Kamis, 30 Januari 2020


Banjir Rendam Sambas-Singkawang-Sekadau-Kapuas Hulu, Sekadau Terancam tanpa Air Bersih

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 2922
Banjir Rendam Sambas-Singkawang-Sekadau-Kapuas Hulu, Sekadau Terancam tanpa Air Bersih

PONTIANAK, SP - Pipa induk PDAM Sirin Meragun Kabupaten Sekadau, patah. Hal tersebut disebabkan banjir bandang yang menerjang. Pipa induk yang tepat berada di intake milik PDAM Sirin Meragun tersebut terletak di Desa Meragun, Kecamatan Nangan Taman.

Hujan deras dan meluapnya Sungai Nanga Taman, menjadi penyebab banjir bandang, yang terjadi pada Jumat (6/12) malam. Berdasarkan pantauan lapangan, di lokasi yang berada di areal Gunung Naning, Desa Meragun, Kecamatan Nanga Taman, pipa besi steam berukuran 16 inchi atau 400 milimeter patah dan hanyut diterjang air.

Bukan hanya pipa induk, batu-batu besar dan pepohonan pun ikut tumbang diterjang derasnya arus. Direktur PDAM Sirin Meragun, Yok Kelak mengatakan pipa induk yang rusak lebih kurang sepanjang 60 meter, atau 10 batang.

"Perkiraan kami pipa terkena terjangan kayu atau batu yang hanyut terbawa arus air," kata Yok di lokasi intake PDAM Sirin Meragun kepada awak media, Sabtu (7/12).

Kerusakan tersebut, kata Yok, dipastikan akan menghambat distribusi air bersih kepada pelanggan. PDAM menyatakan akan segera melakukan perbaikan terhadap kerusakan tersebut.

Namun, pihak PDAM Sirin Meragun belum dapat memastikan berapa lama waktu perbaikan yang diperlukan. Sebab, akses menuju intake air bersih hanya melewati jalan setapak dan berbukit.

"Peralatan kita siap. Hanya saja, proses mobilisasi alat seperti pipa steam ini yang beratnya ratusan kilogram per batang yang sulit dan akan memakan waktu yang lama," jelas Yok.

Ia memperkirakan, butuh waktu paling cepat satu bulan untuk perbaikan tersebut.

"Namun, kami akan usahakan agar dapat selesai secepat mungkin. Semoga cuaca bersahabat sehingga proses perbaikan bisa berjalan lancar," ucap Yok.

Ia berharap agar para pelanggan dapat bersabar dan memahami kondisi yang terjadi saat ini. "Kami mohon pengertian pelanggan," harapnya. 

Selain patahnya pipa induk pasca diguyur hujan deras di Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, tiga akses jalan menuju Desa Meragun, Pantok, dan Lubuk Tajau terputus. Banjir mencapai kurang lebih 2 meter.

Sebagian rumah warga terendam diakibatkan banjir yang terjadi Jumat (6/12), sekitar pukul 21.00 WIB. Menurut Danramil Nanga Taman, Kapten Inf L Simare Mate, banjir meluas sekitar pukul 23.30 WIB, yang menerjang tiga desa Desa Nanga Taman,  Desa Menrukak, dan Desa Lubuk Tajau. 

“Korban jiwa hingga kini belum ada dan kerugian belum didata,” ungkapnya kepada awak media, Sabtu (7/12/2019).

Pada kesempatan sama Kepala BPBD Sekadau Mathius Jhon saat dikonfirmasi membenarkan banjir yang melanda Nanga Taman.

“Ada tiga desa terdampak banjir dan saat ini team BPBD Sekadau terus memonitor kondisi dilokasi , ada satu rumah rusak di Desa Pantok akibat banjir, saat ini terus kita upayakan melakukan pendataan baik bangunan atau jembatan yang rusak nanti akan kita sampaikan,” katanya.

Kepala Desa Meragun mengatakan, bahwa banjir juga mengakibatkan terputusnya akses Jalan Poros Nanga Taman-Meragun. Akibat banjir infrastruktur pendukung menuju desa rusak parah.

“Enam jembatan rusak, 3 diantaranya terputus di Nanga Angur di Meragun 2 buah,  rusak parah di Kenamin Tinggi 1 buah.  rumah hanyut terbawa banjir 1 buah di Dusun Kelampu. Korban luka ringan ada 1 orang,” ujar Kepala Desa Meragun Ima Kulata.

