Pemkab Sambas Pulangkan Sepuluh Warga NTT Korban Trafficking

Sambas

Editor sutan Dibaca : 721

Pemkab Sambas Pulangkan Sepuluh Warga NTT Korban Trafficking
Kapolda Kalbar, Irjen Pol Musyafak menerima cendera mata dari Bupati Sambas Atbah Romin Suhaili saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Sambas, Rabu (7/9). (suara pemred/nurhadi)
SAMBAS, SP– Pemkab  Sambas, kini tengah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Barat, untuk memulangkan 10 warga Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), korban perdagangan manusia atau human trafficking ke Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia.

Wakil Bupati Sambas, Hairiah, Rabu (7/9), korban terdiri dari 7 laki-laki dan 3 wanita sudah dibawa ke shelter Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Barat, untuk selanjutnya mengurus administrasi pemulangan.

Menurut Hairiah, warga Kabupaten Lembata dipulangkan, karena keberangkatan dari kampung halaman sejak tanggal 4 Agustus 2016, sama sekali tidak dilengkapi dokumen surat perjanjian kerja di luar negeri.

Para korban hanya terbuai bujuk rayu warga bernama Kanisius Belia (41 tahun), dari Kampung Leeuku, Desa Belobao, Kecamatan Wulan Doni, Kabupaten Lembata, Provinsi NTT.

Dari Lembata, korban dibawa ke Surabaya, Semarang dan ke Pontianak. Sampai di Pontianak, Kanisius mengurus dokumen paspor korban di Kantor Imigrasi Sambas. Setelah paspor diurus, Kanisius memperkenalkan para korban kepada mitra bisnisnya, warga Kampong Kuala Sibuti 98150, Bekenu, Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia, Achmad Ardi bin Abdullah (33 tahun).

Usai memenuhi kewajiban membayar uang balas jasa dalam jumlah tertentu untuk dikirim ke Sarawak, ke-10 korban berangkat dari Sambas ke Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Aruk, Kecamatan Sajingan, Kabupaten Sambas.

Dalam perjalanan dari Sambas menumpang mobil Toyota Hilux Warna putih dengan nomor Polisi QAA 7552 N, ditangkap polisi saat singgah di Rumah Makan Dinda, Sajingan, RT 001/RW 002, Desa Kalau, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, pukul 22.30 WIB, Jumat (2/9).

Kanisius dan Achmad kemudian ditetapkan sebagai tersangka karena tidak memiliki ijin untuk menempatkan atau mempekerjakan Tenaga Kerja ke luar negeri. Dua tersangka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan orang, karena calon korbannya masih di bawah umur.

Selain menyita satu unit mobil pelat polisi Malaysia, Polres Sambas menahan 11 paspor  milik calon korban dan pelaku, 3 buah handphone 

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polisi Daerah Kalimantan Barat, Komisaris Besar Suhadi Siswo Suwondo, mengatakan,  mengingatkan kepada warga masyarakat, supaya tidak mudah terbujuk rayu, dengan iming iming gaji yang besar, akan dipekerjakan di restauran dan sebagainya. “Karena kesemuanya hanya tipu daya para pelaku, agar para korban mengikutinya. Tidak sedikit warga Indonesia yang menjadi korban trafficking in person, karena selain faktor ekonomi juga latar belakang pendidikan yg pas pasan dan tidak memiliki keahlian, sehingga di negara tujuan mereja dieksploitasi,” ujar Suhadi.

Selama bulan september 2016 saja, sudah tiga kali polres jajaran Polda Kalbar  menggagalkan Human Trafficking in person, mulai dari Polsek Selatan Polresta Pontianak dengan calon korban dari Sukabumi. Kemudian di Entikong tanggal 2 September 2016 juga menggagalkan kejahatan human trafgicking in person dengan calon Korban 12 orang berasal dari Nusa Tenggara Barat.

Rencana tindak lanjut akan mempercepat proses dengan memeriksa saksi-saksi, saat ini sudah ada tiga orang yang diperiksa, mulai dari pelaku Achmad Ardi bin Abdullah, Herli Setiaji dan Asgar Hidayat.

“Mudah mudahan proses cepat tuntas, sehingga pelaku  segera bisa ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Untuk itu Kapolres Sambas akan sesegera mungkin berkoordinasi dengan Konsul Malaysia di Pontianak dan pihak petugas di batas negara,” kata Suhadi. (aju/sut)