Perjuangan Orang Sambas Angkat Derajat Wisata Bahari Temajuk (Bagian Dua)

Sambas

Editor sutan Dibaca : 926

Perjuangan Orang Sambas Angkat Derajat Wisata Bahari Temajuk (Bagian Dua)
Koordinator Kelompok Masyarakat Peduli Wisata Temajuk, Misni Safari, yang juga Wakil Ketua DPRD Sambas (tengah), bersama masyarakat, berfoto di Tugu Garuda, sebagai pintu gerbang masuk ke Desa Temajuk. SUARA PEMRED/AEP MULYANTO
Menikmati Surga di Ekor Borneo Menikmati keindahan Pantai Temajuk, tidak akan pernah membosankan. Memandang hamparan pasir putih memanjang, akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan yang tidak terhingga. Sensasi inilah yang sangat dirindukan oleh siapa saja yang sudah pernah ke Surga di Ekor Borneo.

Kepenatan dan kesumpekan yang mendera saat beraktivitas sehari-hari lenyap, sehingga melahirkan optimisme baru. Kerinduan pada keindahan dan suasana Pantai Temajuk, tetap terasa, meskipun sudah berkali-kali mengunjunginya. Pantai yang masih alami, dilengkapi dengan keramahtamahan masyarakatnya.

Tidak dapat dipungkiri, destinasi utama wisata bahari di beranda terdepan negara tercinta ini, tidak kalah dengan pantai-pantai nama di Indonesia. Untuk menikmati surga di ekor Borneo ini, pengunjung dari luar Kalbar, harus masuk dari Kota Pontianak. Perjalanan yang cukup panjang, setidaknya sekitar 8-9 jam.

Tantangan jarak yang cukup jauh, sekitar 350 kilometer ini, tidak ada apa-apanya, bila dibandingkan dengan sensasi Pantai Temajuk yang penuh keindahan. Perjalanan dapat ditempuh lewat jalur darat ataupun udara. Jika lewat jalur darat, Kota Pontianak, pengunjung harus melewati setidaknya dua kabupaten, yaitu Mempawah dan sebagian kecamatan di Kabupaten Bengkayang, serta Kota Singkawang.

Perjalanan di tiga daerah ini, akan berjalan lancar karena sarana jalan sangat bagus, aspal mulus dan lebar. Tidak ketinggalan pemandangan alam yang juga indah. Pontianak-Sambas ditempuh sekitar 4-5 jam, dengan jarak tempuh 225 Kilometer.

Setibanya di Bumi Bubur Pedas, kita harus melewati Jembatan Batu atau sering disebut Geretak Batu, yang mengarah ke Kartiasa. Sampai di Jembatan Katiasa, kita menyeberangi Sungai Sambas menggunakan kapal ferry, tujuan Teluk Kalong. Tarifnya sekitar Rp5.000 per sepeda motor dan Rp35.000 jika menggunakan mobil pribadi. “Jalan ke Desa Temajuk, sudah semakin bagus.
Pemerintah, baik pusat, provinsi, dan Sambas, bersama-sama membangun sarana dan prasarana ini. bahkan, jalannya lebar, beraspal mulus, sehingga mudah dilalui, walau masih ada yang belum selesai,” ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dispemolbudpar) Kabupaten Sambas, H Asmani.

Usai menyeberangi Sungai Sambas, perjalanan berlanjut menuju arah Paloh. Dusun demi dusun akan dilewati, dengan jalan beraspal mulus hingga berlubang. Dusun Liku, Dusun Setingga, Dusun Merbau, dan sampailah di Dusun Sumpit. Di sini kita kembali harus menyeberangi sungai, yaitu Sungai Sumpit, dengan Perahu Bangkong. Pengendara motor dikenai tarif Rp10.000, dan Rp 100.000 per mobil pribadi. Kita pun sampai di Dusun Ceremai.

Sungai Belacan, adalah alur jalan yang saat ini dalam perbaikan, sehingga sedikit mengocok perut. Dari Sungai Belacan sensasi berkendara di pasir dapat dirasakan, selain itu juga sudah tersedia jalan pengerasan yang dapat mengantarkan ke Desa Temajuk dengan radius 30-100 meter dari bibir pantai dengan jarak ± 30 km. Perjalanan dari penyeberangan dua sampai ke Tugu Garuda di desa Temajuk, disuguhi pemandangan hutan dan semak belukar. Bisa dibilang rute perjalanan ini adalah menerobos hutan dan semak belukar. Jarang sekali ditemukan pemukiman, jadi sebaiknya persiapkan bahan bakar kendaraan yang cukup dan cek kembali kondisi kendaraan agar optimal. Perjalanan ini ditempuh sekitar 45-50 km.

“Pembenahan infrastruktur ke Desa Temajuk, menjadi prioritas pembangunan Pemkab. Kami berusaha menggandeng berbagai pihak, untuk mewujudkannya karena pariwisata bisa menjadi pendongkrak PAD,” kata Wakil Bupati Sambas, Hairiah. Setibanya di Desa Temajuk, maka kita disuguhi pesona keindahan ujung negeri yang luar biasa.

Dari Terumbu Karang yang masih terjaga kelestariannya, habitat penyu bertelur, kualitas air laut yang baik, total garis pantai 60 Kilometer, spesies bekantan yang masih sering ditemukan, hutan bakau yang rimbun, landskap gunung yang indah, hutan cemara yang menghijau, spesies ubur-ubur mudah ditemukan pada bulan tertentu, menjadi daya tarik utama. Selain Pantai Temajuk sebagai destinasi wisata utama, Desa Temajuk memiliki beberapa destinasi wisata lainnya.

Sejak masuk ke Desa Temajuk, tepatnya di pintu gerbang kita bisa berfoto dengan latar belakang menarik, berupa Tugu Garuda, simbol menuju beranda depan Indonesia. Kemudian ada Pantai Sixteen, yang terletak di RT 16, Dusun Camar Bulan. Pantai ini memiliki keunikan berupa hamparan pasir yang sangat luas, ditambah dengan keindahan pohon cemara yang eksotik, berjajar rapi di sepanjang pesisir pantai.

Kawasan Pantai ini sangat cocok untuk bersepeda santai, ataupun beraktivitas olahraga lainnya, juga ideal untuk camping area. Di Dermaga Camar Bulan yang menawarkan sunset, karena dermaga ini panjang dan menjorok ke laut. Ada pula Pantai Surya, di Dusun Maludin, yang menjadi alternatif. Lokasi pantai ini berdekatan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan perumahan TNI AL. Saat air surut, pantai ini menyajikan pemandangan pantai berbatu yang unik. Pantai Maludin, yang mudah diakses dengan sepeda motor.

Di pantai ini, bisa menyaksikan Batu Nenek, dari kejauhan. Batu Nenek adalah batuan purba raksasa yang tersusun rapi. Pantai ini terdapat Pulau Dua Kelapa, yang dapat dikunjungi ketika air surut. Jika bermalam di pinggir pantai, kita dapat menuju Teluk Atong, yang memiliki banyak pilihan tempat bermalam. Mulai dari villa hingga homestay. “Kita akan berusaha menjadikan Desa Temajuk sebagai destinasi wisata utama dan pertama di Kalbar. Tawarannya sangat banyak dan lengkap, ada lautan, pantai, pegunungan, hutan, dan spot-spot penting lainnya,” tutur Hairiah. (aep mulyanto/bersambung)