Senin, 17 Februari 2020


Kalbar Waspada Corona

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 4254
Kalbar Waspada Corona

Grafis Koko

PONTIANAK, SP – Hingga kini Kota Singkawang dan Kalimantan Barat masih bebas dari virus Corona. Sebagai tujuan destinasi dunia dalam perayaan Cap Go Meh, berkembangnya penyakit mematikan dari Wuhan, Tiongkok ini bikin was-was. Namun pemerintah memastikan segala upaya antisipasi telah dilakukan.

Kepala Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk Sambas, Purwoto mengatakan, guna mengantisipasi sebaran virus corona yang saat ini meresahkan, pihaknya telah mengambil langkah-langkah diperlukan.

"Misalnya, bagi stakeholders (petugas yang ada di PLBN) dibagikan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan sarung tangan," ungkapnya, Minggu (26/1).

PLBN Aruk juga memiliki  thermoscanner. Alat ini berguna untuk memantau langsung individu yang akan melintas.

"Bagi pelintas pemantauan kami menggunakan thermoscanner dan bagi pelintas dari daerah terjangkit diberikan kartu kewaspadaan dini (hAC)," katanya.

Tidak hanya di Aruk, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas 2 Pontianak Wilayah Kerja Entikong, Sanggau juga memperketat pengawasan di pintu masuk perbatasan.

“Setiap orang yang melintas kami periksa dengan thermoscanner sebagai pemeriksaan awal. Apabila nanti ada gejala tambahan yang mengarah pada coronavirus dan diperkuat dari data riwayat perjalanannya, akan kami lakukan pemeriksaan lanjutan dan isolasi bila memang diperlukan,” kata dokter KKP Kelas 2 Pontianak Wilayah Kerja Entikong, Gilda Ditya Asmara.

Pemeriksaan awal menggunakan thermoscanner diberlakukan kepada seluruh pelintas dan respon mereka sejauh ini sangat kooperatif. Semua karena sudah tersosialisasikan melalui media dan dibantu juga dengan kerja sama dari instansi yang ada di PLBN Entikong.

Tugas pencegahan penyakit menular memang sudah menjadi tupoksi utama KKP, sehingga pengawasan pelintas memang sudah rutin dilakukan. 

“Terkait dengan adanya novel coronavirus kami melakukan juga pendataan yang lebih mendetail kepada pelintas yang diduga pernah berkunjung ke negara terjangkit nCoV,” terang Gilda. 

Sementara di Bandara Internasional Supadio Kubu Raya, otoritas terkait telah memiliki thermoscanner dan alat penyaring udara. Mereka juga menyiapkan ruang isolasi.

“Kami telah menyiapkan ruangan isolasi untuk penumpang yang teridentifikasi virus corona segera ditangani. Sehingga tak menjangkit kepada penumpang yang lain,” kata Kepala Divisi Operasional PT Angkasa Pura II Bandara Internasional Supadio, Nuril Huda.

Ada dua penerbangan internasional langsung yang dilayani di bandara ini. Keduanya adalah penerbangan dari Kuala Lumpur dan Kuching, Malaysia. Keduanya masih berjalan normal. Petugas juga belum menemukan adanya penumpang yang terdeteksi terkena virus corona. 

Sementara, jelang Cap Go Meh lonjakan kedatangan penumpang diprediksi akan mengalami peningkatan. Hingga saat ini, sudah ada satu penerbangan yang menambah armada sampai tanggal 30 Januari nanti. Rutenya, Jakarta ke Pontianak dan Pontianak ke Jakarta.

“Sementara baru Lion yang ajukan extra flight sampai dengan tanggal 30,” pungkasnya.

Singkawang Aman

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Singkawang, Djoko Suratmiarjo mengatakan meski belum ditemukan virus corona di Kota Singkawang bahkan di Kalbar, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk waspada. 

"Untuk di Singkawang memang masih belum ditemukan, mudah-mudahan tidak ada kasus. Kami hanya antisipasi saja," kata Djoko.

Pihaknya pun sudah mengirim surat ke rumah sakit dan puskesmas yang ada di Kota Singkawang guna mengantisipasi kasus ini. "Serta meneruskan surat edaran Kemenkes," ujarnya. 

Menurutnya, beberapa gejala umum virus corona, antara lain penderita mengalami demam, batuk dan sesak serta kesulitan untuk bernafas. 

"Apabila mengalami hal yang demikian, segera periksakan ke rumah sakit untuk diambil tindakan," ungkapnya.

Senada, Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Harrison mengatakan hingga saat ini belum ada pasien suspek virus corona di wilayah Kalimantan Barat.

"Di Kalbar belum ada suspek pasien pneumonia karena novel coronovirus," katanya.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus, Dinas Kesehatan Kalbar telah melaksanakan langkah awal pencegahan. Bahkan, setiap rumah sakit dan puskesmas yang di Kalbar melakukan pengamatan terhadap peningkatan kasus pneumonia di daerahnya masing-masing.

"Kami telah menunjuk beberapa rumah sakit sebagai pusat penanganan pasien suspek dan saya meminta masing-masing menyiapkan ruang isolasi," jelasnya.

Beberapa rumah sakit yang ditunjuk sebagai pusat penanganan pasien pneumonia yaitu Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) dr Soedarso, RSUD Abdul Azis Singkawang, RSUD Ade Moh Djoen Sintang, RSUD Sultan Syarif Moh Alkadrie Pontianak, Rumkit Kartika Husada, RS Bhayangkara Anton Soedjarwo, RS Antonius Pontianak, RS Mitra Medika Pontianak, serta sejumlah rumah sakit lain di Kalbar.

