Kisah Perjuangan Guru Sambas Tapaki Lereng Gunung untuk Pergi Mengajar

Sambas

Editor K Balasa Dibaca : 346

Kisah Perjuangan Guru Sambas Tapaki Lereng Gunung untuk Pergi Mengajar
Ketiga guru Sambas yang berjuang menuju sekolah tempatnya mengajar. (SP/Nurhadi)
SAMBAS, SP - Tiga guru perempuan di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas ini patut diapresiasi setinggi-tingginya. Mengajar di daerah terpencil, dekat dengan perbatasan Indonesia dan Malaysia, berjibaku dengan lumpur dan buaya demi memberikan pendidikan bagi anak-anak bangsa.

"Kami bertiga, saya, ibu Titin dan ibu Siti, setiap hari pulang pergi dari Desa Sebubus Kecamatan Paloh untuk mengajar di SDN 18 Desa Sungai Dungun Kecamatan Paloh, kondisi jalannya tak terbayangkan,"ujar Rubiah (34) mewakili teman-teman seperjuangannya, Rabu (7/2).

Begitu beratnya medan yang mesti dilewati oleh ketiga guru perempuan ini, sama sekali tak menciutkan semangat mereka untuk memberikan pengajaran bagi siswanya, setiap hari.

Menyadari kewajiban mereka yang tak bisa ditinggalkan dan diabaikan karena kondisi tersebut, Rubiah dan kedua temannya mengambil inisiatif melewati jalan lereng gunung.

"Kami harus tetap mengajar, bagaimana pun caranya, kami memutuskan untuk melewati jalan alternatif yang terletak di kaki bukit, sedikit lebih baik dan bisa dilewati, meskipun jalan tersebut juga terkadang becek dan banjir," tuturnya.

Opsi menginap juga pernah dipertimbangkan ketiga Srikandi ini, namun ketiadaan tempat untuk bermalam membuat mereka mengurungkan niat tersebut.

Segala sesuatu memang terdapat resiko yang mesti ditempuh, demikian juga jalan yang dipilih oleh Rubiah, Titin dan Siti ini.

"Ada teman yang sampai keguguran," ucap Rubiah singkat.

Ternyata apa yang dialami ketiga Guru luar biasa ini, juga dirasakan oleh beberapa siswa mereka.

"Siswa kita juga ada yang harus menempuh jalan yang sama, kemarin ada yang jatuh ke sungai," terangnya.

Kondisi yang dirasakan oleh tiga guru ini sudah berlangsung sejak tujuh tahun silam, sedari awal pengabdian mereka sebagai guru di SD 18 Desa Sungai Dungun tersebut.

Keadaan tersebut juga sudah pernah mereka adukan kepada pemerintah, berharap agar ada perbaikan berarti terhadap jalur jalan yang mereka lewati, namun apa dinaya, tak ada kabar baik yang menjadi jawaban mereka.

Kendati demikian, ketiga guru ini tak menyerah, semakin cepat sampai di sekolah, semakin cepat pula mereka bisa memberikan pendidikan kepada siswanya. Mereka pun patungan untuk sekedar memperbaiki sedikit jalan tersebut. (noi)