Petani Kabupaten Sambas Pilih Jual Lada ke Malaysia

Sambas

Editor sutan Dibaca : 3065

Petani Kabupaten Sambas Pilih Jual Lada ke Malaysia
TERIMA BANTUAN- Sejumlah kelompok tani Kecamatan Paloh mendapatkan bantuan alat pencacah biji lada dari Untan. Penyerahan alat ini dilakukan secara simbolis diberikan langsung Camat Paloh, Usman, pekan lalu. SUARA PEMRED/INDRA NOVA
Melonjaknya harga lada di Kabupaten Sambas tembus Rp 130-200 ribu per kilogram  dianggap berkah bagi para petani lada di daerah.  Sayang, keuntungan itu tidak didukung oleh pemerintah, terutama dalam pengembangan perluasan lahan dan teknik penanaman secara modern.    

Seperti kawasan penghasil lada di Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Selama ini di desa ini, para petani, hanya sekedar untuk memasarkan lada mereka  harus melewati jalan rusak dan lamanya perjalanan.

Padahal lada menjadi komoditi unggulan bagi para petani untuk meningkatkan perekonomian mereka.
“Saat ini ada sekitar ratusan masyarakat yang berkebun lada di desa ini. Sebagian sudah panen,” tutur Camat  Paloh, Usman.  

Tapi, banyak petani justru menjual hasil lada mereka ke negara tetangga, Malaysia. alasannya, akses ke Biawak, Malaysia lebih dekat ketimbang harus ke pusat Kota Sambas. Itu karena Kecamatan Paloh merupakan daerah berbatasan langsung dengan PPLB Aruk, Sambas.

Ada juga pengusaha dari Pontianak dan Singkawang yang menampung hasil lada petani di sana.   Meski, warga bersemangat menanam lada, Usman justru membenarkan perhatian dari pemerintah justru minim.

Ini bisa dilihat, sudah puluhan tahun, para petani di sini masih menanam lada menggunakan cara tradisional. Dampaknya, hasil panen tidak maksimal.  

Petani lada Desa Sebubus, Nawi mengaku sangat berharap sekali pemerintah ikut intervensi. “Kami mengalami kesulitan jika saat panen, karena kami masih melakukannya secara manual,” ungkapnya.  

Ia menjelaskan, panen lada selama ini hanya bisa panen setahun sekali. Bahkan, untuk perawatan membutuhkan perhatian ekstra.  Begitu memasuki musim panen, lada justru tidak bisa langsung dipasarkan.
Lada terlebih dulu harus dibersihkan, dan kemudian dijemur matahari langsung.
  “Semua proses itu dilakukan manual,” tutur Nawi.
Padahal, di daerah luar, para petaninya justru telah menggunakan alat selama proses pengeringan dan pembersihan biji lada.  (indra nova/loh)