Hingga kini kondisi terkini di Desa Meragun banjir mulai surut namun kerugian materi dari warga belum dapat dihitung, pada kesempatan ini kepala desa Meragun berharap warga tetap waspada karena memasuki musim hujan. 

Camat Nanga Taman Paulus Ugang mengatakan, bahwa memang terdapat longsor sebagian kecil yang berada dilokasi bukit burus Nanga Taman. Namun, kata dia, masyarakat setpat tidak mengungsi. 

"Kejadian banjir dan longsor ini terjadi memang agak berbeda dari tahun sebelumnya, banjir naik sampai pinggang orang dewasa bahkan ada beberapa titik sampai dada, tapi air bisa cepat surut. Kemudian Longsor juga menghantam Jembatan yang berada di Sungai Taman hingga hancur terputus, " ujarnya kepada Suara Pemred

Atas kejadian ini, Ugang mengimbau kepada seluruh warga Kecamatan Nanga Taman agar berhati-hati dalam beraktivitas di musim hujan. Karena dengan kondisi cuaca yang tidak menentuk bisa membuat hal buruk terjadi. 

"Selalu waspada terhadap bencana alam yaitu banjir, karena curah hujan sangat tinggi atau cuaca ekstrim, kemudian Segera memberikan informasi yg akurat tentang situasi di daerahnya dengan pihak keamanan dan pemerintah setempat, pasca banjir ini kalau ada gangguan kesehatan segera di bawa ke puskesmas nanga taman,"ujarnya. 

Lebih lanjut Ugang sampaikan, diminta partisipasi masyarakat untuk meringankan beban dengan membantu korban yang hehilangan harta bendanya akibat banjir. 

"Satu unit rumah hanyut di Meragun dan satu di Pantok. Jadi harus tolong- menolong antar sesama warga dan juga bersinergis bersama jajaran pemerintah,"kata Ugang. 

Sementara itu, Bupati Sekadau, sempat meninjau beberapa titik lokasi banjir yang mengenangi pemukiman rumah warga di wilayah Rawak, Taman, Mahap (RTM) Sabtu (7/12) pagi. 

Ditemui usai meninjau lokasi banjir, Bupati Rupinus menilai banjir yang terjadi ini memang cukup besar dan menurut informasi dari masyarakat ini merupakan banjir tahunan atau siklus yang terjadi antara 10 sampai 15 tahun sekali. Meski begitu, lanjut orang nomor satu di bumi lawang kuari ini bencana alam ini tidak dapat diduga, kapanpun bisa saja datang.

“Kita harus tetap berusaha meminimalisir hal-hal yang dapat merugikan masyarakat,” kata Bupati. 

Dia berharap masyarakat agar untuk tetap waspada terhadap curah hujan yang cukup tinggi. Terutama terhadap anak-anak, tegangan listrik dan binatang liar.

“Jadi hati-hati dan tetap mengawasi anak-anaknya,” pinta Bupati yang pernah menjabat camat Nanga Mahap.

Dilanjutkan Bupati, bahwa Pemda sudah melihat bagaimana jalur jalan yang terlihat rendah. “Kedepan daerah yang rendah menjadi perhatian pemerintah,” ujarnya.

Bupati juga mengimbau kepada seluruh camat untuk memonitor di desanya. Terutama yang tinggal di bantaran sungai. “Paling tidak, mewaspadai terhadap fasilitas pemerintahan, air bersih, listrik. Jangan sampai terganggu aktifitas masyarakat,” imbaunya.

Bupati mengaku, berdasarkan pemantauan di lapangan, debit air sudah mulai turun. Untuk informasi, sejak informasi ini dirilis, akses dari Nanga Mahap menuju Nanga Taman, Rawak dan kota sekadau terputus. Beberapa titik disepanjang jalan Nanga Taman-Mahap belum bisa dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat karena terendam banjir. 

Titik yang terendam banjir itu diantaranya, jembatan sungai mani, jembatan sungai burus, jembatan sungai mentuka, jalan Meragun dan di depan SMAN Nanga Taman. Puluhan kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat parkir menunggu air surut, namun ada juga diantaranya yang berbalik arah pulang ke kota sekadau. Termasuk juga kendaraan roda empat hilux milik Bupati Sekadau. Menurut Sidin, yang rumahnya tepat berada di jembatan sungai mani, banjir terjadi sekitar pukul 01.00 WIB dinihari.

