Kamis, 30 Januari 2020


RSUD Pontianak Raih Lima Penghargaan Bergengsi

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 233
RSUD Pontianak Raih Lima Penghargaan Bergengsi

Direktur RSUD Pontianak (tengah) dan jajaran menunjukkan plakat penghargaan yang diraih sepanjang 2019.

PONTIANAK, SP - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD ) Kota Pontianak meraih lima penghargaan bergengsi sepanjang kepemimpinan dr Johnson. Sejumlah target yang dicanangkan ketika menjabat Mei 2019 lalu pun tercapai.

Kelima penghargaan itu adalah Public Service of The Year 2019 dari Mark Plus,  Top 99 Inovasi untuk pelayanan pasien diabetes dari Kemenpan-RB, penilaian standar layanan paripurna dari Komite Akreditasi Rumah Sakit, Role Model Pelayanan Publik dari Kemenpan-RB, dan predikat Wilayah Bebas Korupsi dari Kemenpan-RB dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Dalam waktu tujuh bulan, memang tidak ada hal yang gampang, tapi kami percaya dengan kekompakan tim rumah sakit, inilah kekuatan kami. Sehingga kendala yang dihadapi bisa," katanya Rabu (11/12).

Johnson mengatakan, sejak dipercaya memimpin RSUD Pontianak tujuh bulan lalu, bersama seluruh staf rumah sakit, mereka mengejar target pelayanan maksimal. Hampir semua yang dicanangkan, sudah berjalan. Mulai dari mengurai pasien di rawat jalan dengan membuka poli sore, mengurai pasien rawat inap dengan menambah ruangan baru, hingga penambahan tempat tidur untuk memastikan pasien yang datang tertangani. 

"Makin banyak penghargaan makin banyak beban. Penghargaan itu cambuk bagi kami untuk tetap memberikan pelayanan dengan mempertahankan yang terbaik," katanya.

Selain itu, rumah sakit tanpa kelas ini pun berhasil membuka penyetaraan kelas untuk memenuhi standar program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Kini tersedia ruang Mawar yang setara kelas tiga versi BPJS Kesehatan, ruang Kasturi untuk peserta kelas dua, dan ruang Kenanga untuk kelas satu. Perbedaan ruangan itu hanya dari jumlah tempat tidur. Penanganan dilakukan sesuai jenis penyakit. 

"Jumlah total tempat tidur sekarang 210, dengan kunjungan 1.000 orang per bulan," katanya.

Jumlah itu memang seringkali kurang. Ada beberapa hal yang jadi penyebab, seperti jenis kelamin pasien, dan jenis penyakit. Pasien lelaki dan perempuan tak mungkin digabung. 

"Di sini kan ruangan dibagi berdasarkan unit kerja, tergantung penyakit. Misal ruangan saraf dan sebagainya. Kadang ada yang harus antre tunggu tempatnya," katanya.

Sejatinya, ada rencana penambahan ruangan dan tempat tidur untuk ruang Intensive Care Unit (ICU). Sayangnya, terkendala tenaga medis. Padahal ruang sudah tersedia. (bls)