Kalbar Selidiki Pembangunan Vila Malaysia di Zona Bebas Tanjung Datu

Sambas

Editor sutan Dibaca : 924

Kalbar Selidiki Pembangunan Vila Malaysia di Zona Bebas Tanjung Datu
LOKASI- Vila Malaysia di zona bebas di Tanjung Datu, Dusun Sempadan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. (SP/Antara Foto)
PONTIANAK, SP – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat segera mengecek laporan masyarakat bahwa pelaku usaha Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia, membangun 14 unit vila di zona bebas titik patok batas Tanjung Datu di Dusun Sempadan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas.

Vila tersebut dibangun hanya berjarak sekitar 20 meter dengan patok A52 di wilayah Negara Bagian Sarawak,  yang kesepakatan kedua negara, tidak boleh dibangun dalam bentuk apapun.

“Kami akan berkoordinasi dengan otoritas berwenang lainnya di Indonesia, untuk melakukan pengecekan. Kalau memang terbukti dibangun di wilayah larangan, akan dilakukan langkah lebih lanjut, untuk dilakukan perbaikan,” kata Ahi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kalimantan Barat, Rabu (23/11).

Menurut Ahi, indikasi pelaku usaha tersebut membangun vila di zona bebas di sekitar Tanjung Datu, berdasarkan laporan masyarakat yang secara bertanggungjawab bertindak sebagai mata dan telinga pemerintah di wilayah perbatasan. "Adanya laporan ini membuktikan tingkat kepedulian dan rasa nasionalisme masyarakat di perbatasan sudah tidak diragukan lagi," ujarnya.

Berdasarkan catatan, ini bukan kali pertama Indonesia kecolongan masalah perbatasan. Pada April 2005, Korem 121/Alambhana Wanawai (ABW) berkedudukan di Pontianak, menemukan pengrusakan, penghilangan dan pemindahan patok tapal batas darat secara sepihak oleh Federasi Malaysia di Tanjung Datu. 

Patok dimaksud meliputi A1 pada kordinat 4 derajat 905 menit 24 detik easthing – 230 derajat 223 menit 43 detik, Patok A2 pada koordinat 4 derajat 955 menit 74 detik easthing – 230 derajat 092 menit 42 detik, Patok A3 pada koordinat 4 derajat 964 menit 96 detik easthing – 230 derajat 005 menit 38 detik dan Patok A4 pada kordinat 4 derjat 993 menit 60 detik easthing – 229 derajat  914 menit 60 detik northing.
 
Patok A1 yang terletak di atas di pinggir Laut Cina Selatan pada ketinggian 6 meter saat air surut, tinggal bekas benturan benda tumpul, karena bentuk fisik segi empat memanjang sebagaimana bentuk baku tapal batas darat kedua negara, sudah tidak terlihat lagi. 

Padahal Patok A1 merupakan pengukuhan wilayah Tanjung Datu terbagi dua, yakni di sisi timur merupakan territorial Kampung Teluk Melano, Distrik Lundu, Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia dan sisi barat merupakan territorial Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. 

Tulisan: IND – MAL di Patok A1, sebagaimana bentuk baku patok tapal batas resmi kedua negara sudah tidak ada. Sebagai gantinya, Federasi Malaysia, secara sepihak membangun patok tapal batas baru merangsek masuk ke wilayah Indonesia di atas batu besar di Tanjung  Datu bertuliskan: Sarawak Topografi (SWK 01) pada titik kordinat 2 derajat 04 menit 53,3 detik northing (lintang utara) – 109 derajat 38 menit 41,8 detik easthing (bujur timur). Tingkat infiltrasi SWK 01 ke wilayah Indonesia, bisa dihitung dari perbedaan titik koordinat Patok A1 yang disepakati kedua negara berdasarkan Memorandum of Understanding (MoU) tahun 1978.

Patok A2 dan A3 masih terlihat tulisan: IND – Mal, tapi sudah pecah-pecah, terkena benturan benda tumpul, tapi masih dalam posisi semula sesuai titik kordinat yang sudah disepakati kedua negara berdasarkan MoU tahun 1978. Sementara Patok A4, sama sekali bekasnya sudah tidak ada lagi pada titik kordinat sesuai MoU tahun 1978. Titik patok tapal batas darat di Tanjung Datu A4 secara sepihak dipindahkan begitu saja oleh Federasi Malaysia ke atas mercusuar yang dibangun Kerajaan Belanda tahun 1884. 

Tindakan sepihak Federasi Malaysia, dengan memindahkan Patok A1 dan A4, serta merusak Patok A2 dan A3 di Tanjung Datu, secara resmi dilaporkan Korem 121/ABW ke Kodam VI/Tanjungpura di Balikpapan, Kalimantan Timur, Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) dan Markas Besar TNI di Jakarta. 

Laporan tertulis Korem 121/ABW dilayangkan tanggal 28 Agustus 2005. Setelah ribut di media massa, barulan TNI turun ke lapangan untuk melakukan pembetulan patok batas pada titik semula. 

Terakhir, Selasa, 3 Juni 2014, Kementerian Perhubungan Federasi Malaysia, telah menghentikan pembangunan mercusuar di wilayah perairan Indonesia di Gosong Niger, terletak 5 mil laut sisi barat Tanjung Datu.  Penghentian pembangunan mercusuar, karena hasil pengecekan terpadu kedua negara, lokasinya berada di wilayah laut Indonesia. (aju)