Selain di Kabupaten Sekadau,  banjir juga merendam beberapa wilayah di Kabupaten Sambas. Di antaranya Kecamatan Paloh dan Teluk Keramat. Mulai Sabtu pagi ketinggian air menapai satu meter. Air mulai tinggi hingga satu meter mulai sekitar pukul 02.00 WIB.

“Sabtu dinihari, karena sejak dua hari terakhir daerah Paloh dan sekitarnya diguyur hujan dengan intensitas lebat," kata Mizan salah seorang warga Desa Sebubus Kecamatan Paloh saat di hubungi di Paloh, Sabtu.

Saat ini, menurut dia banjir sudah merendam kebun pepayanya yang baru mulai berbunga dan kebun lada masyarakat setempat. Air hingga terus meninggi, karena hujan terus turun, sementara air laut dan sungai tampak pasang.

“Hingga saat ini belum ada masyarakat Desa Sebubus yang sampai mengungsi. Dan bantuan dari Pemda setempat juga belum ada,” paparnya.

"Saya mengalami kerugian akibat banjir tahun ini, karena pepaya yang saya tanam terendam banjir. Semoga ada solusi dari pemerintah atas musibah banjir kali ini," harap Mizan.

Sementara itu, Desa Pipiteja, Kecamatan Teluk Keramat juga direndam banjir hingga ketinggian lutut orang dewasa, yang juga terjadi sejak, Jumat malam (6/12).

Herdianto salah seorang masyarakat Desa Pipiteja menyatakan, desanya memang rutin terendam banjir apabila memasuki musim penghujan.


"Tetapi banjir kali ini cukup besar, sehingga banyak rumah masyarakat di desanya yang terendam banjir tahun ini. Bahkan SMA Negeri 2 Teluk Keramat juga terendam banjir hingga ketinggian 10 centimeter," ungkapnya.

Dia berharap, air cepat surut sehingga masyarakat secepatnya bisa melakukan aktifitas seperti biasanya.

Sebelumnya, intensitas curah hujan yang tinggi di Kabupaten Sambas menyebabkan Desa Bukit Segoler, Kecamatan Tebas, mengalami banjir yang cukup parah. Akibatnya, 52 Kepala Keluarga di desa tersebut terpaksa harus mengungsi. 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sambas Yudi mengatakan, pihaknya sudah memantau kondisi banjir yang terjadi Desa Bukit Segoler. Dinas Sosial dan pemerintah desa juga sedang melaksanakan pendataan terkait jumlah korban banjir di desa tersebut.

"Dinas Sosial sedang melakukan pengumpulan data jumlah penduduk yang terdampak banjir yang selanjutnya akan menyalurkan bantuan logistik," tuturnya.

Masyarakat Kabupaten Sambas terutama yang bermukim di sekitar sungai pun diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.

Yudi mengatakan, wilayah yang dinilai rawan banjir telah dipetakan dan dibagi menjadi tiga kategori,  yakni daerah dengan potensi rawan banjir tinggi, sedang dan rendah.

"Setidaknya ada 36 desa yang kita validasi rawan banjir di Kabupaten Sambas, pemetaan banjir sudah dilakukan sesuai dengan data potensi banjir," tuturnya.

Dari 36 desa yang dipetakan oleh BPBD sebagai daerah rawan banjir, terdapat 13 desa dengan rawan tinggi, 20 dengan rawan sedang, dan 3 dengan potensi rawan rendah.

Desa yang masuk rawan tinggi adalah Desa Santaban, Sungai Bening, Beringin, Sungai Nilam, KP Keramat, Sayang Sedayu, Semanga, Sepantai, Lubuk Dagang, Gapura, Gayung Bersambut, Sebangun dan Tempapan Hulu.

Kemudian yang berpotensi sedang beberapa diantaranya adalah Desa Samustida, Senujuh, Saing Rambi, Lumbang, Sungai Rambah, Pangkalan Bemban, Parit Kongsi, Tempatan, Teluk Pandan, Sagu, Sijang, Sungai Palah, Tebas Sungai, Serindang, Batu Makjage, Pangkalan Kongsi, Sabung, Balai Gemuruh, Nibung dan Buduk Sempadang.

Sementara daerah rawan rendah adalah Desa Sebawi, Rantau Panjang dan Sungai Toman. (ant/akh/noi/mul)