Senin, 23 September 2019


Menyiasati Maraknya Perdagangan Lelong di Sambas

Editor:

Soetana Hasby

    |     Pembaca: 1848
Menyiasati Maraknya Perdagangan Lelong di Sambas

Ilustrasi

SAMBAS, SP – Larangan impor pakaian bekas telah ditegaskan Pemerintah melalui Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 51/M-Dag/Per/7/2015 Tahun 2015 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas.

Realitasnya, perdagangan pakaian bekas impor, biasa disebut lelong, mudah ditemukan di sejumlah kota di Provinsi Kalimantan Barat.

Hal ini menjadi bahasan utama dalam Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Aula Kantor Bea Cukai Sintete, Kabupaten Sambas.  Farum yang dilaksanakan, Rabu (25/1) kemarin, dihadiri sejumlah instansi pemerintah daerah terkait persoalan pakaian bekas impor dan peredaran minuman keras.

Dalam bahasan itu, munculnya beberapa solusi mengatasi maraknya perdagangan pakaian lelong.
Kepala Bea Cuka Sintete, Aris Sudarminto menganjurkan adanya kerja sama antara Bea Cukai dan Pemerintah Darah Sambas dalam penataan perdagangan lelong.

"Kali ini mengangkat tentang persoalan lelong dan miras. Ini sangat miris dan yang kita dapati, bupati juga sangat ingin sekali menata ini semua terutama lelong tersebut," ujar Aris.

Aris menyadari meski ada larangan, pasokan impor pakaian bekas terus masuk. "Saat ini yang terjadi barang sudah masuk ke pasaran maka dibiarkan," kata dia.

Menghadapi persoalan tersebut, kata Aris, diperlukan kerja sama dengan instansi pemerintah daerah seperti tukar informasi.

Dia pun menganjurkan, para pedagang lelong mengganti produk dagangannya dengan produk dalam negeri.

“Lelong yang masuk akan kita amankan. Namun yang sudah ada di pasaran kita ingin para pedagang untuk menghabiskan dagangannya baru kemudian diganti dengan produk  dalam negeri," pungkas Aris. (noi)

Baca Juga:
Imigrasi Awasi Warga Asing di Perayaan Imlek dan Cap Go Meh Singkawang
RUU Pertanahan, REI Usul Pembentukan Pengadilan Pertanahan
Tim Cyber Polda Kalbar Monitor Info Hoax di Medsos