Warga Jawai keluhkan Harga Elpiji Subsidi Capai Rp28.000 Pertabung

Sambas

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 260

Warga Jawai keluhkan Harga Elpiji Subsidi Capai Rp28.000 Pertabung
MENGANTRI - Warga terlihat sedang mengantri untuk mendapatkan gas epliji 3 kilogram. di Kecamatan Jawai Kabupaten Sambas, saat ini harga gas tersebut mencapai Rp28 ribu pertabung, hal itu pula membuat warga setempat resah. (Net)
Warga Desa Bakau, Kecamatan Jawai, Armin
"Biasanya harga sekitar Rp22.000 sampai Rp 25.000 saja, ini naik lagi menjadi Rp28.000 dan sudah berlangsung dua bulan lebih"

SAMBAS, SP - Warga Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas mengeluhkan mahalnya harga gas elpiji bersubsidi 3 kg di daerahnya, hingga mencapai Rp28.000 pertabung.

"Ini tentu memberatkan kalangan ekonomi lemah seperti kami, sebab harganya cukup tinggi," keluh warga Desa Bakau, Kecamatan Jawai, Armin, Selasa(21/11).

Bahkan kata dia, kondisi tersebut telah berlangsung selama dua bulan terakhir, dan Armin tidak tahu harus mengadu kepada siapa.

"Biasanya harga sekitar Rp22.000 sampai Rp 25.000 saja, ini naik lagi menjadi Rp28.000 dan sudah berlangsung dua bulan lebih," ujarnya.

Karena tidak ada pilihan lain, Amrin mau tidak mau membeli gas dengan harga mahal tersebut. Diungkapkannya, warga juga telah menanyakan ke tempat penjualan gas, atau warung untuk mengetahui penyebab naiknya harga elpiji 3 kg tersebut.

"Kemarin juga pernah kita tanyai mengapa bisa naik, kata penjual di warung, mereka juga dapat dengan harga yang tinggi, jadi harga jualnya pun tinggi," bebernya.

Senada disampaikan warga Jawai lainnya, Mok Yal, bahwa warga saat ini sangat keberatan dengan naiknya harga gas elpiji yang diperuntukkan bagi orang miskin tersebut.

"Terpaksa kami membelinya, karena memang sangat diperlukan untuk sehari-hari. Tapi ini sangat memberatkan kita semua," jelasnya.

Ia juga tidak mengetahui kenapa harga tersebut bisa begitu tinggi, hanya saja menurutnya mungkin dikarenakan biaya angkut gas tersebut ke Jawai menjadi salah satu faktor tingginya harga.

"Mungkin karena ongkos untuk membawa gas kemari memang tinggi, sehingga harganya pun ikut melambung. Untuk membawa gas tersebut harus menyebrang pakai kapal ferry, atau motor air," tutupnya.

Menanggapi itu, tokoh masyarakat Sambas, Kamarudin mengatakan naiknya harga elpiji bersubsidi menjadi tanggung jawab banyak pihak.

"Kesetaraan harga memang sangat susah untuk diberlakukan, persoalan jarak tempuh dan akses transportasi serta infrastruktur kali ini menjadi kambing hitam naiknya elpiji untuk masyarakat miskin," katanya.

Ini tentu di luar rentang kekuasaan pertamina, namun harus dicarikan solusi bersama. Kamarudin juga menyarankan agar pemerintah dan lembaga terkait untuk mau duduk bersama, guna mencari solusi efektif jangka pendek demi mengatasi persoalan tersebut.

"Pengusaha atau distributor elpiji bersama Pemda dan pelaku usaha angkutan penyebrangan, harus merembukkan masalah ini, agar didapat solusi untuk mengatasi hal tersebut. Jangan biarkan masyarakat kita semakin susah dengan naiknya harga komoditas yang disubsidi pemerintah," paparnya.

Solusi jangka panjang juga harus menjadi telaah bersama, agar dalam waktu dekat bisa segera direalisasikan. Kuncinya adalah pembangunan jembatan, hal ini memang sudah dicanangkan pemerintah, namun memang harus segera dilakukan dan masyarakat mesti turut mendukung rencana tersebut.

"Masyarakat harus mendukung dengan cara jangan memberatkan pemerintah saat hendak dilakukan penghitungan ganti rugi aset tanah yang terkena jalur pembangunan jembatan," ajaknya.

Jembatan ini kelak, dikatakannya akan menjembatani perkembangan ekonomi yang pesat di Kecamatan Jawai dan sekitarnya, karena masyarakat akan dengan sangat mudah membawa hasil bumi mereka untuk dipasarkan lebih luas lagi, dan tentu masih banyak dampak positif lainnya.

Akan Mengecek di Lapangan


Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili mengatakan, pihaknya akan turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan langsung terhadap tingginya harga gas elpiji yang terjadi di Kecamatan jawai.

"Akan kita konfirmasi, kita akan turun ke lapangan untuk memastikan hal tersebut apakah benar atau tidak, sebab pasar punya logika dan mekanismenya sendiri," kata Bupati.

Terkait pembangunan jembatan, dijelaskan Atbah memang  dengan adanya jembatan akan menjadi kunci peningkatan ekonomi masyarakat, termasuk stabilitas harga barang.

"Jembatan adalah hak rakyat dan kewajiban pemerintah, tentu dengan akses jembatan, ekonomi rakyat akan lebih baik," pungkasnya. (noi/pul)

Komentar