Langganan SP 2

BLH Kabupaten Sambas Beri Peringatan PT WHS

Sambas

Editor sutan Dibaca : 535

BLH Kabupaten Sambas Beri Peringatan PT WHS
Kepala BLH Sambas, Darsono menunjukkan Sampel air yang diduga tercemar oleh limbah sawit. (SUARA PEMRED/ Noi)
SAMBAS, SP – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sambas menerbitkan Surat Peringatan Pertama (SP 1) kepada PT Wahana Hijau Semesta, sebuah perusahaan sawit yang beroperasi di Desa Sebunga, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas.

SP 1 itu diterbitkan lantaran limbah sawit PT WHS mengakibatkan 142 warga di Dusun Sajingan Kecil, Desa Semanga, Kecamatan Sejangkung menderita penyakit koreng yang kebanyakan menyerang anak-anak.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala BLH setempat, Darsono kepada Suara Pemred, Rabu (19/10).

"Kita sudah terbitkan Surat Peringatan Pertama bagi perusahaan PT WHS. Selain itu, mereka juga dituntut bertanggung jawab untuk memberikan pengobatan kepada warga sampai sembuh total," tegas Darsono.

Selain harus menanggung pengobatan warga, pihak perusahaan juga harus melakukan pembenahan sistem limbah mereka.

"Ada poin lain yang harus dipenuhi oleh perusahaan dikarenakan telah melakukan pencemaran di antaranya membenahi unit air limbah yang dihasilkan, mencegah jangkang kosong agar tidak masuk ke sungai, meningkatkan level tanggul setiap kolam air limbah," papar Darsono.

Kemudian, lanjut Darsono, meniadakan tanaman sawit di sempadan sungai dengan jarak terdekat 50 meter, menyusun dan menyampaikan permohonan izin perlindungan dan pengelolaan perlindungan hidup seperti izin pembuangan limbah cair dan izin tempat sementara pembuangan limbah sesuai dengan aturan yang berlaku.

Terpisah, Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Sambas, Erwin Syaputra melaporkan hasil investigasi Komisi B di lapangan pada Selasa (18/10).

"Kami sudah lakukan investigasi di lapangan. Ternyata memang benar masyarakat di sana terpapar penyakit kulit dan memang sungai sajingan kecil telah terkontaminasi limbah perusahaan PT Wahana Hijau Semesta," ungkap Erwin.


Dari pantauan langsung di lokasi, tim komisi B juga mendapati terdapat tanggul penampungan limbah yang bocor.

"Tanggul pengolahan limbah bocor dan mengalir di sungai. Waktu kita ke lapangan, kebocoran tersebut sudah ditutup, tapi bekasnya masih ada. Tindak lanjut dari temuan ini juga akan kita koordinasikan dengan instansi terkait," pungkas Erwin.

Berita miring terkait PT WHS tak hanya tentang pencemaran lingkungan saja. Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Sambas, Anwari mengatakan, perusahaan tersebut dilaporkan Kepala Desa Kaliau karena tidak memenuhi tanggung jawab menyediakan lahan plasma bagi petani sejak 2007.

“Selain diduga melakukan pencemaran, WHS juga menjadi fokus kita terkait permasalahan dengan warga setempat selaku pemilik lahan perkebunan plasma. Sesuai laporan yang ditembuskan Kepala Desa Kaliau kepada Komisi B, mereka belum mendapatkan hak plasma sejak 2007," pungkas Anwari. (noi/bah/sut)