Tidak hanya itu, Harrison juga menegaskan agar jajarannya untuk segera melaporkan kasus suspek pneumonia berat yang memiliki riwayat perjalanan dari negara terjangkit yang ditemukan ke Ditjen P2P melalui Public Health Emergency Operation Centre (PHEOC).

"Kami sudah juga menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak terutama dengan jajaran di perbatasan seperti Kantor Kesehatan pelabuhan (KKP) dan belum ada pasien pneumonia suspek virus corona," kata Harrison.

Langkahnya antara lain dengan memasang thermoscanner atau alat pemindai suhu tubuh di setiap pintu masuk ke Kalbar, seperti bandara, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan sebagainya. 

"Setiap pintu masuk akan kita siapkan thermoscanner, termasuk prosedur kesehatan. Di mana nanti Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) melakukan pemeriksaan, kalau nanti di sertifikat pesawat atau bandara ada yang sakit. Alat ini nanti akan melihat suhu penumpang. Jika diidentifikasi terkena, akan langsung dibawa ke rumah sakit," jelasnya.

Rumah sakit yang jadi rujukan akan mempersiapkan ruangan isolasi, beserta petugas dan alat pelindung diri. 

“Jadi nanti mereka akan merawat pasien di situ, kemudian Dinkes nanti akan mengambil sampel dan nanti akan dicek labnya di Jakarta. Nanti di situ akan dapat kepastian apakah itu masuk dalam nCoV atau bukan," tambahnya. 

Dia berharap masyarakat tidak terlalu panik mengenai isu ini. Dia memastikan Dinkes akan bekerja ekstra menyikapi hal ini. Pihaknya telah melakukan antisipasi. Paling penting, masyarakat harus menjaga kesehatan, karena virus menyerang tubuh dalam keadaan lemah.

"Selalu untuk cuci tangan pakai sabun selama 20-30 detik di bawah air yang mengalir, ini penting sekali. Baik sebelum makan, sesudah makan atau aktivitas lain. Kita imbauan kan juga agar masyarakat ke dokter apabila ada gejala batuk kering, demam, mada terasa lesu, dan sesak nafas. Karena phenomia NCoV ini dia juga ada gejala di pencernaan (diare) dan dia akan menyerang ginjal," jelasnya.

Korban Bertambah

Jumlah korban tewas di Tiongkok akibat wabah virus corona jenis baru yang menyerang paru-paru bertambah menjadi 52 orang hingga Minggu (26/1) pagi. Tiga dokter Beijing pun dinyatakan positif sepulang dari Wuhan, Provinsi Hubei, sebagai daerah pertama ditemukannya kasus itu.

Secara keseluruhan, wabah virus tersebut berjumlah 1.287 kasus, baik yang positif maupun yang terduga, di seluruh wilayah daratan Tiongkok. Dari jumlah itu, sebanyak 549 kasus di antaranya berasal dari Provinsi Hubei dan 85 orang dinyatakan negatif dan telah diizinkan meninggalkan rumah sakit.

Sementara itu, di Beijing terdapat 10 kasus baru, termasuk tiga orang dokter, sehingga sampai saat ini totalnya 51 kasus. Dari tiga dokter asal Beijing yang mengidap virus 2019-nCoV itu, dua di antaranya telah melakukan perjalanan ke Wuhan, sedangkan satunya lagi sempat duduk bersama dengan seorang pengidap dalam salah satu rapat di Wuhan.

Sementara itu, mulai Minggu, Dinas Lalu Lintas Jalan Raya Kota Beijing menutup semua akses kendaraan penumpang dan barang antarprovinsi. Salah satu perusahaan bus antarprovinsi dari Bandar Udara Internasional Daxing, Beijing, telah menghentikan layanan ke luar provinsi sejak Sabtu (25/1).

Sejak Jumat (25/1) petugas kesehatan dibantu aparat kepolisian mendatangi setiap rumah atau apartemen di Beijing untuk memastikan tidak ada warga dari Wuhan atau baru saja bepergian dari Wuhan.

Sampai saat ini, Distrik Dongcheng masih nihil dari kasus wabah virus yang ditularkan oleh ular dan kelelawar di Pasar Huanan, Wuhan, Provinsi Hubei itu. Jarak Beijing-Wuhan sekitar 1.500 kilometer.

Sebanyak 150 petugas medis dari Army Medical University diterbangkan dari Kota Chongqing menuju Wuhan untuk membantu penangangan wabah mematikan itu pada, Kamis (24/1), atau H-1 Tahun Baru Imlek di Tiongkok. 

Indonesia Aman

Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto menegaskan Indonesia masih aman dari virus corona.

"Enggak ada yang suspek," bantahnya soal isu miring yang beredar.

Terkait dengan soal kelelawar yang disebut-sebut sebagai mediator virus tersebut, sambungnya, sementara sebagian warga Indonesia ada yang mengonsumsi kelelawar, juga hoaks.

"Hoaks itu. Kelelawar dan semacamnya, enggak ada," kata dia.

Mengantisipasi masuknya virus corona dari Wuhan, semua unsur telah siap. Termasuk Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) baik di bandar udara maupun di bandar laut.

"KKP jangan kendor untuk siaga satu kali 24 jam. Melihat, memantau kedatangan penumpang dan koordinasi terus," katanya.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus corona ini, kepada semua masyarakat Indonesia, Terawan minta kewaspadaan tinggi dan hidup sehat bisa mencegah terjadinya penularan dan ketularan. (ant/cnn/jul/iat/noi/sms/bls)