Kisah Anak Delapan Tahun Memeluk Islam (bagian 2)

Potret

Editor Tajil Atifin Dibaca : 331

Kisah Anak Delapan Tahun Memeluk Islam (bagian 2)
BOCAH MUALAF - Yogi Setiady (8), didampingi sang ibu Mariana Erie Yantie menceritakan kisahnya memeluk agama Islam kepada awak media di Kabupaten Ketapang, kemarin.
Manusia zaman moderen boleh jadi melupakan petuah turun temurun yang menganjurkan agar saat matahari mulai terbenam dan malam menjelang semua orang diharuskan masuk rumah dan bersiap-siap berangkat ke masjid untuk Salat Magrib. Namun, petuah ini seakan dipegang teguh oleh Yogi Setiady, seorang anak delapan tahun yang memeluk Islam.  

Setiap sore yogi kerap menghilang, ternyata dari keterangan tetangga dia sering meliat orang sembahyang dan melihat cara orang berwudhu, tak hanya itu dia juga sering ke Pesantren untuk belajar soal agama Islam.

Memastikan hal tersebut, sang ibu, Mariana Erie Yantie menanyakan ke Yogi mengapa dirinya sering pergi pada sore hari dengan membawa tas, ternyata Yogi mengaku dirinya pergi belajar agama untuk mengetahui soal agama Islam.

"Belum terlalu saya hiraukan saat itu, tapi dia pernah bilang kalau sudah besar mau naik haji mengajak mamak dan bapak, mau kerja apapaun asalkan halal, dan dia juga sering meminta uang ke saya ketika orang takbiran dan mengasi uang ke orang takbiran sambil mengatakan ke saya untuk berbuat amal dan bersedekah," jelasnya.

Keinginan besar Yogi juga terlihat ketika mulai aktif belajar pada kelas 1 SD, yang mana pada saat pelajaran agama, setiap siswa dipisahkan antara agama Islam dan non muslim, saat itu Yogi hendak diajak masuk kelas agama non muslim namun dirinya meronta dan menangis untuk belajar pada kelas agama Islam.

"Bahkan dia mengancam akan pulang kalau belajar agamanya, dia mengaku agamanya Islam dan ingin sepenuhnya belajar agama Islam. Lama kelamaan, akhirnya Yogi diperbolehkan gurunya ikut pelajaran agama Islam meskipun belum memeluk agama Islam bahkan nilai di rapotnya tertinggi pada pelajaran agama," kenangnya.

Berjalan waktu, Yogi semakin sering pergi pada sore hari, sampai pada waktu itu tetangganya menceritakan, bahwa ia tidak perlu khawatir kalau Yogi sering pergi ketika sore hari, bahkan menjelang magrib, dan memintanya untuk mendengarkan adzan berkumandang, qomat dan salawat dari surau dekat rumahnya.

"Kata tetangga, yang adzan, salawat, qomat itu Yogi, saya tidak percaya itu, tapi ternyata memang benar itu Yogi, bahkan anak-anak sebayanya juga menjadi ramai ke surau. Yogi sempat bilang ke saya, mak Islam itu damai dan disurga itu ada ketenangan," ceritanya.

Dari rentetan hal tersebut membuat dirinya mulai luluh, bahkan dirinya sempat meneteskan air mata ketika Yogi mulai duduk di bangku kelas 2, yang mana Yogi meminta dirinya untuk mengislamkan Yogi dengan alasan supaya bisa belajar mengaji.

"Yogi minta di Islamkan, supaya ketika meninggal tidak kemana-mana, saya meneteskan air mata saat itu," tuturnya. (theo bernadhi/bob)