Nelayan Paloh, Kabupaten Sambas Jual Ubur-ubur Ke Malaysia

Sambas

Editor sutan Dibaca : 1503

Nelayan Paloh, Kabupaten Sambas Jual Ubur-ubur Ke Malaysia
Masyarakat Desa Sebubus sedang menjemur ubur-ubur. (SUARA PEMRED/Nova Jarthakusuma)
SAMBAS, SP- Pantai Kampak Indah, Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, menjadi lokasi puluhan nelayan panen ubur-ubur.  

Hasil panen ubur-ubur dari nelayan ini dibeli oleh penampung dan dijual ke Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia. Aktivitas panen ubur-ubur,  dimulai sejak Februari - April 2016, seluruh nelayan yang sebelumnya memancing ikan,  kini mengubah aktivitas mereka mencari ubur-ubur.  

Salah seorang nelayan asal Desa Sebubus, Bujang Safrani, Minggu (10/4), mengatakan, dari bulan Februari hingga April setiap harinya ada sekitar ratusan nelayan yang mencari ubur-ubur.  
"Kegiatan nelayan mulai dari pagi hingga sore hari. Malam harinya biasa ada nelayan yang melanjutkan mencari ikan," ucap Bujang.

Setiap harinya para nelayan berlomba mencari ubur-ubur sebanyak mungkin, karena lokasi binatang laut yang dikenal dengan nama "jelly fish" ini dapat dengan mudah ditemukan di perairan pantai desa Sebubus.


Caranya memanennya pun gampang. Pagi hingga sore, nelayan menggunakan motor mendekati kumpulan ubur-ubur yang bermain pada setiap bulan-bulan tertentu dan langsung menaikkan ke motor.


Cukup dengan perlengkapan jarring dia menaikkan berpuluh-puluh binatang berbentuk jelly jernih itu.


Mereka pun tak kesulitan memasarkannya. Sebab, sudah ada penampung untuk ubur-ubur tersebut. Dari pengumpul, kemudian hewan laut ini dibersihkan kemudian dijual ke penampung asal Malaysia.


Dalam sehari, nelayan bisa mendapatkan sekitar 400 hingga 500 ekor ubur-ubur dan langsung di jual ke penampung dengan harga Rp2.200 per ekor.


"Walaupun ubur-ubur ini tidak bisa dikonsumsi secara langsung, namun musim ubur-ubur ini bisa meningkatkan ekonomi masyarakat nelayan. Per hari satu orang nelayan bisa membawa uang hingga Rp1,5 juta, karena saat nelayan dapat ubur-ubur langsung dibayar ditempat oleh penampung," jelas Bujang.


Menurut Bujang, ubur-ubur hasil tangkapan nelayan Desa Sebubus, bisa mencapai puluhan ton per hari.
  Berdasarkan informasi ubur-ubur hasil panen nelayan ini dijual penampung ke Malaysia dan selanjutnya ke negara Jepang, Cina, Korea hingga Taiwan sebagai bahan baku pembuatan kosmetik.

Menurut Bujang, panen ubur-ubur ini menjadi pekerjaan sampingan nelayan, karena hanya ada pada bulan tertentu saja.


Siapa pun tak menyangkal, awalnya, tak ada yang melirik hewan ini untuk bisnis atau laku dijual.
  Malah, dianggap mengotori pantai karena binatang ini bisa menyengat.
Konon, setelah melalui pengolahan khusus, ubur-ubur dapat dijadikan menu utama bernilai tinggi, seperti sirip hiu atau pun sarang walet. Di beberapa Negara, panganan ini cukup dicari.


Diharapkan panen ubur-ubur ini bisa dilakukan dengan maksimal, selain menaikkan taraf hidup nelayannya, juga menjadi pendapatan daerah. (nova jarthakusuma/aju)