Namun dia terkejut ketika melihat isi rekening yang awalnya Rp2.083.000, hanya sisa Rp83 ribu. Padahal, dia belum bertransaksi apa pun sejak seminggu lalu.

"Awalnya mau tarik tapi tiba-tiba tidak bisa, karena saldo tidak cukup," ucap Hidayati, Kamis (5/12).

Dia juga tidak percaya dengan saldo rekening miliknya yang berkurang hingga Rp2 juta. Dia pun mencoba mengecek kembali di ATM BRI lainnya di Jalan Danau Sentarum. Namun hasilnya tetap sama. Uang yang sedianya dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari selama menempuh pendidikan raib begitu saja.

Atas kejadian tersebut, dia langsung melapor ke Kantor Cabang BRI Pontianak.

"Pihak bank tadi minta untuk menunggu maksimal 20 hari," pungkasnya.

Tidak hanya satu, korban lain adalah mahasiswi perguruan tinggi negeri di Pontianak. Uang Tiara Sabita Faradillah (19) hilang dari rekeningnya.

Tiara mengatakan ATM tersebut atas nama ibunya di Kota Singkawang. Dia hanya dititipkan kartu ATM untuk mencukupi kehidupannya selama masa kuliah di Kota Pontianak. Namun uang yang sebelumnya berjumlah hingga Rp7.051.000, kini hilang.

"Uang di ATM hanya tersisa Rp51 ribu, tujuh jutanya hilang," ucapnya.

Merasa janggal, dia menyampaikan kejadian itu ke keluarganya. Berdasarkan catatan buku rekening, diketahui ada transaksi penarikan sebanyak tiga kali. Pertama Rp2,5 juta, kedua Rp2,5 juta, dan ketiga Rp2 juta. Penarikan dilakukan pada Rabu (4/12) pukul 08.00 pagi. Sedangkan di saat tersebut, dirinya masih kuliah dan ATM ada di dompet. 

Dia memastikan pihak keluarganya sama sekali tidak menggangu isi dari rekening tersebut.

"Kejadian kemarin (Rabu 4/12), lalu sekitar jam 11 siang saya cek ATM udah kosong," jelasnya.

Terakhir kali transaksi Tiara lakukan di ATM BRI Polnep Selasa (3/12) siang lalu. Dirinya juga sudah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak BRI. Keluarganya yang berada di Kota Singkawang juga melaporkan kepada BRI setempat.

Sementara itu, pihak BRI cabang Pontianak saat dilakukan upaya konfirmasi terkait hal ini, tidak sama sekali memberikan keterangan. Awak media yang awalnya diminta untuk menunggu selama hampir tiga puluh menit, tak jadi ditemui.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura Pontianak, Ali Nasrun mengatakan salah satu permasalahan pada sistem online atau daring adalah mudahnya pembobolan. Dalam hal ini, perbankan seharusnya memberikan penjelasan kepada nasabah terkait kasus skimming yang terjadi. Penjelasan dibutuhkan agar nasabah mengetahui pokok permasalahan. 

“Jika memang bukan kesalahan bank kemungkinan bisa dipahami. Sebab jika didiamkan akan menimbulkan desas-desus yang sangat berbahaya. Karena pada saat ada keraguan dari nasabah pada perbankan, maka akan menimbulkan penarikan dana dari nasabah," ucapnya.

Atas peristiwa ini, Ali ingin perbankan memperbaiki sistem, walau sistem secanggih apa pun bukan tidak mungkin kembali dibobol. Namun, jika diupayakan perbaikan, kepercayaan nasabah kembali didapat.

"Kemungkinan hal semacam ini ada terus, jadi perbankan harus mempersiapkan semacam asuransi," tambahnya.

Ali menyampaikan perbankan juga harus melakukan penggantian atas kerugian nasabah. Karena jika dibiarkan, maka masyarakat akan semakin malas menggunakan sistem perbankan. Pihak terkait yang berwenang juga harus melakukan peningkatan keahlian agar bisa menginvestigasi kasus seperti ini. Terlebih pemerintah kini tengah mengedepankan perekonomian ke sistem online.

"Kewajiban dari OJK dan Bank Indonesia membuat sesuatu agar perbankan tidak menanggung beban terus-menerus," pungkasnya. (din/bls)