Perjuangan Orang Sambas Angkat Derajat Wisata Bahari Temajuk (Bagian 3, Selesai)

Sambas

Editor sutan Dibaca : 1280

Perjuangan Orang Sambas Angkat Derajat Wisata Bahari Temajuk (Bagian 3, Selesai)
Penyu Hijau di Pantai Temajuk, yang siap bertelur. Musim Penyu bertelur daya tarik bagi wisatawan, sehingga harus dikemas dengan acara dan promosi terbaik, agar mendatangkan banyak manfaat. MONGOBAY.CO.ID/ANDI FAHRIZAL
Perbanyak Kegiatan di Tiga Musim Unik Menjadikan Pantai Temajuk sebagai destinasi utama wisata bahari di Indonesia, sebenarnya bukan hanya mimpi. Tekad tersebut bisa diwujudkan, asalkan ada komitmen untuk kerja keras dan kerja sama, dari semua elemen masyarakat, pemerintah, dan stakeholder.

Mendapat pengakuan dari berbagai pihak sebagai Surga di Ekor Borneo atau Surga di Ujung Negeri, Pantai Temajuk belum memberikan manfaat maksimal bagi daerah, terutama masyarakat sekitar. Padahal keindahanan dan kekayaan alamnya, tidak kalah dari pantai-pantai ternama di Indonesia.

“Komitmen kami adalah memperbanyak event yang berskala nasional dan internasional, terutama di saat-saat musim unik di Pantai Temajuk,” ujar Koordinator Kelompok Masyarakat Peduli Temajuk (KMPT), Misni Safari. Menurut pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sambas ini, ada tiga musim unik di Pantai Temajuk.

Tiga musim ini sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat, mereka yakin, musim-musim ini bisa mendatangkan berkah dan manfaat, apalagi bila dikelola dengan baik oleh berbagai pihak. Musim unik pertama biasanya terjadi pada Bulan Maret setiap tahunnya. Masyarakat biasanya menyebut dengan musim ubur-ubur, yaitu munculnya ubur-ubur dalam jumlah yang luar biasa, karena terjadinya siklus laut.

Populasi ubur-ubur meningkat dengan luar biasa, dan banyak yang menepi ke pinggiran pantai. Musim ubur-ubur ini hanya terjadi setahun sekali, atau dua tahunan sekali dan mungkin juga empat tahun sekali. Saat musim ubur-ubur, tidak jarang masyarakat Desa Temajuk, yang pekerjaan sehari-harinya hanya menangkap ikan di laut, beralih menangkap ubur-ubur di sekitaran pesisir Pantai Temajuk. Areal penangkapan ubur-ubur dari Tanjung Bendera hingga ke Tanjung Datuk. Pada musim ini, Pantai Temajuk ramai dikunjungi.

Selama rentang kurang sebulan, masyarakat seperti tumpah ruah di pantai, dari berbagai usia, orangtua, anak-anak, remaja dan pemuda, bahkan kalangan ibu-ibu, yang sehari-harinya bekerja sebagai ibu rumah tangga, ikut dalam pesta musim ini.

“Momen ini tidak terlewatkan oleh masyarakat Desa Temajuk. Selain bisa menjadi saat yang tepat untuk mendatangkan wisatawan, juga menjadi waktu yang tepat menambah penghasilan masyarakat,” papar Misni.

Selain musim ubur-ubur, Pantai Temajuk juga memiliki musim unik, yaitu gelombang besar. Saat air laut surut, pantai ini menyisakan hamparan pasir yang sangat luas, dengan lebar sekitar 100-150 meter. Namun ketika memasuki bulan Oktober-Februari, tiupan angin cukup kencang, sehingga tinggi gelombang pantai bisa mencapai 2 meter bahkan lebih.

Musim inilah saat yang tepat untuk para wisatawan yang suka dengan olahraga, khususnya sky diving atau berselancar. Saat-saat seperti ini, para wisatawan, bahkan dari manca negara, banyak yang menghabiskan waktunya di Pantai Temajuk. Mereka bisa berjemur, selepas berselancar di atas gelombang besar. Gelombang yang bergulung-gulung hingga ke bibir pantai, seakan mengajak wisatawan untuk bermain dan menaklukkan.

Namun, sayang musim unik berupa gelombang besar ini, belum dikelola dengan baik, misalnya penyediaan papan selancar, ataupun perlengkapan lainnya. Yang tidak kalah menarik adalah musim penyu bertelur. Musim ini biasanya terjadi pada Juli-Agustus. Pada musim ini, Pantai Temajuk juga sangat ramai dikunjungi.

Walau masih menjadi hal yang pro kontra terhadap perayaan musim ini, tetapi tidak menghalangi masyarakat menyaksikan ribuan penyu bertelur. Penyu bertelur di sepanjang Pantai Temajuk dengam area sekitar 60 Kilometer dan Pantai Sebubus dengan panjang 19,3 kilometer. Menurut data WWF Kalbar, yang sejak 2011, melakukan pendampingan terhadap masyarakat dalam menjaga Penyu bertelur, tercatat Penyu bertelur paling banyak di antara Sungai Mutusan dan Pantai Belacan. Ada 8.541 sarang penyu, dengan dua jenis utama yakni penyu hijau, 98,33 persen dan penyu sisik, sekitar 1,70 persen.

Pada musim penyu tidak hanya mengundang para wisata happy fun saja, namun bisa juga menjadi wisata pendidikan, terutama bagi para pelajar dan mahasiswa. Habitat penyu yang terus menyusut dan berkurang, maka diperlukan kajian dan langkah dari akademisi serta lembaga swadaya lainnya, agar populasi makhluk yang dilindungi ini tidak punah, sebaliknya bisa meningkat. Kajian dan langkah terbaik tersebut dapat berwujud dengan pembangunan Taman Wisata Alam yang bertugas melindungi penyu dan habitat lainnya di sekitar wilayah tersebut. Taman Wisata Alam yang dijaga dengan baik, professional, jelas meningkatkan derajat Pantai Temajuk dan sekitarnya, sehingga tidak kalah dari pantai-pantai terkenal di Indonesia.

Tiga modal musim unik ini, tidak bisa ditemui di pantai-pantai ternama di Indonesia. Oleh karena itu, tiga modal besar di Pantai Temajuk ini, harus dikelola dengan hati, agar benar-benar mewujudkan surga di ekor Borneo, surga untuk semua kalangan, surga yang bermanfaat. “Memperbanyak kegiatan pada musim-musim ini dengan pengelolaan dan promosi besar-besar, kami yakin akan meningkatkan kunjungan ke Pantai Temajuk. Kerja sama dan kerja keras semua pihak, niscaya dilakukan agar destinasi wisata yang luar biasa ini, bermanfaat luas bagi semua pihak,” tutur Misni. (aep mulyanto)