Surplus, Sambas Jajaki Ekspor Beras, Tembus 97 Ribu Ton pada 2017

Sambas

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 272

Surplus, Sambas Jajaki Ekspor Beras, Tembus 97 Ribu Ton pada 2017
PANEN PADI – Petani sedang memanen padi di sawah. Di Sambas, panen padi petani surplus hingga 97 ribu ton. Pemkab setempat terus menjajaki kemungkinan ekspor ke Malaysia. (Antara Foto)
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sambas, Yayan Kurniawan
"Untuk ekspor memang sangat baik untuk kita jajaki, apalagi kemarin sudah sempat kita lakukan lewat Entikong. Namun hingga saat ini masih belum ada juga sinyalemen atau reaksi dari Pemerintah Malaysia, apakah akan dilakukan ekspor kembali atau tidak."

SAMBAS, SP - Hasil panen padi petani Kabupaten Sambas pada tahun 2017 surplus sebanyak kurang lebih 97 ribu ton. Karena itu, angka yang surplus tersebut harus dicarikan peluang pasar, satu di antaranya melalui ekspor.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sambas, Yayan Kurniawan kepada Suara Pemred, Senin (5/2). 

"Dari 85 ribu hektare luas lahan padi di Kabupaten Sambas, kita surplus sebanyak 97 ribu ton. Jadi daerah kita tidak memerlukan impor beras. Dari 97 ribu ton tersebut mungkin yang bisa kita lakukan adalah mengekspor beras," kata Yayan, Senin(5/2).

Pemerintah Kabupaten Sambas, kata Yayan, beberapa tahun silam juga pernah menjalin kerja sama dengan Bulog untuk menyuplai kebutuhan Beras Sejahtera (Rastra), namun karena harga yang tidak memungkinkan, upaya yang sama tidak bisa dilakukan pada saat ini.

"Dulu kita pernah menyuplai beras untuk Rastra kepada Bulog. Beberapa waktu lalu kita sudah pernah berdiskusi melihat kemungkinan adanya kerja sama bersama Bulog untuk pengadaan beras Rastra, namun harga yang ditetapkan oleh Bulog terlalu rendah," ungkap Yayan.

Karena peluang pasar dari pihak swasta juga masih terbuka, maka kebanyakan petani memilih menjual kepada pembeli swasta.

"Jadi petani kita berpikir lebih baik jangan menjual ke Bulog, kalau memang ada tempat lain yang bisa membeli dengan harga yang lebih tinggi," papar Yayan.

Hal tersebut diakui Yayan sempat menjadi topik diskusi bersama para akademisi perguruan tinggi, namun usul yang diajukan oleh perguruan tinggi dirasa berat untuk direalisasikan.

"Telah diusulkan oleh teman-teman di perguruan tinggi dari hasil diskusi kita, bagaimana apabila celah pada harga yang rendah di Bulog tersebut disubsidi oleh pemerintah daerah, namun jika diperhatikan sepertinya cukup berat untuk kita lakukan," jelas Yayan.

Karena itu, menurut Yayan, upaya yang paling efektif untuk dilakukan adalah dengan mengupayakan ekspor beras ke negara tetangga.

"Untuk ekspor memang sangat baik untuk kita jajaki, apalagi kemarin sudah sempat kita lakukan lewat Entikong. Namun hingga saat ini masih belum ada juga sinyalemen atau reaksi dari Pemerintah Malaysia, apakah akan dilakukan ekspor kembali atau tidak," ungkap Yayan.

Menurutnya, Kabupaten Sambas bisa memenuhi keinginan negara tujuan ekspor, terkait seperti apa produk beras impor yang mereka inginkan.

"Kita memiliki banyak varietas beras. Untuk ekspor pasti mereka meminta varietas tertentu. Asal dikoordinir dengan baik pada tingkat pengolahan varietas dan kualitas yang mereka inginkan bisa kita penuhi," yakin Yayan.

artinya, kuncinya pada pengolahan padi atau beras. Jadi pihaknya mengeluarkan produk beras yang diinginkan oleh negara pengimpor.

Jaga Kualitas Padi


Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili sangat mendukung upaya ekspor beras secara berkelanjutan tersebut. Karena itu, terpenting adalah membuka jalur Road Tax di PLBN Aruk.

"Terkait ekspor beras merupakan cita-cita presiden dan keinginan Menteri Pertanian bahwa kita, begitu dibukanya pos lintas batas PLBN Aruk, tidak menjadi importir melainkan menjadi eksportir," ungkap Atbah.

Hasil beras yang melimpah di Kabupaten Sambas telah menjadikan daerah ini dikenal sebagai wilayah pertanian padi yang subur dan surplus. Karena itu, mengekspor beras adalah cara yang paling baik yang harus dilakukan demi membuka peluang pasar dan menyerap hasil petani Kabupaten Sambas.

"Sebagaimana kita tahu bahwa hasil beras atau padi Kabupaten Sambas yang dikenal surplus ini harus kita buktikan dengan cara mengekspor. Cuma ekspor pertama kali yang kemarin kita lakukan lewat Entikong Kabupaten Sanggau," jelas Atbah.

Karena itu, kata Atbah, peluang untuk mengekspor beras juga harus dimanfaatkan dan dijaga, satu di antaranya adalah dengan memenuhi kualitas.

"Ini akan kita komunikasikan dengan Dinas Pertanian untuk secara khusus mengelola ini. Hasil padi dari Selakau, Tebas, Pemangkat dan wilayah penghasil beras lainnya, kita kondisikan sehingga bisa ekspor ke Malaysia, Thailand dan Vietnam,” kata Atbah. 

Hal ini diyakini Atbah akan bisa direalisasikan, mengingat Road Tax PLBN Aruk Sambas secepatnya akan direalisasikan.

"Dibukanya pos lintas batas, ekspor impor  kebutuhan bahan mentah dan olahan akan semakin meningkat. Dan kita bisa jual ke wilayah sebelah, baik itu beras dan juga jeruk Sambas," papar Atbah.

Ditambahkan, kesepakatan dagang antara Negara Malaysia dengan Indonesia juga diatur dalam Sosek Malindo (Sosial Ekonomi Malaysia Indonesia).

"Ini kita tindak lanjuti lewat yang namanya Sosek Malindo. Di sini ada kesepakatan dagang dan bisnis Sambas dan Lundu Sambas dan Sematan serta Sambas dan Kuching. Ketiganya  bisa melakukan kerja sama dalam bidang perdagangan," pungkas Atbah. (noi/bah)