Hairiah Semangati Korban Pencabulan, Orangtua Diingatkan Awasi Aktivitas dan Teman Anak

Sambas

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 139

Hairiah Semangati Korban Pencabulan, Orangtua Diingatkan Awasi Aktivitas dan Teman Anak
BERIKAN TAS SEKOLAH - Wakil Bupati Sambas, Hairiah memberikan tas sekolah kepada korban pelecehan seksual anak di bawah umur yang masih berusai tujuh tahun di Desa Bukit Mulya, Kecamatan Subah, Kabupaten Sambas, kemarin. (SP/Kinoi)
Wakil Bupati Sambas, Hairiah 
"Kita sebagai orang tua harus memperhatikan anak–anak, siapa teman bermain, dimana saja dia bermain, harus selalu kita awasi. Sebab, pelaku kejahatan seperti pelecehan seks anak di bawah umur biasanya pelakunya orang-orang terdekat."

SAMBAS, SP - Wakil Bupati Sambas, Hairiah mengunjungi korban pelecehan seksual anak di bawah umur yang masih berusai tujuh tahun di Desa Bukit Mulya, Kecamatan Subah, Kabupaten Sambas.

Hairiah memberikan tas sekolah kepada korban, guna memberikan semangat agar korban tetap mau sekolah. Kunjungan itu untuk menghibur dan mengurangi dampak psikologis terhadap korban. 

Dalam kunjungan tersebut, Hairiah didampingi oleh Camat Subah, Sugiarto, Kapolsek Subah, Iptu Dedeh Hasanudin, pejabat Perlindungan Anak dan Perempuan Kabupaten Sambas serta pejabat Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Sambas.

Hairiah mengungkapkan, anak- anak harus tetap dalam pengawasan orang tua demi menghindari kemungkinan kejahatan, seperti pelecehan seksual dan tindak asusila terhadap anak.

"Kita sebagai orang tua harus memperhatikan anak–anak, siapa teman bermain, dimana saja dia bermain, harus selalu kita awasi. Sebab, pelaku kejahatan seperti pelecehan seks anak di bawah umur biasanya pelakunya orang-orang terdekat," ungkap Hairiah, Selasa (6/3).

Hairiah menjelaskan, untuk membedakan seseorang yang berpotensi menjadi pelaku kejahatan seksual juga sangat sulit. Oleh karena itu, peningkatan pengawasan menjadi kunci.

"Pelaku sulit dideteksi karena pelaku ini tidak harus berpenampilan layaknya preman atau penjahat, bertato atau berwajah sangar,” ungkap Hairiah.

Kesulitan mendeteksi pelaku kejahatan terbukti lewat kejadian pelecehan seksual yang dilakukan seseorang yang memakai kedok guru ngaji. 
"Seperti pada kasus kali ini, pelaku bahkan berkedok guru TPA yang mengajar anak–anak untuk belajar mengaji. Pelaku juga pendatang yang baru dua bulan berdomisili di Kecamatan Subah," kata Hairiah.

Secara terus-menerus, Hairiah menekankan agar kasus tersebut menjadi pelajaran bagi orang tua agar lebih berhati-hati.

"Kita sebagai orang tua memang harus berhati-hati dan selalu memperhatikan dimana dan siapa teman anak kita, mengingat kejahatan peleceahan seksual ini sering terjadi dan yang menjadi korban adalah anak-anak di bawah umur. Pelaku saya harap dihukum seberat-beratnya," tegas Hairiah.
Sebelum pamit, Hairiah berpesan kepada orang tua korban agar selalu diperhatikan, diajak bermain supaya dapat menghilangkan traumanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, berkedok sebagai guru ngaji, AY (23) mencabuli korban di masjid desa setempat pada Januari 2018 sekitar pukul 16.00 WIB. AY ditangkap polisi Polsek Subah pada Rabu (28/2) pukul 16.00 WIB.

Kejadian ini terungkap setelah korban mengeluhkan sakit kepada ibunya. Kemudian korban diperiksakan ke dokter.

"Awalnya korban mengeluh merasakan sakit di bagian alat kelaminnya dan sifat serta kelakuannya menjadi lebih tertutup terhadap keluarga serta teman-temannya," kata Kapolsek Subah, Iptu Dedeh Hasanudin, beberapa waktu lalu.

Dari hasil pemeriksaan dokter di Puskesmas Satai, korban mengalami luka pada bagian alat vitalnya. 

"Atas hal tersebut, ibu korban kemudian menanyakan kepada anaknya apa yang telah terjadi. Dari pengakuan anak atau korban ini, diketahui telah terjadi tindakan pencabulan terhadap korban oleh terlapor," jelas Dedeh. (noi/bah)

Sidebar
Hukum Berat Pelaku 
Tokoh Pemuda Sambas, Zainuri meminta pelaku dihukum seberat-beratnya. 

"Tentu saja kita sedih kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur lagi-lagi terjadi di bumi Sambas. Korban masih mengalami trauma. Maka dari itu, pelaku harus dihukum seberat-beratnya,” tegas Zainuri.

Zainuri mengatakan, meski dhukum seberat-beratnya, kesedihan korban tak akan berbalas. Setidaknya lewat hukuman yang berat itu sebagai alarm keras bagi orang-orang untuk tidak bertindak serupa. 

"Mohon kepada orangtua untuk mengawasi anaknya. Siapa dan tempatnya bermain. Semuanya harus diketahui oleh orangtua agar terhindar dari tindakan kejahatan,” pungkas Zainuri. (noi/bah)