Kebun Raya Sambas Terus Dipantau

Sambas

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 362

Kebun Raya Sambas Terus Dipantau
SUSURI KEBUN - Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili bersama pejabat Forkopimda menyusuri lokasi Kebun Raya Sambas (KRS) di Desa Sabung, Kecamatan Subah, Kabupaten Sambas, baru-baru ini. Rencananya, KRS akan diresmikan pada 2019. (SP/Kinoi)

Koordinasi Lintas Sektoral Penuhi Persyaratan


Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili 
"Selain kawasan pendidikan dan penelitian, perencanaannya tetap mengarah juga bagaimana KRS mampu menjadi tempat wisata baru di Kabupaten Sambas. Ini akan menjadi tempat wisata alam terbuka hijau."

SAMBAS, SP - Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili mengajak beberapa pejabat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) memantau kondisi terkini Kebun Raya Sambas (KRS), baru-baru ini. 

Pejabat-pejabat itu antara lain Kapolres Sambas, AKBP Cahyo Hadi Prabowo dan Dandim 1202 Skw, Letkol Inf Abdul Rahman, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sambas, Misni Safari dan Anwari.

KRS terletak di Desa Sabung, Kecamatan Subah, Kabupaten Sambas dengan jarak kurang lebih 50 kilometer dari Kota Sambas. Rencananya, KRS akan diresmikan pada 2019. 

Pemkab Sambas memberikan perhatian serius terhadap hadirnya KRS ini. Upaya-upaya yang terus dikoordinasikan diantaranya persiapan sertifikasi lahan, pembentukan Unit Pelaksana Teknis yang diposisikan di bawah struktur organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sambas. 

Diketahui, sejarah KRS yakni sejalan dengan  agenda 21 konservasi keanekaragaman hayati Indonesia dan strategi konservasi ex-situ kebun raya di Indonesia. 

KRS dibangun untuk melengkapi jumlah kawasan konservasi ex situ (usaha pelestarian alam yang dilakukan di luar habitat aslinya) kebun raya di Indonesia. 

Atbah mengatakan bahwa KRS dikembangkan untuk mengkonservasi tumbuhan dengan prioritas tumbuhan khas Kalimantan.

KRS, kata Atbah, merupakan satu-satunya kebun raya di Provinsi Kalimantan Barat yang akan menjadi kawasan konservasi tumbuhan dan kawasan pendidikan dan penelitian. 

"Selain kawasan pendidikan dan penelitian, perencanaannya tetap mengarah juga bagaimana KRS mampu menjadi tempat wisata baru di Kabupaten Sambas. Ini akan menjadi tempat wisata alam terbuka hijau," ujar Atbah. 

Atbah menjelaskan bahwa pembangunan KRS diperlukan untuk melakukan konservasi tumbuhan setempat, minimal lokasi tidak diubah sepenuhnya menjadi perkebunan kelapa sawit. 

Kawasan KRS secara umum merupakan lahan yang ditutupi oleh vegetasi hutan sekunder dengan tipe hutan dataran rendah dan sedikit hutan rawa serta hutan riparian yang didominasi jenis Dipterocarpaceae dengan luas 300 hektare.

Dalam kunjungan kerjanya itu, Atbah melakukan penanaman pohon diikuti Kapolres, Dandim, Anggota DPRD dan Kepala Bappeda Sambas. 

Atbah tampak menanam bibit pohon belian. Lokasi penanaman dilakukan di area Taman Tumbuhan Obat Kebun Raya Sambas. 

Beberapa pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang turut mendampingi kunjungan kerja Atbah yakni Sekretaris DPRD, Kepala Bappeda, Kadis Kominfo, Kadis P3AP2KB, Plt Kadis Arpusda, Kadis Nakertrans, Plt Dinas Polisi Pamong Praja, Camat Subah, Kepala BPS Sambas, Ketua TP PKK Kab Sambas dan perwakilan Kerabat Keraton Istana Alwatzikoebillah Sambas.

Wadah Ilmu Pengetahuan


Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sambas, Misni Safari mengatakan, KRS merupakan sebuah wadah ilmu pengetahuan.

"Manfaat KRS bagi masyarakat adalah sebagai wadah ilmu pengetahuan karena di sana terdapat begitu banyak keanekaragaman hayati yang hidup, baik flora maupun fauna. Tak hanya itu, KRS juga sangat bermanfaat sebagai destinasi wisata alam," kata Misni.

Pemkab Sambas bisa memanfaatkan kawasan tersebut sebagai kawasan penyangga vegetasi dan konservasi. Hal ini penting karena di sekeliling KRS sudah ditanami atau dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit. Di samping itu bisa dijadikan wadah promosi daerah karena KRS merupakan kebun raya terluas di Indonesia. 

"Kami dari DPRD selalu mendorong percepatan penyelenggaraan KRS ini. Komitmen tersebut kita tunjukkan dengan telah merampungkan Perda Penyelenggaraan Kebun Raya Sambas," katanya.

Politisi Partai Amanat Nasional ini juga menginformasikan bahwa Pemda Sambas sudah bekerjasama dengan LIPI dalam pengembangan KRS tersebut. Jadwal launching telah diatur dan dengan ketentuan Pemda Sambas harus memenuhi persyaratan diantaranya Perda Penyelenggaraaan KRS, UPT KRS dan sertifikasi lahan. 

Sampai saat ini Perda KRS dan UPT KRS sudah siap dan tahun 2018 akan dilakukan penyelesaikan proses sertifikasi lahan.

"Pada tahun 2017 dan 2018 Pemda Sambas juga sudah menganggarkan untuk pembagunan inftrastruktur jalan dan jembatan menuju lokasi KRS. Harapan kami Pemda Sambas lebih maksimal dalam mendorong percepatan pembangunan KRS. Kami juga berterimakasih kepada mantan Bupati Sambas, Ir H Burhanuddin AR sebagai pioner dalam pendirian KRS," pungkasnya. (noi/bah)

Komentar