Senin, 17 Februari 2020


Ngamar dengan Sesama Jenis, Motor Raib

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 324
Ngamar dengan Sesama Jenis, Motor Raib

Ilustrasi

PONTIANAK, SP - Pelaku pencurian motor (curanmor) berinisial RL (20) roboh saat timah panas bersarang di kedua kakinya. Pelaku berjenis kelamin laki-laki ini digotong ke Rumah Sakit Anton Soejarwo untuk mendapat perawatan usai berusaha melarikan diri saat ditangkap jajaran Reskrim Polresta Pontianak, Jumat (17/1). 

Warga Kabupaten Sambas ini diyakini telah melancarkan aksinya di dua lokasi dengan barang bukti dua buah motor dan empat buah handpone. Sebelum melancarkan aksinya tersebut, antara pelaku dan korbannya yang juga laki-laki sempat 'ngamar' di sebuah kost milik pelaku. 

Kanit Reskrim Polresta Pontianak, IPTU Jatmiko mengatakan pihaknya saat ini sedang mendalami modus pelaku, terutama apakah pelaku memiliki kelainan seks. Namun yang jelas kata dia, korban diajak pelaku menginap di kost tersebut. 

"Kami belum bisa memastikan, namun yang jelas korban diajak menginap ke kamar kost," ujarnya. 

Sebelumnya, Jatmiko menjelaskan awal perkenalan antara pelaku dan korban melalui media sosial. Setelah berkomunikasi intens, akhirnya pelaku mengajak korbanya menginap di kostnya. Pada suatu kesempatan, ketika korbannya pergi ke wc untuk buang air, pelaku pun menggasak seluruh barang-barang, termasuk sepeda motor milik korban. 

Barang-barang hasil curian ini dijual pelaku ke daerah Sambas dan Singkawang. Sementara sisanya, sebelum ditangkap, sebagian barang bukti berupa handpone dibuang pelaku di darerah Kota Baru dan Sungai Raya untuk menghilangkan barang bukti. 

Namun begitu, saat dilakukan penggeledahan di kamar kost, petugas menemukan satu buah handphone lain. Handpone ini diduga milik korbannya yang lain. Saat ini pihak kepolisian sudah mengantongi identitas pemilik handpone tersebut dan dilakukan pengembangan.

"Karena satu korbannya yang lain ini belum buat laporan. Namun kami sudah mengantongi identitasnya," kata Jatmiko.

Saat dikonfrontasi awak media, pelaku ini menyebut dirinya sebagai Bot. Nama itu sebagai sebutan dirinya berposisi sebagai 'perempuan' ketika berhubungan badan dengan sesama. Perilaku ini sudah satu tahunan dilakukannya. Berawal dari perkenalan, berkomunikasi intens, hingga berhubungan badan. 

Ditambahkannya, perbuatannya ini, kata dia tidak rutin dilakukan, dalam satu minggu paling tidak sekali atau dalam sebulan tiga hingga empat kali. Walaupun mau sama mau, namun hampir rata-rata perbuatan ini atas ajakan korbannya. 

Dikarenakan merasa selama menjadi Bot, korban tidak pernah berkontribusi dalam bentuk materi, akhirnya pelaku menggasak seluruh barang-barang korban ketika korban lengah usai berhubungan badan. Cara ini dianggapnya sebagai bayaran korban tehadap dirinya. 

"Jadi impas gitu," katanya. 

Atas perbuatannya ini, pelaku akan dijerat padal 363 KUHP, dengan ancaman pidana di atas lima tahun kurungan penjara. (sms)