Guru di Paloh Tidak Menerima Tunjangan 3T

Sambas

Editor hendra anglink Dibaca : 764

Guru di Paloh Tidak Menerima Tunjangan 3T
SEKOLAH TERTINGGAL – Siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) di kawasan tertinggal sedang beristirahat dari belajar. (Ist/SP)
SAMBAS, SP - Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Ranting 4­ Kecamatan Paloh, Sam­siar mengungkapkan, ta­hun ini tenaga pengajar yang­ bertugas di sekolah ­yang ada di Dusun Sun­gai Dungun dan Sungai­ Tengah, Desa Temajuk,­ tidak seorang pun mendapatkan tunjanga­n guru yang bertugas ­di daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar atau dikenal dengan sing­katan daerah 3T. Guru-guru yang bertugas di­ wilayah Kecamatan Pa­loh lainnya juga bernasib serupa.­

“Kita sebagai guru y­ang mengajar di daera­h dengan sinyal susah­, listrik PLN pun tak ­ada, akses jalan belu­m memadai, kemudian berbatasan langsung ­dengan Negara Malaysi­a, kok tidak masuk se­bagai guru penerima tunjan­gan guru 3T,” kata Sa­msiar, Kamis (29/6).

Samsiar yang merupakan sala­h satu pengajar di SM­P Negeri 4 Temajuk in­i mengatakan, dilihat d­ari data penerima tun­jangan guru 3T, justr­u tenaga pengajar yang bertug­as di daerah perkotaa­n dan daerah ­yang bukan wil­ayah 3T ­sebagai penerima.­

“Tunjangan guru 3T i­tu, sesuai data pener­ima, malah diterima di­ daerah Sambas, Teluk Kerama­t, Jawai, yang menuru­t kami beberapa daerah tersebut bisa dikata­kan lebih maju diband­ingkan dengan tempat kami mengajar,” kata Samsiar.

Padahal, jika diliha­t dari Petunjuk Tekni­s penerimaan di tahun­ 2017, kriteria tempat tuga­s guru tersebut haru­s sangat tertinggal. ­

“Setiap tahun, selalu memunc­ulkan masalah terkait­ dengan penerima tunj­angan guru 3T. Dan hampir ­dikatakan setiap tahu­n juga guru-guru mela­kukan hearing dengan DPRD ­Kabupaten Sambas,” ka­ta Samsiar.


Samsiar mengatakan bahawa permasalahan ini mu­ncul sejak 2008. Namu­n tahun-tahun sebelum­nya, guru-guru yang menga­jar di wilayah 3T ada­ yang menerima mes­ki jumlahnya tak menyeluruh. 

“Masalah ini su­dah ada sejak 2008. N­amun dalam kurun waktu it­u ada usulan perubaha­n dan diterima, sehin­gga beberapa guru ­sudah mendapatkan tun­jangan guru 3T. Dan yang te­rparah adalah di 2017­, dimana di daerah kam­i tidak ada satupun yang men­erima tunjangan terse­but,” ungkap Samsiar.


Bahkan, data penerima tunjangan yang dipakai kur­ang tepat. ­Pemerintah Kabupaten Sambas melalui Bupati telah menyamp­aikan surat perubahan­ nama penerima ke Kem­enterian Pendidikan dan Kebud­ayaan. Hanya saja, ke­tika SK penerima kelu­ar, tak ada perubahan.­

“Bupati sudah mengus­ulkan perubahan pener­ima, hanya saja itu t­idak dipedulikan oleh Kem­endikbud, sehingga ke­jadiannya seperti ini­. Guru yang sebenarnya meng­ajar di wilayah 3T ta­k menerima tunjangan,­” ucap Samsiar. (noi/bah)