Parit Siapat yang Kini Terlupakan

Sambas

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 218

Parit Siapat yang Kini Terlupakan
PARIT SIAPAT - Sebuah jembatan dibangun di atas Parit Siapat, membuat parit ini kehilangan fungsi sebagai jalur alternatif warga untuk membawa hasil bumi ke Kota Sambas. (SP/Noi)

Urat Nadi Ekonomi Dari Masa Penjajahan


Aliran sungai sejak dahulu merupakan andalan warga Sambas sebagai jalur transportasi. Tak hanya itu, roda perekonomian pun berputar seirama laju arus air sungai yang mengalir. sungai adalah urat nadi ekonomi yang sudah ada sejak masa jaya para raja, hingga kini dilupakan negeri.

SP - Adalah Sungai Siapat, atau Parit Siapat, sebuah anak sungai yang tak banyak berliku, membentang memanjang menghubungkan Sungai Sambas Kecil dan Sungai Sambas Besar, membelah Desa Lorong Kecamatan Sambas.

Parit ini, memangkas rentang panjang jarak tempuh, memotong masa dan waktu. Di atas parit ini dahulu, tak ada aturan batas tonase bagi muatan yang melintas, hasil bumi dari Kecamatan Sejangkung, Sajingan, Sekura, Teluk Keramat hingga Kecamatan Paloh Hilir menuju kota dan menyebar ke kota-kota lainnya.

Demikianlah sebuah jasa, gambaran fungsi dan peran besar sebuah parit, mengawal perut rakyat sejak zaman penjajahan belanda dan jepang, sejak berkuasa para sultan. Perkembangan demi perkembangan hinggap di sisi negeri, demikian pula Kabupaten bergelar Serambi Mekah ini.

Kemajuan dan perekonomian memberi syarat, infrastruktur harus dinomor satukan, jargon jalan mulus rakyat makmur menjadi keniscayaan yang mutlak. Untuk apa menangisi sebuah parit, ungkapan ini seolah sebuah taman makam pahlawan bagi Parit Siapat. 

Tapi seperti itulah kira-kira yang dikatakan banyak orang, "Ah sudahlah, biarlah, katinye dahbe, nak ngape juak," rentetan kata bahasa daerah Sambas yang diucapkan beberapa sahabat saat ditanyai nasib Parit Siapat.

Seiring berkembangnya zaman, Parit Siapat mulai kehilangan eksistensinya, masyarakat mulai lupa akan besar perannya. Peralihan dari perahu kepada sepeda motor membuat parit ini kehilangan jati diri, hilangnya dayung yang mengaduk parit membuat rerumputan subur menutupi jejaknya.

Dibangunnya fasilitas infrastruktur seperti jalan dan jembatan, serta pembangunan rumah oleh warga seolah acuh kepada Parit Siapat. Sebuah jembatan yang menghubungkan jalan Kartiasa dan Jalan Lingkar berdiri membungkuk di atas parit ini.

Struktur jembatan yang angkuh ini juga seolah mengangkangi Parit Siapat yang malang. Dengan perkiraan lebar bawah jembatan sekitar 4 meter dan tinggi kurang dari 2 meter dari permukaan tanah, seolah ingin mengakhiri keberadaan Parit Siapat.

Demikian juga dengan pemukiman warga, perlahan mulai menggenangi parit siapat, menutup alirannya, menumpukinya dengan sampah rumah tangga.

Seorang Sarjana Sejarah muda yang gandrung bercerita, Aan mengatakan, dahulu perahu-perahu besar melintas di Siapat, berbagai hasil bumi dibawa dengan didayung.

"Karet dan padi, diangkut dengan sampan-sampan, juga kerajinan rotan dan atap daun dibawa dari wilayah Kecamatan Sejangkung lalu dijual di Kota Sambas," tuturnya.

Mempertahankan Parit Siapat menurut dia, bukanlah cuma sekedar menghargai sejarah. "Bayangkan jika parit ini kita keruk dan perdalam, bayangkan mudahnya membawa berbagai barang melalui jalur tersebut, derita jalan aspal juga akan berkurang," saran Aan.

Sekarang hanya tinggal diputuskan, apakah Parit Siapat akan tetap ada atau ditiadakan. (nurhadi/pul)