Pentingnya Proteksi untuk TKI Sambas

Sambas

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 324

Pentingnya Proteksi untuk TKI Sambas
DEPORTASI - Sejumlah TKI ilegal yang dideportasi dari Malaysia. Saat ini TKI asal Kabupaten Sambas telah diberikan perlindungan oleh Pemda setempat, mereka diberikan nomor kontak laporan, sehingga apa yang mereka hadapi nanti bisa disampaikan. (Net)

Menjaga Agar Tetap Aman


Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili
"Kepada TKI asal Kabupaten Sambas, telah kita berikan nomor kontak, sehingga apa yang mereka hadapi nanti bisa kita bantu," 

SAMBAS, SP - Lebih dari 30 ribu warga Sambas saat ini berada di luar negeri, berprofesi sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) resmi. Kebanyakan mereka bekerja di negara Malaysia.

Catatan tersebut disampaikan oleh Bupati Sambas,Atbah Romin Suhaili, namun, tidak diketahui berapa banyak pula TKI yang tidak memiliki dokumen resmi atau yang disebut dengan 'Pendatang Haram' oleh negara Jiran Malaysia.

"TKI kita di Malaysia sangat banyak, hampir 30 ribuan yang tercatat secara resmi," ungkap Atbah, Minggu (3/12).

Perlindungan bagi pahlawan devisa ini juga selalu diupayakan oleh pemerintah di ekor pulau Borneo tersebut. Salah satunya dengan memberikan nomor telepon yang bisa dihubungi oleh TKI apabila mereka mengalami kesulitan di luar negeri.

"Kepada TKI asal Kabupaten Sambas, telah kita berikan nomor kontak, sehingga apa yang mereka hadapi nanti bisa kita bantu," pungkasnya.

Jauh hari sebelumnya, beberapa hal yang tidak mengenakkan acap kali menimpa para TKI asal Kabupaten Sambas, seperti tidak mendapatkan gaji, di aniaya oleh majikan dan lain-lain.

Terakhir, nasib pilu mendera TKW Indonesia asal Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Nurhaye (22).  Perempuan malang ini dianiaya oleh majikannya di Malaysia, dan tidak mendapatkan upah sepeserpun sejak 2015-2016.

Parahnya lagi, Nurhaye dipaksa mengkonsumsi kotoran manusia, anak dari majikannya. Gambaran tersebut merupakan fakta kelam nasib TKI yang nekat berangkat tanpa adanya  dokumen dan keterampilan yang mumpuni.

Dikutip dari pernyataan Polres Sambas, AKP Raden Real Mahendra kepada Suara Pemred, yang diterbitkan harian ini pada edisi Rabu (8/8). Nurhaye merupakan TKI yang tidak memiliki dokumen lengkap sebagaimana diperlukan untuk menjadi buruh migran.

"Rekrutmen Nurhaye melalui calo, yang tidak jelas dan tak dia kenali. Selama bekerja Bintulu, Malaysia," katanya.

Nurhaye mendapatkan majikan yang memperlakukannya secara tidak manusiawi, bahkan dianiaya hingga mengakibatkan jarinya cacat, luka permanen di bibir, dan terdapat bekas tusukan garpu di bagian kepalanya.

"Di punggung Nurhaye juga terdapat bekas luka-luka," terangnya. 

Bagaimana dengan nasib TKI lainnya yang juga masuk dengan modal nekat berbekalkan paspor kunjungan wisata? Satu di antaranya adalah R seorang pemuda asal Sambas yang mencoba peruntungannya di negeri Jiran tersebut. Dia menjadi pelaku kriminal di negara tersebut.

Tanpa dokumen apapun terkecuali paspor, R tidak mendapatkan pekerjaan yang selayaknya di Malaysia. Dia juga menjadi korban tipu-tipu di tempatnya bekerja.

"Saya masuk bekal paspor saja ke Malaysia, di sana cukup susah bekerja kalau kita dicap pendatang haram oleh kerajaan Malaysia," ungkapnya.

Sekali dua, pekerjaan berhasil didapat lelaki bertubuh kekar ini, namun tak sepeserpun upah didapatnya.

"Saya sempat bekerja sebagai kuli bangunan, belum sampai sebulan, Polis diraja Malaysia melakukan razia, kami yang tidak punya surat permit kerja berhamburan melarikan diri kedalam hutan,"bebernya.

Akibatnya, R serta beberapa temannya memutuskan untuk melakukan perampokan, hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri pikir R saat itu.

"Bagaimanapun kami harus pulang, kalau sampai tertangkap saat sedang bekerja, bisa gawat dan pasti tersiksa, jadi kami memutuskan untuk merampok agar bisa pulang ke Indonesia," akunya.

Usai merampok satu rumah, R dan teman-temannya berhasil kabur dan pulang ke Indonesia, ke Sambas.

"Kami hanya merampok, tidak lebih dan itupun untuk biaya pulang ke Sambas, lebih baik saya berkebun karet daripada jadi buronan di negeri orang," pungkasnya

Perlu Adanya Regulasi


DIREKTUR Eksekutif Bumi Assambasy Galih Usmawan mengatakan, kelengkapan dokumen tenaga kerja akan memberikan keamanan bagi tenaga kerja migran di luar negeri.

"Kabupaten Sambas sudah memiliki LTSP ( Layanan Terpadu Satu Pintu), untuk pengurusan dokumen bagi mereka yang ingin berangkat ke luar negeri dan telah di launching 23 November 2017," katanya.

Ini merupakan upaya untuk mewujudkan imigrasi aman bagi TKI, serta agar dapat meminimalisir TKI Non Prosedural. "Kami dari lembaga Buruh Migrant Assambasy saat ini sedang memetakan kantong-kantong TKI yang ada di Kabupaten Sambas," sambungnya.

Kabupaten Sambas, kata Galih merupakan basis TKI Kalbar, dia menekankan pentingnya dibuat regulasi bahkan sampai di tingkat desa.

"Untuk itu kami menyarankan perlu dibuat produk hukum desa (Perdes), perlindungan TKI berbasis desa. Terutama di desa kantong TKI," ujar dia.

Perdes tersebut dapat memuat pelayanan dokumen, pendataan, pengaduan TKI, organisasi pegiat TKI dan kelompok usaha purna TKI. 

"Bahkan bila perlu Model LTSP di Kabupaten bisa diduplikasi di desa semacam Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) TKI Desa Migran," pungkasnya. (noi/pul)

Komentar