149 Warga Terima Bantuan PKH , Disalurkan untuk Kebutuhan Pendidikan dan Kesehatan

Sambas

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 125

149 Warga Terima Bantuan PKH , Disalurkan untuk Kebutuhan Pendidikan dan Kesehatan
TUNJUKKAN KKS – Sejumlah warga Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas peberima bantuan PKH menunjukkan buku tabungan dan KKS, kemarin. Bantuan itu mestinya disalurkan pada 2017, namun terkendala teknis dalam pembentukan kode cabang pada nomor rekening. (SP/
Penerima bantuan, Sugiarti
"Kami sangat senang karena hak kami yang sempat tertunda lebih dari setahun, bisa diambil dan dicairkan. Terima kasih Pak Menteri Sosial dan terima kasih BRI dan juga kepada petugas PKH Kabupaten Sambas"

SAMBAS, SP - Sebanyak 149 warga Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Kecamatan Tekarang akhirnya menerima bantuan Program Keluarga harapan (PKH), kemarin.

Penyerahan ini sempat tertunda karena berdasarkan jadwal penerimaan, seharusnya dilakukan pada 2017 lalu. 

Penyerahan bantuan PKH Kecamatan Tekarang ini berupa buku tabungan dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Ratusan warga pun berkumpul di kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Sentebang untuk mengambil bantuan itu. 

Koordinator PKH Kabupaten Sambas, Wahyudi senang 149 KPM menerima bantuan PKH. 

"Kami dari pendamping sosial PKH dan petugas bantuan sosial BRI turun langsung membantu  masyarakat yang ingin menerima bantuan  tersebut. Setelah ini mereka bisa langsung melakukan transaksi penarikan uang di ATM maupun teller," kata Wahyudi.

Ditanya sebab penyerahan bantuan molor, Wahyudi mengatakan karena kendala teknis dalam pembentukan kode cabang pada nomor rekening, sehingga buku tabungan dan KKS  tidak bisa disalurkan tepat waktu.

“Kami sangat lega dengan tuntasnya masalah ini. Terima kasih buat Kementerian Sosial RI dan pihak BRI yang bersama-sama telah sudi memfasilitasi dan menindaklanjuti pengaduan yang kami sampaikan beberapa waktu yang lalu. Sehingga buku tabungan dan KKS bagi 149 KPM PKH bisa disalurkan, meskipun sedikit terlambat," kata Wahyudi.

Satu di antara warga penerima bantuan PKH, Sugiarti mengungkapkan kegembiraannya karena bantuan yang ditunggu-tunggu sejak 2017 akhirnya bisa diterimanya.

“Kami sangat senang karena hak kami yang sempat tertunda lebih dari setahun, bisa diambil dan dicairkan. Terima kasih Pak Menteri Sosial dan terima kasih BRI dan juga kepada petugas PKH Kabupaten Sambas," ungkap Sugiarti.

Bantuan yang telah diterima, kata Sugiarti, akan dipergunakan untuk keperluan pendidikan dan kesehatan anak-anaknya.

"Bantuan ini akan saya gunakan dengan sebaik-baiknya untuk memperbaiki kehidupan kami, terutama pendidikan dan kesehatan anak-anak," pungkas Sugiarti. 

Pada akhir 2017 lalu, saat Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa memantau pencairan bansos PKH di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, mengatakan, total bansos PKH yang diterima setiap KPM adalah Rp1.890.000 per tahun yang cair sebanyak empat kali. 

Jumlah penerima PKH pada tahun 2017 untuk Provinsi Kalimantan Barat adalah 82.463 KPM. Pada tahun 2018, jumlah untuk Kalimantan Barat akan ditambah sebanyak 138.055 KPM sehingga tahun depan sebanyak 220. 518 KPM di Kalimantan Barat akan menerima PKH.

Mensos mengakui proses pencairan bansos dari yang sebelumnya tunai melalui PT Pos dan secara bertahap berubah menjadi non tunai tentunya memerlukan proses.

Apalagi, ia menilai tahun ini jumlah peserta PKH meningkat dari tahun lalu 3,5 juta KPM menjadi 6 juta KPM sehingga perlu waktu untuk penyiapan infrastruktur, sosialisasi kepada KPM, dan penyiapan SDM perbankan.

Mensos menegaskan percepatan pencairan bansos PKH harus dipastikan tuntas karena tujuan PKH adalah untuk meningkatkan daya beli masyarakat, membantu anak-anak mendapat gizi yang baik, serta meringankan biaya pendidikan anak-anak. (noi/kon/bah)

Gunakan Sesuai Peruntukan


Tokoh Pemuda Sambas, Firman Zarkasyi berharap para penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) bisa menjaga peruntukan dan pemanfaatannya. Sehingga dana yang digulirkan pemerintah melalui program ini bisa digunakan dengan baik.

“Pemanfaatan PKH harus sesuai dengan peruntukannya seperti untuk membeli susu, telur dan ikan sebagai sumber protein anak atau untuk menunjang biaya pendidikan anak,” kata Firman.

Pemanfaatan PKH yang digelontorkan harus sesuai semangat yang diusungnya yaitu untuk membantu keluarga memenuhi kebutuhan sekolah. 

“Para orangtua jangan sampai khilaf, memanfaatkan bantuan PKH untuk membeli di luar kebutuhan kesehatan keluarga dan pendidikan anak. Kita sudah berdosa jika sembarangan menggunakan dana PKH itu. Maka, setiap keluarga harus amanah,” pungkas Firman. (noi/bah)