Jelang Perayaan Imlek 2018, Harga Komoditas Stabil di Sambas

Sambas

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 271

Jelang Perayaan Imlek 2018, Harga Komoditas Stabil di Sambas
JAJAKAN DAGANGAN - Pedagang sembako menjajakan dagangannya di pasar. Di Sambas, harga komoditas ada yang naik dan turun jelang perayaan Imlek 2018. Seperti bawang putih, harga turun dari Rp22 ribu menjadi Rp20 ribu. (Antara Foto)
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalbar, Muhammad Ridwan
"Dari pantauan kita di sejumlah pasar yang ada di Kalbar dan dari laporan dinas terkait di daerah, kondisi sembako dan komoditas lainnya sampai saat ini masih stabil dan belum mengalami kenaikan."

SAMBAS, SP
– Jelang perayaan Imlek yang jatuh pada 16 Februari mendatang, beberapa harga komoditas barang ada yang naik dan ada yang turun pula. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Dinas Koperasi, UMK, Industri dan Perdangan (Diskumindag) Kabupaten Sambas, Musanif kepada Suara Pemred. Selasa (6/2). 

Pernyataan itu disampaikannya berdasar hasil pemantauan harga kebutuhan pokok dan barang penting lainnya di Pasar Sambas. 

"Dari pemantauan kami di Pasar Sambas, misalnya, dibandingkan harga sebelumnya, sejumlah bahan kebutuhan pokok harganya naik, namun ada juga yang turun," kata Musanif.

Barang-barang yang mengalami kenaikan yakni harga beras jenis lokal. Sebelumnya Rp9 ribu per kilogram, tapi sekarang Rp10 ribu. Kemudian untuk jenis premium, sebelumnya Rp13.500 kini Rp14 ribu.

Sedangkan untuk kedelai impor, mengalami penurunan harga yang sebelumnya Rp8.500 sekarang Rp8 ribu. Sementara kedelai lokal tetap Rp7 ribu.

Selain itu, komoditi cabai besar juga mengalami penurunan. Sebelumnya Rp50 ribu, sekarang Rp40 ribu. Cabai rawit merah sebelumnya Rp60 ribu sekarang Rp50 ribu. Begitu juga dengan harga cabai kering, sebelumnya Rp44 ribu sekarang Rp40 ribu.

Penurunan harga juga terjadi pada komoditas bawang putih, sebelumnya Rp22 ribu, sekarang Rp20 ribu. Untuk harga bawang merah justru sebaliknya, mengalami kenaikan dari Rp11 ribu menjadi Rp12 ribu.

Kenaikan harga juga dialami gula pasir, dimana Rp12 ribu sekarang Rp12.500. Semantara harga minyak goreng, untuk jenis curah mengalami kenaikan harga dari Rp11 ribu sekarang Rp12 ribu. 

"Namun untuk minyak goreng kemasan, justru mengalami penurunan harga, dimana sebelumnya Rp16 ribu menjadi Rp15 ribu," pungkas Musanif.
Pasar Murah

Sementara Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Barat menyatakan harga sejumlah komoditas dan kebutuhan pokok masyarakat masih stabil menjelang Imlek 2018.

"Dari pantauan kita di sejumlah pasar yang ada di Kalbar dan dari laporan dinas terkait di daerah, kondisi sembako dan komoditas lainnya sampai saat ini masih stabil dan belum mengalami kenaikan," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Barat, Muhammad Ridwan di Pontianak, Selasa (6/2).

Untuk mengantisipasi naiknya harga sembako, pihaknya akan menurunkan petugas untuk terus melakukan pemantauan di lapangan secara lebih intensif dan memperbarui informasi tentang harga setiap harinya.

Jika ada kenaikan yang signifikan, Dinas Perindag Kalbar akan melakukan tindakan intervensi agar harga sembako tetap stabil.

"Seperti pada perayaan hari besar keagamaan lainnya, kita juga akan membuka pasar murah Imlek nantinya. Ini menjadi agenda tahunan kita dan dilaksanakan setiap menjelang hari besar keagamaan," tutur Ridwan.

Pasar murah tersebut, kata Ridwan, juga dilakukan untuk menekan kenaikan harga sembako di tengah masyarakat.

Pihaknya akan bekerjasama dengan sejumlah pihak terkait, termasuk Bulog dan Dinas Peternakan, serta pihak lainnya untuk membuka pasar murah tersebut.

"Ini sudah kita bahas bersama. Hanya saja, untuk titiknya di mana saja, kita belum menentukan dan masih akan dibahas nanti," kata Ridwan.

Ia menjelaskan bahwa pasar murah Imlek tersebut akan dibuka di daerah yang mayoritas masyarakat keturunan Tiong Hoa dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.

"Hal ini kita lakukan untuk membantu masyarakat untuk mendapatkan sembako dengan harga murah," tutur Ridwan.

Sementara Tokoh Pemuda Sambas, Denny Firmansyah berharap masyarakat, terutama etnis Tionghoa untuk tidak panik dengan memborong komoditas, padahal melebihi kebutuhan harian. 

“Yang menyebabkan harga naik itu salah satunya warga panik dengan memborong stok pangan khawatir kehabisan. Padahal jika berbelanja normal, tidak akan ada kelangkaan komoditas yang menjadi sebab harga naik,” kata Denny. 

Tak kalah pentingya yaitu Pemkab Sambas melalui dinas terkait harus mengawasi distributor atau gudang komoditas. Oknum-oknum distributor nakal biasanya memanfaatkan jelang perayaan budaya etnis, seperti Imlek, dengan cara menimbun komoditas. 

“Kelangkaan pun terjadi dan harga naik. Untuk menghindari ini, pemerintah daerah dan aparat hukum harus bersinergi melakukan pengawasan ketat. Jangan sampai harga tak stabil,” pungkas Denny.

Jaga Stok Komoditas


Tokoh masyarakat Sambas, Kamarudin mengatakan, menjaga stok komoditas jelang Imlek perlu dilakukan.

"Meskipun teman- teman kita yang merayakan Imlek tidak sebanyak pada saat perayaan  hari raya Idul Fitri, Idul Adha dan Natal serta tahun baru, namun memastikan stok aman juga perlu dilakukan. Sebab, beberapa komoditas tetap diperlukan untuk perayaan ini," kata Kamarudin.

Dikatakan bahwa masyarakat terbiasa saling kunjung mengunjungi. Meski saat perayaan Imlek, kehangatan tersebut membuat teman, sahabat yang merayakannya turut menghidangkan berbagai makanan seperti kue lapis, kue kering dan lain-lain. 

“Karena itu pula harga komoditas sebagai bahan dasar kue tersebut tidak boleh melonjak drastis," kata Kamarudin. 

Tak hanya itu, karena kebanyakan pedagang sembako di Kabupaten Sambas adalah Tionghoa, maka pemerintah harus turun mengontrol harga saat mereka sedang merayakan Imlek.

"Jadi akan ada fenomena pasar sepi karena toko banyak tutup. Nah, ini yang mesti juga diperhatikan bagaimana memastikan keberadaan bahan pokok yang diperlukan di pasar yang masih buka agar tidak turut naik. Peran pemerintah di situ," pungkas Kamarudin. (noi/bah)